
Hari pertama, bersama Papa dan Mama Kartika. Herdilan benar-benar merasa bahagia. Dilayani istri dan dihargai mertua.
Papa Mama Kartika menganggapnya seperti anak mereka sendiri. Bahkan memperlakukan Delan melebihi putri kandung mereka sendiri.
"Tika, ini sudah jam sebelas lho! Suamimu gak dibuatkan kopi? Kamu masaknya sudah selesai belum? Jangan sampai suamimu telat makan siang. Harus jadi istri yang bisa mengurus suami!"
Begitu celotehan mereka menegur dan menasehati Kartika.
"Iya, Ma! Tenang, Pa! Abang Herdilan bukan orang yang ribet dalam urusan makanan. Hehehe..."
"Justru karena suamimu orang yang baik, bukan berarti kamu santai dan tidak memperhatikan kewajiban!"
"Iya, Pa, iya!"
Tinggal dengan orangtua memang ada poin plus minusnya.
Plusnya, secara tidak langsung kita didik untuk disiplin dan terus mengingat tugas dan kewajiban masing-masing karena pastinya akan selalu mendapatkan teguran dari orangtua.
Minusnya, orangtua jadi tahu rahasia dapur kita karena 24 jam tinggal bersama kita.
"Tik, kalian... belum melakukan itu ya?" tanya Mama dengan suara berbisik.
"Apaan sih, Ma?"
"Ituuu... ish, masa' iya? Kamu gak ngasih Herdilan ya?"
"Apaan sih? Mama nih, koq aku kesannya jadi terdakwa lho ini!? Hihihi..."
"Ya emang itu sudah kewajiban suami istri, Tika Sayang!"
"Mama ih! Tika gak mau bahas itu. Maluuu...!!!"
Kartika merasa dikuliti dengan pertanyaan sang Mama yang kepo maksimal.
"Suamimu itu gak berani maksa? Atau kamu yang terlalu pemalu sampai gak menawarkan diri lebih dulu?"
"Mamaaa...!"
Herdilan dan Papa yang baru masuk kedalam rumah setelah tadi sibuk mengotak-atik motor Pak Fajar jadi bertanya.
"Ada apa, Ma, Tika?"
"Kenapa, Yang?"
"Engga'!" jawab Tika dan Mamanya kompak.
Kedua wanita beda generasi itu hanya saling melempar tawa.
Pukul dua belas siang, adzan Dzuhur berkumandang. Papa dan Herdilan pergi ke masjid depan kompleks perumahan. Sementara Kartika dan Mamanya menyiapkan makan siang.
Mereka berdua juga melakukan ibadah lima waktu di kamar masing-masing selepas menata menu makan siang dimeja.
Herdilan dan Pak Fajar pulang kerumah, dan mereka makan siang bersama setelah istri-istri mereka selesai sholat.
Sungguh hari yang indah dan damai.
Membuat bu Fajar tersentil ingin mencoba memenangkan hati sang menantu, agar tetap memilih tinggal bersama seperti ini.
"Bahagia rasanya. Apalagi, kalau kita bisa terus bersama-sama setiap hari seperti ini!"
__ADS_1
"Ma, please...! Jangan buat Nak Herdilan jadi kepikiran lagi. Jangan rusak suasana yang bagus ini!" tegur sang suami mengingatkannya.
Herdilan memang selalu merasa tak enak hati jika mengingat keinginan bu Fajar yang sebenarnya adalah suatu kewajaran saja.
Tapi bagaimana mungkin ia meninggalkan pekerjaan yang baru dimulainya.
Banyak uang yang sudah digelontorkan saudaranya, yakni Fika dan suami.
Ia tak ingin mengecewakan semuanya. Setelah begitu banyak pengorbanan yang telah saudaranya berikan pada kebaikan hidupnya kini.
Kartika lebih memilih diam. Dia cenderung pasif ketika menanggapi sikap Mamanya yang mulai sedikit agresif, meminta Herdilan untuk stay di Ibukota dan menetap bersama mereka.
"Ma...! Boleh Herdilan menceritakan sesuatu?"
Herdilan ingin sekali memberikan ibu mertuanya pengertian.
"Silakan, Nak! Mama akan senang mendengarnya!"
"Keluarga kami...dulunya tidak seperti ini. Kami tidak akrab satu sama lain. Bahkan, tidak saling mengenal. Namun, karena mukjizat Allah Ta'ala... kami kini bisa berjalan seiringan bersama-sama. Saling dukung dan saling support!"
"Alhamdulillah, ya?!"
"Begitulah, Ma!... Saya adalah anak yang paling miris hidupnya. Selain karena terlalu keras kepala, hingga banyak melakukan kesalahan di masa muda... membuat para saudara ikut prihatin dan membantu keuangan Saya. Yaitu tadi, membantu membangun bengkel kecil di negara Singapura."
"Kenapa membangunnya di Singapura? Bukan di Indonesia? Dan kalau hanya bengkel kecil, bisa khan pindah ke kota Jakarta saja, Nak?"
"Mama...! Bukan bengkel kecil seperti yang Mama bayangkan!" Kartika mulai kesal.
Namun Herdilan segera menenangkannya dengan bahasa sandi kedipan mata agar Kartika bersabar.
"Saudara Saya bersama suaminya memberi bantuan modal untuk usaha baru saya. Untuk itu, saya tidak bisa seenaknya memutus kerja sama diantara kami, Ma! Kecuali, Saya sanggup mengembalikan modal awal dan pindah usaha ke Jakarta."
"Hm..., malu, Ma! Hutang saya besar pada mereka! Hehehe..."
"Iya, berapa Nak?"
"Dua juta dollar Singapura."
Pak Fajar dan Kartika seketika pucat pasi wajahnya.
"Dua juta? Modal usahanya?"
"Dollar, Ma! Dua juta dollar Singapura. Satu dollar itu kursnya sepuluh ribu rupiah lebih!"
Bu Fajar mendongak. Kaget mendengar penuturan sang putri.
"Usaha bengkel, 20 miliaran?"
Herdilan hanya bisa tertawa kecil.
"Bengkel mural, Ma!" katanya singkat saja.
"Ma... Bisakah kita tidak bahas masalah ini dulu? Please..." Kini Kartika yang berusaha memberi penjelasan.
"Ma! Herdilan mohon dukungan penuh Mama, Papa juga Nona Kartika. Usaha ini baru berjalan beberapa bulan. Selain sedang tahap pengembangan, Saya juga sedang melobi banyak rekan bisnis. Mohon doanya untuk kelancaran usaha Herdilan, Ma Pa! Kartika tidak akan Saya bawa ke Singapura, jika Mama Papa tidak mengizinkan. Saya akan berusaha keras mencari nafkah serta menjalani kewajiban sebagai seorang suami. Saya janji, dua bulan sekali akan pulang ke sini untuk bertemu istri saya. Saya minta waktu setahun sampai dua tahun, Ma Pa! Bolehkah saya memohon doa tulus Mama untuk usaha saya?"
Kartika menaruh sendok makannya.
Wajahnya kaku dan bibirnya agak bergetar.
__ADS_1
"Bisakah kalian membiarkan Tika bahagia sehari saja tanpa harus membicarakan hal-hal yang bikin Tika sedih?"
Kartika lepas kontrol. Ia berdiri sambil memandangi wajah Mamanya. Lalu masuk kedalam kamarnya dengan tangisan yang tertahan.
"Kartika!!!" pekik sang Mama.
"Mama sih! Khan sudah Papa bilang, jangan ngomongin masalah sensitif itu dulu! Pernikahan putri kita baru satu hari!"
Herdilan tertunduk, merasa bersalah.
"Kartika hanya kecapean saja, Ma Pa! Jadi tindakannya sedikit impulsif seperti itu. Nanti juga akan baikan koq! Herdilan akan memberinya pengertian!"
Ia melangkah meninggalkan meja makan menuju kamar untuk membujuk Kartika.
Tok tok tok
"Nona! Boleh Abang masuk?"
Tiada jawaban.
"Abang tidak akan masuk kalau tak ada izin dari Nona!"
Kartika membuka pintu kamarnya. Ia segera menarik tangan Herdilan sehingga tubuh sang suami masuk ke dalam kamar.
Seketika tubuh itu dipeluknya erat dengan wajah tersungkur didada Herdilan, basah air mata.
"Maafin Mama ya, Bang! Hik hiks...! Mamaku itu memang seperti itu orangnya. Gak sabaran dan agak susah dikasih pengertian! Hik hiks..."
Herdilan membelai lembut punggung Kartika. Ia hanya diam tak berkata apa-apa. Sengaja memberi Kartika kesempatan untuk menenangkan diri.
Ia sudah cukup mengambil pelajaran pengalaman para saudara lelakinya dalam menangani istri-istri mereka ketika sedang merajuk.
"Sudah tenang sekarang, khan Nona?"
Kartika yang merasa lebih baik karena telah mengeluarkan unek-unek serta air matanya mengangguk pelan.
Herdilan menuntun istrinya. Mereka duduk berdampingan di sisi tepi ranjang tidur kamar. Jemari Herdilan masih mengusap lembut punggung dan kini naik ke kepala Kartika yang tertutup pasmina.
"Sayang!... Tidak baik berkata kasar seperti tadi pada orangtua. Bukan menyelesaikan masalah, tapi justru semakin membuat runyam masalah. Janji, mari kita lebih menahan amarah dengan rasa sabar. Ya?"
"Tapi Mama memang sudah keterlaluan! Papa sendiri sampai kewalahan. Abang liat sendiri khan tadi?"
"Abang dulu juga seperti kamu. Emosian dan seringkali lepas kontrol. Tapi... kini Abang menyesal. Apalagi setelah Mama tiada. Hhh... Hanya bisa menyesal di akhir cerita."
Kartika menunduk. Herdilan memegang kedua belah pipi sang istri.
"Tolong bantu aku, Sayang! Kalau kamu saja bisa seemosi itu sama Mama, bagaimana aku bisa menjelaskan lebih sabar lagi nantinya... tanpa dukungan support kamu, Yang?"
Jatuh lagi airmata di pipi Kartika.
Ia menggelengkan kepala.
"Aku gak mau tinggal terpisah dari Abang! Aku... akan selalu ikut Abang, kemanapun Abang pergi. Abang harus bisa menerimaku, baik burukku. Dan aku pasti akan selalu ada disisi Abang sampai kapanpun! Hiks..."
Keduanya berpelukan erat. Dengan Kartika yang menangis meluapkan semua perasaannya yang jatuh cinta pada sang suami.
Masalah itu kembali mencuat lagi. Perihal tempat tinggal yang nantinya akan mereka pilih. Selalu jadi pikiran Bu Fajar di hari-hari tenangnya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1