PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 87 Krang Kring Sana Sini


__ADS_3

Treeet... treeet... treeet


Seperti yang sudah kak Jo dan aku perkirakan, pastinya keputusanku ini akan membawa banyak dampak.


Salah satunya ialah akan tidak tenangnya hidupku.


Papa Bambang menelponku setelah satu jam kemudian. Beliau sangat kaget dengan langkah yang kuambil. Termasuk 'langkah berani' membuat akta cerai tanpa kompromi keluarga lebih dulu termasuk beliau.


Untuk menjawab pertanyaan beliau, hanya isak tangis saja yang bisa kukeluarkan. Kujawab, kalau aku tak sanggup di poligami.


Papa Bambang akhirnya hanya menghela nafas panjang. Tak lama kemudian izin menutup telponnya.


Lepas dari papa Bambang, Herdilan yang langsung membombardirku dengan kata-kata ketidakpuasannya. Ia marah besar karena aku mengumumkan perceraian kami yang sebenarnya belum final sebab belum ia tandatangani itu ke publik.


Aku tak menjawab semua ucapannya. Silent lebih baik daripada meladeni si pria bajingan macam dirinya.


Tak lama kemudian Ira juga menelepon, tapi hanya sebentar karena Mama Tasya terus-terusan menyela sambungan teleponku dengan Ira hingga akhirnya aku mencoba mengangkat panggilannya.


...[Viona!!! Apa yang sudah kamu perbuat??? Kamu tidak berfikir dulu dengan jernih! Ini pastinya akan membawa dampak buruk bagi PH Mama, Vio! Kamu ini benar-benar mengecewakan!!!]...


Shiit!!! Perempuan hebat ini malah memakiku secara tidak langsung! Dasar!! Harusnya dia yang banyak-banyak berfikir jernih. Bukan aku!!!


Lagi-lagi aku hanya diam. Hanya menangis terisak tanpa kata jawaban. Hari ini aku adalah aktrisnya.


Bahkan berita perceraianku dengan CEO sekaligus anak mantan artis dan pemilik Production House Pesona Tasya Jessica yang fenomenal itu menjadi viral untuk sehari itu.


Namun yang tak habis fikir menurutku, adalah postingan IG sang model talent yang namanya sengaja kuseret juga. Semoga namamu melambung tinggi menjadi artis pelakor terpopuler, Jelita Lara. Ini doa baikku untukmu, hei wanita dajjal!


Si Lady Gagak itu sangat senang sepertinya. Bahkan kini dengan terang-terangan memposting fotonya sesama pasangan 'bangs*t dan bajing*n'.


Terlihat enjoynya pose mereka berdua yang baru menikmati hari ulang tahun sang Lady.



Ya Tuhan! Benar-benar pasangan serasi! Sepasang bangsat dan bajingan!


Rupanya perempuan murahan itu benar-benar menunggu momen ini. Dan langkahku sudah pasti membuatnya bersorak kegirangan. Karena kini hanya dialah istri Herdilan seorang.


Aku yang menyerah kalah.

__ADS_1


Benarkah? Apa langkahku ini bukanlah suatu hukuman?


Apa justru sikap yang kuambil ini malah akan menjadi keuntungan besar untuk mereka?


Kenapa barusan si Herdilan justru marah-marah padaku di telepon? Sedangkan istri mudanya malah memperlihatkan keromantisan mereka berdua ke publik. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ia kesalkan! Dasar bajingan tengik!


Pukul dua belas siang aku kembali ke rumah kak Jo.


Bibi Tini telah menyiapkan makan siang menu sehat yang banyak untukku atas perintah kak Jo.


"Makan yang banyak ya, Nona! Tuan Besar sudah menyuruh saya masak yang sehat dan enak. Semoga masakan saya tidak mengecewakan Nona!"


"Saya jadi merasa tidak enak hati, Bi!"


"Jangan sungkan-sungkan, Non! Bibi senang sekali akhirnya kemampuan memasak bibi bisa diperlihatkan pada seseorang yang spesial bagi Tuan Besar!"


"Uhuk uhuk..."


"Minum dulu, Non! Maaf... kata-kata saya buat Non jadi tidak nyaman!"


Aku tersipu dengan wajah merah merona.


Jujur aku butuh sekali 'bahu'nya. Yang bisa kujadikan sandaran untuk tumpahan air mataku yang banjir mengalir.


Aku tak siap untuk semua ini. Pengalaman hidupku sangatlah sedikit. Berkat saran serta supportnya, aku berhasil melewati semua. Bahkan dengan sisa-sisa ketegaran yang nyaris saja punah dengan nyawaku juga.


Andaikan Tuhan tak mempertemukanku dengan kak Jo, mungkin saat ini aku hanyalah arwah gentayangan saja. Yang wara-wiri di dunia karena memendam dendam kesumat.


Hhh... Ampuni semua dosaku ya Tuhan!


"Nona,... dokter Lena sudah datang!"


Aku terkesiap. Setengah jam di meja makan hanya melamun memikirkan kisah hidupku yang miris.


"Tolong ajak dokter Lena makan bersama, Bi!"


Bibi Tini mengangguk. Dokter Lena sebenarnya telah beliau kenal cukup lama. Bahkan jauh sebelum aku ada di sini. Tapi ternyata beliau menghargaiku dengan sangat tinggi, membuatku tersanjung juga seperti Nyonya rumah yang sebenarnya.


"Selamat siang, Viona!"

__ADS_1


"Dokter Lena! Ayo makan bersama!"


Kami saling berjabat tangan dan berangkulan erat. Dokter cantik itu sangat baik. Dia ternyata benar-benar tulus orangnya, karena terlihat begitu baik meski kak Jo tidak ada.


"Aku sudah dengar sepak terjangmu hari ini! Hehehe... Ibu hamil yang luar biasa! Bahkan wajahmu jadi terkenal melebihi dari perempuan perebut suamimu itu, Viona!"


Dokter Lena tersenyum lebar. Membuatku ikut tertawa kecil.



"Hhh... Sejujurnya saya gak ingin mengadakan konferensi pers. Tapi..., Kak Jo justru memberikan saya motivasi dan keberanian! Akhirnya,... ya gitu deh, Dok! Hehehe..."


"Kak Jodes ya begitulah dia! Untuk sesuatu yang ia yakini benar, jalannya pasti terkabul. Aku sendiri salut sama kakakku yang satu itu!"


Kami berbincang di depan meja makan.


Dokter Lena ikut menemaniku makan meski hanya makan salad buah saja. Ia sudah makan berat katanya sebelum kemari.


"Dokter... Boleh saya tanya?"


"Tanyalah!" jawab dokter Lena membuatku tersenyum malu-malu.


"Dokter masih kerabat kak Jo kah?"


"Sebenarnya tidak. Tapi kak Jo adalah orang yang menyekolahkan saya di fakultas Kedokteran Spesialis Kandungan."


"Jadi..., memang kak Jo itu baik pada semua orang ya Dok?!"


"Kata siapa? Hehehe... Dia juga ada adat jeleknya!"


Dokter Lena menertawai pertanyaanku.


"Kak Jo orang baik, Viona! Tapi hati-hati jika kamu menyakiti hatinya! Dia bisa berubah jadi orang kejam! Hehehe..."


Iyakah? Tapi aku merasa kalau kak Jonathan adalah pria yang sangat lembut.


"Maaf, Viona! Aku hanya bercanda. Kak Jo memang orang yang baik. Sangat baik malahan, sampai orang-orang yang di tolongnya lebih sering memanfaatkan kebaikannya. Itulah kak Jo! Kuharap kamu bukan termasuk orang yang seperti itu!"


Aku terpaku. Mendengar perkataan dokter Lena dengan sepenuh hati. Dan membenarkan dalam hati. Bahwa kak Jo lebih sering di tipu oleh orang yang ia bantu. Betapa kejamnya dunia.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2