PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 TERBUKANYA HATI SETELAH BERTEMU CUCU BARU


__ADS_3

"Kalian mau kemana? Sudah rapi?"


Mama Kartika terkejut melihat putri dan menantunya keluar dari kamar dengan berpakaian rapi.


"Mama, Kami mau kerumah kakaknya Bang Herdilan! Mungkin pulang agak malam. Jadi kayaknya Tika engga' akan makan dirumah malam ini."


"Oh, baiklah!"


Herdilan merasakan jawaban bu Fajar yang mengandung kesedihan.


"Mama mau ikut? Ayo, Saya tunggu. Kita pergi bersama ke rumah Mas Chris di Pluit!"


"Mama... boleh ikut?"


"Mama? Abang?"


"Ga papa, Yang! Biar Mama tahu semua saudaraku. Jadi Mama tidak akan khawatir nanti-nanti!"


Kartika bingung dan sedikit kesal. Mamanya semakin menyebalkan. Ia takut sang Mama nanti lepas kontrol ditengah keluarga suaminya.


Papanya sedang pergi karena ada urusan pekerjaan. Sehingga sang Mama merasa kesepian sendirian dirumah. Otomatis ajakan sang menantu jadi pengobat hati yang tak disia-siakan.


Setelah berganti pakaian dengan gerak cepat, akhirnya bu Fajar pun telah siap.


Mereka pergi ke rumah Christian pukul lima sore dengan menaiki grabcar. Kendaraan keluarga Herdilan memang dibawa pulang ke rumah Roger karena di kompleks perumahan Kartika tidak ada tempat parkir untuk mobil karena jalan aksesnya yang sangat kecil.


"Papiii..."


"Dzakki! Dzakki, Papi kangen!"


Seketika Kartika dan sang Mama baru teringat, kalau Herdilan memiliki seorang putra yang sudah berusia delapan tahun.


Kedua ayah dan anak itu saling berpelukan. Herdilan menggendong putranya sebentar kemudian menurunkannya lagi untuk memberi salam pada saudara-saudaranya yang lain.


"Pengantin baru, datang!" tutur Fika membuat Kartika tersipu.

__ADS_1


Satu persatu saling menyalami, karena suasana ramai dan keluarga masih libur dan berkumpul semua di rumah baru Christian termasuk Roger, Viona, Dzakki serta baby Elzhar.


Mama Kartika ikut senang, seluruh saudara menantunya menyambut mereka dengan sukacita. Bahkan mantan istri Herdilan pun terlihat ramah pada putrinya.


Bu Fajar sudah mengetahui kisah masa lalu Herdilan yang dulu pernah menikah dengan istri kakak tirinya kini.


Sejujurnya ia tak mau ambil pusing, selama putrinya mendapatkan tempat yang baik dan disayangi Herdilan sepenuh hati, bu Fajar akan berusaha legowo.


Seperti saat ini, ia sendiri menyaksikan keluarga besar sang menantu yang sikap serta sifatnya sangat baik dalam menerima Kartika.


Dalam waktu sekejap, Kartika nyaman berbaur bersama keluarga besar Herdilan. Berbincang santai dan bersenda gurau, dengan sesekali melemparkan bahan candaan membuat bu Fajar turut bahagia.


Kini ia mulai merasa tenang, dan semakin percaya pada suami Kartika. Awal-awal bu Fajar agak takut, kalau Herdilan menikahi Kartika karena ingin status saja.


Ia takut anaknya hanya jadi istri simpanan, istri mainan atau istri pajangan dalam hidup keluarga almarhum Bambang yang penuh dengan kontroversi itu.


Semakin ia mengenal keseluruhan anggota keluarga Herdilan, semakin bu Fajar merasa tenang dan nyaman.


Semuanya ternyata baik. Bahkan... putra tiri Kartika juga begitu baik. Padahal bocah lelaki ini baru delapan tahun usianya. Tetapi pembawaannya sudah sangat dewasa. Luar biasa!


Dzakki menggenggam jemari bu Fajar seraya berkata, "Nenek! Sini, Nek... Dzakki mau kenalkan pada sepupu-sepupu Dzakki!"


"Kak Verrel, kak Velli...! Abang Dirga! Salim dulu sama neneknya Dzakki dong!"


"Waaah, Dzakki sekarang punya Nenek! Senangnya, ya Dzakki!" jawab Verrel sembari mencium punggung lengan Bu Fajar.


"Kak Verrel juga boleh koq panggil nenek sama neneknya Dzakki! Iya khan, Nek?"


"I-iya dong! Panggil nenek saja, sama seperti Dzakki!" tutur bu Fajar dengan terbata-bata karena rasa haru yang mendalam.


"Nenek Dzakki cantik. Pantas Mamanya Dzakki juga cantik. Hehehe..." kata Velli.


"Iya!" Dirga mengangguk-angguk sambil mencium punggung lengan Bu Fajar.


"Hehehe... Iya! Mama Kartika sangat cantik karena Nenek cantik."

__ADS_1


Bu Fajar tertawa. Ia malu hati, bisa-bisanya ia ge'er mendengar celotehan para bocah yang manis-manis itu.


"Tapi... kayaknya Nenek takut sedih ya, karena sebentar lagi Mama Kartika bakalan ikut Papi ke Singapura?"


Bu Fajar termangu. Bibirnya menganga sedikit mendengar pertanyaan Dzakki yang tiba-tiba.


Darimana Dzakki tahu aku takut dan sedih? Hm... oiya, aku lupa. Kartika pernah bilang, Dzakki itu anak indigo!


"Nenek, Dzakki boleh sering bertemu Nenek ga?"


Lagi-lagi pertanyaan Dzakki membuat bu Fajar bengong.


"Dzakki tahu, Nenek takut sedih dan kesepian. Nenek punya Dzakki juga sekarang. Nenek bisa meminta Dzakki main ke rumah Nenek kalau mau. Atau, Nenek main saja ke rumah Ayah dan Mami Viona, pasti mereka semang!"


Bu Fajar merasakan genggaman tangan mungil Dzakki yang lembut. Seperti ada aliran tenaga yang hangat memasuki urat nadinya melewati pori-pori serta sel darahnya. Membuat tubuhnya lebih enteng dan hatinya menjadi tenang.


"Dzakki..."


"Ya, Nek?"


"Apa Dzakki sungguh senang karena memiliki Nenek sekarang?"


"Iya. Sejak dulu Dzakki ingin punya Nenek. Dua tahun lalu pernah punya Oma, tapi Oma meninggal dunia."


"Baiklah! Tapi... Nenek ini orangnya cerewet sekali. Suka marah-marah, suka galak. Apa Dzakki mau terima Nenek?"


"Nenek marah-marah sama anak yang nakal khan? Hehehe... Nenek itu baik hati dan penyayang! Dzakki bisa merasakannya koq!"


Bu Fajar langsung merengkuh tubuh Dzakki kedalam pelukannya. Senang sekali dirinya mendapatkan cucu sambung yang pintar luar biasa.


Hari ini, ia telah pasrahkan kehidupan putrinya bersama Herdilan. Jika benar ia harus ditinggal pergi Kartika untuk ikut suaminya ke negeri sebrang, ia akan terima. Ketetapan Allah adalah yang terbaik.


Umurnya sudah banyak. Dan dia merasa sudah cukup waktunya untuk mengurus putri semata wayangnya.


Kartika kini telah mendapatkan kebahagiaan. Dan sudah selayaknya ia turut memberikan doa agar Tika selalu bahagia. Walau harus pergi jauh dari dirinya.

__ADS_1


Kecanggihan teknologi masih bisa menolong kerinduannya dengan menelpon dan video call-an. Kini bu Fajar benar-benar sudah memasrahkan. Dan hatinya kini lebih mantaf serta matang. Mengizinkan putrinya ikut berjuang di negeri sebrang. Mengikuti sang suami yang baru memulai usahanya itu.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2