
Aku senang sekali. Tanpa bersusah payah, aku mendapatkan pekerjaan menjadi guru honorer di TK Rinjani sebagai guru olahraga.
Meskipun tidak sesuai dengan ijazahku sebagai seorang sarjana ekonomi, tapi menjadi guru olahraga anak TK adalah pekerjaan yang kuanggap mudah.
Aku meminta izin pada miss Geraldine untuk dua hari kedepan. Aku harus mencari orang yang mau bekerja menjaga warung kelontongku di rumah.
Setidaknya, warungku tidak terbengkalai dan aku masih bisa menghandlenya juga sebelum Mama pulang.
Kupikir, mengajar tidak butuh waktu seharian pula. Jam kerjaku mulai dari pukul 7 sampai pukul 1 siang saja dari Senin sampai Jum'at. Begitu yang miss Geraldine kata.
Miss Geraldine juga mengantarku berkeliling gedung sekolah. Ruang kelasnya cukup banyak. Terdiri dari enam kelas. Dua kelas playgroup untuk anak usia 4 tahun, dua kelas TK usia 5 tahun, dan dua kelas TK nol besar.
Mataku bersitatap dengan Papanya Dzakki. Ia sedang duduk di teras gedung, taman halaman depan. Kami saling lempar senyum dan mengangguk hormat.
Ternyata anaknya ditunggui. Benar-benar Ayah yang baik! Gumamku dalam hati.
"Supaya anak-anak lebih semangat, saya akan memperkenalkan Bapak pada mereka di kelas. Hehehe..., tak apa saya panggil bapak?"
"Tak apa, Miss! Toh usia saya sudah 31 tahun, juga sudah bapak-bapak!"
"Hehehe..."
Kelas pertama yang disambangi adalah kelas TK nol besar. Seperti yang miss Gerald bilang, anak-anak sangat antusias melihat kedatangan kami. Apalagi setelah memberitahukan kalau aku akan jadi guru olahraga mereka mulai hari Senin lusa.
Kelas demi kelas telah kami datangi, hingga sampailah di kelas playgroup.
Dzakki ternganga melihat kedatanganku. Rupanya ia langsung mengenali meskipun penampilanku telah berubah dari beberapa hari yang lalu.
Aku tersenyum tipis padanya. Lalu mengerjapkan mata. Berharap anak itu tidak berkata apapun dihadapan yang lain terutama depan miss Geraldine.
"Selamat pagi murid-murid kesayangan miss Gerald! Hari ini miss bawa kabar gembira untuk kalian! Perkenalkan... ini Bapak Herdilan Firlando. Boleh kalian panggil pak Ando. Boleh khan, Pak?"
"Oh iya, tentu miss. Panggil saja saya, pak Ando!"
__ADS_1
"Nah, pak Ando ini akan mengajar pelajaran olahraga mulai senin nanti. Ayo ucapkan salam pada pak Ando!"
"Selamat pagi, Pak Andooo...!!!"
Syukurlah, Dzakki ternyata mengerti kerjapan mataku. Ia hanya diam menatapku lama sekali. Mendengarkan keterangan dari miss Gerald dengan seksama, sembari tak lepas menatap wajahku. Mungkin kaget melihatku yang sekarang. Hingga lonceng berbunyi tanda istirahat. Kulihat anak imut itu berlari ke arahku dengan cepat.
"Wow wow, hati-hati, nanti kamu terjatuh!"
"Bapak... Bapak Ando mau mengajar olah raga ya?" tanyanya terdengar manis. Disusul oleh bocah-bocah yang lain yang langsung mengerubutiku.
"Wah, Pak Ando langsung banyak penggemarnya!"
"Oh iya. Saya akan memberikan buku absensi pada pak Ando di kantor. Untuk panduan setiap kelasnya, biar bisa di rekap ulang oleh pak Ando!"
"Baiklah! Bye Dzakki, bye semuanya..."
Aku lupa, hingga beberapa bocah yang mendengar ucapanku langsung kasak-kusuk.
"Dzakki, pak Guru koq bisa tahu namamu?"
Wow, pintarnya bocah itu!
Membuatku mengangguk senang dan puas. Hingga bisa tenang mengikuti miss Gerald dengan tatapan para guru muda yang ada di kelas Dzakki.
"Ini meja kerja Pak Ando! Ini buku absensinya. Silakan Bapak memindahkannya ke buku absensi baru, sebagai pegangan bapak selanjutnya. Maaf, saya harus kembali ke kelas!"
"Baik. Terima kasih banyak, Miss Geraldine!"
Wanita muda itu kemudian meninggalkanku sendiri dengan buku-buku absensi.
Hari pertama, langsung berkutat dengan pena.
Bersyukur sekali, Tuhan Maha Baik padaku. Belum sempat aku berkeliling menawarkan curriculum vitae dan ijazah sarjanaku, di sini aku sudah mendapatkan tempat dan langsung diangkat jadi guru mata pelajaran olahraga.
__ADS_1
Aku bersyukur juga telah merapikan penampilanku lagi. Setidaknya, dandanan yang rapi dan enak dipandang mata membuatku lebih mudah dalam mencari pekerjaan.
Suara teriakan dan tawa keceriaan murid-murid terdengar memekakkan telinga.
Begitulah suasana sekolah Taman Kanak-Kanak. Dan aku harus terbiasa mulai saat ini dengan situasi di tempat kerjaku kini.
Mataku melihat ke arah jendela. Tanpa kuduga, aku melihat pemandangan yang menyejukkan. Dzakki sedang disuapi makan oleh Papanya.
Benar-benar pria yang baik, ayah yang sangat sayang pada anaknya! Tidak seperti aku... Lelaki kurang tanggung jawab pada anak dan istri! Pantas Tuhan menghukumku sampai saat ini!
Hhh...
Anaknya baik, pintar dan imut. Kuyakin kedua orangtuanya adalah orangtua yang hebat karena telah mendidik putranya menjadi anak luar biasa.
Aku sangat terbantu oleh kebaikan hati Dzakki. Dua hari aku mengenalnya, dan bocah itu tak segan-segan membawakanku makanan. Padahal tampangku saat itu cukup menyeramkan. Dengan kumis tebal dan jenggot panjang juga rambut keriting gondrong. Tapi anak itu sama sekali tak takut melihatku.
Kucoba telusuri absensinya.
Dzakki Boy Julian. Nama yang sangat bagus dan manis didengar!
"Ayah, Ayah... Nanti pulang belikan Mami belikan kue cubit yang abang-abang itu jual, ya?"
"Okay, Boy! Apa Mami suka kue cubit?"
"Suka banget. Mami selalu minta oleh-oleh kue cubit setiap Dzakki pulang sekolah!"
"Hah? Hahaha... Dasar Mamimu itu ya!? Anak Ayah khan sekolah, bukan bepergian. Kenapa minta oleh-oleh!"
Hei?!? Kenapa panggilnya Ayah-Mami? Terdengar janggal sekali!
Aku hanya tersenyum kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Ada-ada saja tingkah polah orangtua jaman sekarang!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...