
Hari demi hari berlalu, aku memutuskan pindah rumah setelah mendapatkan rekomendasi rumah kontrakan agar Herdilan tak bisa lagi mengganggu kehidupanku.
Ira yang merekomendasikannya. Wilayahnya juga tak terlalu jauh dari rumah Maminya Ira.
Aku senang, kini bisa tenang dan bernafas lega.
Hanya kak Jo yang kurang setuju karena tempatnya berada di daerah perkampungan. Kendaraan susah parkir, begitu ocehnya.
Ditambah pula aku sedang hamil, dan cukup rawan bagiku tinggal di pemukiman itu kata kak Jonathan.
Tapi justru karena aku sedang hamil, pemukiman padat penduduk membantuku lebih nyaman tinggal. Ada tetangga kiri kanan yang bisa dimintai bantuan, ketika kita sedang mengalami kesusahan.
Beda dengan tinggal di wilayah kompleks perumahan. Dengan tetangga tiada yang saling kenal akrab satu sama lain.
"Vi! Sebaiknya kamu pindah ke rumahku!"
"Kak... Vi takut omongan orang! Status Viona yang seorang janda, dan kakak juga duda! Nanti..."
"Lalu? Apakah itu salah?"
"Aku ini jandanya Delan, ponakan kak Jo! Apa yang akan orang bilang nantinya jika kita tinggal bersama. Orang akan menuding kita kumpul kebo! Menuduh kita berbuat mesum!"
"Kita menikah, setelah kamu lepas masa iddah!"
__ADS_1
"Kak?"
"Seperti yang pernah aku bilang tempo hari! Masih ingatkah, Vio pada ucapanku?" tanyanya agak lembut.
Tentu aku ingat! Tapi aku takut pada mulut jahat orang-orang yang melihat dan mengenal kita! Hiks... Istriku Mantan Keponakanku, harusnya judulnya ini!
Aku menutup wajahku. Takut membayangkan hal-hal buruk yang akan kualami lagi.
"Viona! Aku hanya ingin kamu dan bayimu aman. Sebentar lagi suasana pasti akan memanas! Dan aku khawatir dengan keselamatan kalian!"
"Maksud kakak apa?"
"Besok Tasya akan dijemput paksa oleh pihak kejati! Statusnya sudah menaik menjadi tersangka. Dan... kamu mau tahu kelanjutannya? Mas Bams juga bakal terkena kasus! Lumayan besar dan... kamu lihat sendiri, nanti!"
"Niatku membawamu ke Ubud. Tinggal dan menetap di sana bersamaku sampai bayimu lahir! Di sana aman. Jauh dari kebisingan! Dan kata Cemen, kamu sangat menyukai suasana pedesaan!"
"Tapi aku... takut kalau..."
"Aku janji, aku akan menjaga kalian selama nafas ini masih dikandung badan!"
Kak Jo... Kata-katamu sederhana, tapi terdengar sangat dalam. Aku... Aku sangat takut dengan kenyataan yang ada. Dengan omongan orang nantinya pada kita. Sanggupkah kita mendengar celotehan orang yang buruk tentang kita? Aku... aku takut, Kak!
"Aku hanya ingin kalian aman! Hidup tenang dan damai tanpa ada gangguan dari manapun juga dari siapapun, Viona! Bisakah kamu percaya padaku?"
__ADS_1
Kak Jo... Sejak awal aku merasakan kenyamanan bersamamu. Perhatianmu, perlakuan manismu,... semua itu adalah langkah yang perlahan membuatku makin percaya padamu, Kak! Bahkan aku memendam semua cerita kita dan menyembunyikannya dari Ira juga kak Firman. Karena aku percaya padamu! Kamu yang membantuku hingga sejauh ini.
Aku... yang kukira adalah perempuan lemah dan memilih mati saja, ternyata bisa sampai se-fight ini karena Kakak. Tapi... Aku juga takut, aku bisa jatuh cinta padamu yang teramat baik ini. Aku takut kehilangan lagi orang yang perlahan merajai hati ini.
Baru kusadari... aku adalah orang yang sulit jatuh cinta. Dan ketika aku mulai jatuh cinta, aku akan menerima semua kekurangan orang yang kucintai. Meskipun orang itu melakukan kesalahan lagi dan lagi... aku dengan mudahnya memaafkan asalkan dia tetap ada di sampingku. Hiks... separah itu diriku dalam hal mencinta. Walau orang yang kucinta tidak bisa melihat kedalaman cintaku, karena aku sulit mengespresikan cinta itu sendiri kedalam bentuk nyata. Dan justru orang melihat aku adalah perempuan dingin yang cuek. Itu sebabnya Herdilan tak mengerti perasaanku. Tak melihat besarnya cintaku padanya setelah apa yang terlewati diantara kami. Hhh...
"Kakak...!"
"Ya?"
"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
"Katakanlah Vio! Aku akan berusaha menuruti, jika aku mampu!"
"Aku akan menerimamu setelah melahirkan dan habis masa nifas! Izinkan aku untuk menjadi diriku sendiri untuk saat ini. Aku ingin merasakan hidup bebas, tanpa tekanan! Dan aku ingin tinggal beberapa bulan di rumah kontrakan. Setelah mendekati waktu lahiran, aku sendiri yang akan datang ke rumah kakak. Seperti biasa, menangis meminta bantuanmu! Boleh?"
Kutatap netra indahnya yang kemudian meredup. Kak Jonathan Lordess, berusia 41 tahun... Om dari mantan suamiku itu. Hanya menunduk dan mengangguk pelan.
Ia menerima dan menuruti permintaanku dengan senyum kecil pada akhirnya.
"Lakukanlah hal yang membuatmu bahagia, Viona!" katanya membuat hatiku menjadi tenang.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...