PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 41 Liburanku Ke Lombok


__ADS_3

"Viona! Maaf, Yang! Rencana kita untuk liburan ke Lombok terpaksa batal!"


Aku tertegun mendengar perkataan suamiku. Ia menaruh tas kerjanya di atas meja. Menelungkupkan wajahnya juga di sana. Membuat aku yang tadinya niat protes justru menjadi iba.


"Ada apa, Mas? Apa ada masalah?"


Aku menelan saliva. Berusaha menenangkan diri ini dengan segala kemungkinan terburuk yang suamiku ucapkan nantinya.


Karena beberapa hari ini aku memiliki firasat buruk. Entah mengapa. Hatiku seperti resah tapi tak mengerti ada masalah apa.


"Kita tak jadi liburan. Tapi... kamu bisa pergi dengan Ira, mungkin sayang!"


"Maksudnya Mas bagaimana?"


"Mas sudah kadung pesan tiket dan juga booking hotel selama lima hari di Lombok. Kalau dibatalkan akan kena cash yang lumayan besar, Vi! Makanya, daripada dibatalkan begitu saja... lebih baik kamu tetap berangkat liburan meskipun tanpa aku. Ya?"


"Maksud mas, aku pergi tanpa kamu begitu?"


"Bukan begitu juga. Tapi... daripada akhirnya tak terpakai dan hangus begitu saja, ada baiknya kamu lanjut hang out bareng Ira. Itu lebih bagus khan? Iya gak?"


Ada benarnya juga kata mas Delan! Tapi... Bukankah mas Delan sedang ada masalah dengan perusahaannya. Mana mungkin aku pergi liburan begitu saja meninggalkan suamiku dengan kemalangannya.


"Sebenarnya bukan kemalangan, Vi! Tapi... Ada tamu dari luar negeri yang harus aku temui. Mama sendiri yang memintaku. Biar kutelepon Mama kalau kamu gak percaya!"


Mas Delan dengan sigap menelpon mamanya. Tentu saja membuatku semakin tak enak hati.


"Ya sudah, mas! Ga papa kita batalin aja liburan kita ke Lombok. Aku juga ga akan tega ninggalin kamu di sini bekerja sedang aku malah senang-senang di sana!" kataku menolak halus anjurannya untuk tetap melanjutkan liburan tapi bersama Ira.


"Ini nih, Mama mau bicara, Yang!"


"Hallo, ya Ma! Apa kabar Ma? Kabarku baik, iya Ma, terima kasih. Apa, Ma?... Aku?... Lebih baik aku jadikan liburanku bersama Ira ke Lombok? Tapi Ma..."


Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mama Mertuaku yang menyuruhku untuk tetap pergi ke Lombok. Karena sayang, rencana matang yang telah aku dan mas Delan rancang jika dibatalkan.


[Pergilah, Vio! Mama mohon... hanya sehari Delan tidak bersamamu! Besoknya Delan akan mama suruh untuk ke Lombok dengan penerbangan pagi! Lanjutkan rencanamu, Viona! Please... Okay?]


Aku termangu. Memiliki mama mertua yang baik hati dan sangat pengertian. Bahkan di saat ada kerjaan suami yang urgent pun masih beliau bantu mengurusnya.


Beliau akan mengurus kerjaan mas Delan setelah sehari pertemuan dengan klien dari luar negeri katanya.


Hhh... Aku, antara sedih, bingung tapi juga senang.


Mas Delan menelpon Ira. Memintanya langsung agar mau menemaniku pergi berlibur ke pulau Lombok.

__ADS_1


Ira tentu saja senang sekali. Semua keperluannya di jamin oleh mas Delan bahkan sampai uang sangu untuk oleh-oleh pulang nanti.


Aku yang kebingungan hanya bisa tertawa kecil melihat mas Delan akhirnya bernafas lega melihatku akan jadi pergi ke Lombok bersama Ira lusa.


...♧♧♧♧♧...


Aku dan Ira pergi kebandara di antar oleh suamiku tercinta serta mama mertuaku tersayang.


Kami berjanji akan bertemu esok sore setelah urusan pekerjaan mas Delan berhasil di selesaikan.


"Hati-hati ya kalian! Ira... aku titip istriku ya?"


"Iyalah boss! Pasti akan kujaga istri boss tercinta ini lah! Jangan kuatir, hehehe...!"


Aku dan Ira terbang ke Lombok. Hanya butuh waktu beberapa jam saja, kami telah sampai di penginapan yang sangat indah.


Melewati kota Mataram menuju pantai Pink tempat tujuan kami lewat jalur darat.


Hotel tempat kami menginap ternyata letaknya benar-benar di bibir pantai.


"Vi! Ini benar-benar pilihan yang tepat untuk tempat bulan madu. Hebat juga di Herdilan suamimu itu ya?"


Aku tersenyum merespon ucapan Ira soal mas Delan-ku tersayang.


Aku membuka koperku. Mengambil pertama barang bawaanku, yakni... pigura kaca foto pernikahanku dan mas Delan.


Brak!


Entah kenapa bingkai figura itu bisa jatuh tanpa sebab. Mungkinkah angin lewat yang mendadak menyebabkan jatuh ke lantai hingga pecah berserakan kacanya?


Hhh...


...☆☆☆☆☆...


...In Frame Kehidupan Herdilan Firlando...


Sementara di tempat yang berbeda, sesuatu kejadian sedang berlangsung.


"Saya terima nikah dan kawinnya Lady Navisha binti almarhum Wildan Wardhana dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas seberat seratus gram dibayar tunai!"


"Sah? Sah??"


"Saaah..."

__ADS_1


Terlihat sepasang pengantin berbaju warna putih sederhana di sebuah rumah di daerah Timur ibukota.


Mereka adalah... Herdilan Firlando dan Lady Navisha. Dinikahkan di bawah tangan dengan wali nikah paman Lady dan saksi pernikahan... Mama Tasya.


Wajah-wajah lusuh penuh kebingungan terlihat diantara Delan serta mamanya. Entah... kenapa semua ini bisa terjadi. Yang pasti kejadiannya begitu cepat dan tak Delan prediksi sebelumnya.


Hingga akhirnya kini keduanya telah resmi menikah meski secara siri saja. Dan tanpa sepengetahuan Viona, istri Delan.


Flash Back On...


"Mas!... Mas Delan, aku... belum datang bulan!"


"Maksudmu, a-apa Lady?"


Delan tergagap mendengar penuturan selingkuhannya itu.


"Kamu sama sekali tidak waspada! Lalu... kita harus bagaimana? Ini diluar pemikiranku saat ini, Lady! Aku tak mau gegabah juga! Apalagi tiga hari lagi pesta ulang tahun pernikahanku dengan Viona yang setahun. Gak mungkin aku berbuat lebih padamu!"


"Mas!!!"


"Gugurkan segera!"


"Mas! Mas kau gila ya? Kau mau berbuat dosa lebih banyak lagi, hah? Aku tidak akan melakukan itu! Tidak akan! Hik hik hiks...!"


"Aku harus bagaimana, Lady? Ga mungkin juga aku menceraikan Viona untuk menikahimu. Tidak akan pernah kulakukan itu!"


"Tapi anak ini,... bagaimana? Kau tega membunuh darah dagingmu sendiri, Mas?"


Delan menghentakkan kakinya menendang kaki meja rumah mamanya. Hingga jatuh seketika vas bunga di atasnya. Berkeping-keping menimbulkan kegaduhan yang rupanya terdengar jelas oleh sang Mama yang baru saja pulang dari kantor.


"Ada apa lagi dengan kalian? Kenapa ribut-ribut kedengarannya?" tanya Mama Tasya.


Lady langsung memeluk mamanya Delan. Menangis sesegukan di bahu orang yang penjadi pelindungnya di rumah ini.


Lady memang pandai mengambil hati Mama Tasya. Bahkan hampir semua baju lama Mamanya Delan itu ia pakai membuat sang Mama terpesona melihat kecantikan Lady yang mengingatkan pada kejayaan masa mudanya.


Mama Tasya terhenyak mendengar penuturan Lady Navisha. Yang menceritakan kalau di rahimnya bersemayam janin buah hati perbuatan terlarangnya dengan sang produser eksekutifnya.


"Jadi... Kamu... mengandung... cucuku?"


Gubrak.


Mama Tasya semaput pingsan. Tak sadarkan diri.

__ADS_1


Flash Back Off


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2