
Aku... tak bisa terus menerus seperti ini. Harus bergerak mencari keberadaan Mama.
Terlalu lama berada di pondok kayu belakang gedung sekolah teramat besar resikonya. Salah-salah, aku nanti malah disangka orang jahat yang sedang bersembunyi.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sini, mencoba peruntungan diluar sana.
Dengan hati teguh dan jiwa tegar. Berjuang lagi mulai dari awal. Akan kutekad bulatkan semangat ini untuk kembali ke kehidupanku lagi. Dengan diriku yang baru, yang berfikir positif dan kerja keras. Seperti janjiku dahulu ketika di dalam sel. Aku ingin berubah lebih baik.
Berbekal sedikit uang dari hasil malak anak sekolah, aku keluar dari gubuk. Pakaian yang kukenakan sudah lusuh dan berubah warna karen sudah beberapa hari tak kuganti.
Baju-baju yang ada di sel tahanan dulu tak kubawa selembar pun. Karena aku tak mau mengingat masa-masa suram di bui. Jadi, hanya pakaian yang di badan saja yang melekat.
Buskota membawaku hingga ke area perkantoran. Mencoba kembali mencari teman-teman yang dulu pernah kutolong. Berharap mendapat iba dan sedikit bantuan apapun itu dari mereka hingga aku bisa lanjutkan hidup.
"Bang... Maaf bang, emakku meninggal! Aku ga bisa ngenekin hari ini!"
Kernet bis itu turun meninggalkan sang sopir yang menghela nafas bingung.
"Saya saja bang, yang jadi kenek!" ujarku mengajukan diri. Sesekali merasakan kerja jadi orang-orang bawahan.
"Ya sudah. Siapa namamu, Lae?"
"Delan, Bang!"
"Iya. Hari ini kau kupercaya jadi kenek. Tapi kalau kau macam-macam, apalagi bawa kabur uang setoran. Jangan harap kau masih bisa menghirup udara penuh polusi ini esok hari!"
Hadeh... dikiranya aku ingin menipu! Padahal aku hanya ingin mendapatkan sesuap nasi dari hasil keringatku sendiri yang halal, bukan yang haram!
"Memangnya aku ada tampang nipu!" sungutku kesal membuat sang sopir yang tetap menjalankan kendaraannya tertawa sengau.
"Tampang kau tampan-tampan ngenes. Seperti orang yang suka mencuri hati wanita. Hahaha..."
Aku hanya mencucutkan bibirku. Meliriknya kesal sembari berkeliling meminta uang transport pada para penumpang.
"Ongkos, ongkos!"
Sedikit banyak aku tahu cara kerja kenek. Secara di masa SMA dan kuliah sering juga aku naik angkutan umum.
Aku menghela nafas. Kucoba kesampingkan malu-ku melihat para penumpang memberiku uang ongkos dengan tatapan dingin.
Empat tahun lima bulan dipenjara, semoga wajah mantan CEO PH PESONA TASYA ini tak ada yang mengenali!
Perlahan aku mencoba rileks dengan pekerjaan yang kini kugeluti.
Dengan lebih lihai dan gesit, bergelantungan dipinggir pintu biskota yang penuh sesak. Sembari berteriak keras menyebut nama jalan atau nama halte yang jadi tempat pemberhentian berikutnya.
Ternyata jika kita enjoy, hidup tidaklah terlalu rumit.
"Kwitang, Kwitang... pasar Kwitang!" teriakku pada para penumpang.
__ADS_1
"Pasar Kwitang kiriii..!"
Beberapa orang berdiri mendekati pintu bus. Lalu melangkah turun ketika bis yang bang Togar kemudikan berhenti.
"Tarik, Bang!" seruku lebih keras karena sudah bisa beradaptasi menjadi kernet bis.
"Bis oleng, Bang! Bis oleng!" teriak beberapa bocah SD yang bergerombol di sisi trotoar membuatku tertawa dan iseng mencandai.
"Bis oleng, kasih maszeh!" teriakku membuat bang Togar semangat dan mengemudikan dengan gaya oleng yang sekarang jadi tuntutan para bocil.
"Jangan sering-sering oleng, Kau Del... Bahaya itu! Hehehe..."
Aku tertawa. Bocah-bocah dipinggir jalan berseragam putih merah teriak kegirangan.
Teringat aku jadinya pada bocah Taman Kanak-Kanak yang sering menyambangiku ketika jam istirahat.
Mungkin aku harus memberitahunya kalau aku tak akan lagi tinggal di gubuk kayu itu. Biar dia tak datang lagi kesitu. Berbahaya bagi anak yang bernama Dzakki itu main di kolam belakang sekolahnya!
Mataku tiba-tiba melihat seorang bocah anak penumpang yang tangannya menenteng bingkisan ulang tahun.
"Bu, beli bingkisan ulang tahun dimana?" tanyaku mencolek pada ibunya.
"Oh, ini dari ulangtahun temannya. Tapi kalau abang mau beli, di supermarket Robinson itu ada kok, paketan sepuluh ribuan!"
"Oh... Makasih informasinya, bu!"
"Sama-sama, Bang!"
Aku tak menjawabnya. Hanya tertawa kecil saja.
Nanti saja, aku bisa belikan bingkisan itu untuk si Daki itu. Hhh... Nama koq Dzakki! Bagaimana kalau nanti masuk SD, SMP, SMA dibulli temannya dengan panggilan 'daki'. Apalagi anak itu terlihat begitu manis. Seperti anak yang lemah dan walaupun tak penakut sepertinya. Buktinya ia berani masuk area wilayah yang berbahaya dan gelap di belakang sekolahnya.
Aku hanya tersenyum mengingat bocil yang sok dewasa itu.
Andai Viona melahirkan anak laki-laki...pasti anakku sebesar si Dzakki sekarang ini. Viona! Sekarang tanggal sebelas. Sehari lagi tanggal dua belas. Tanggal bersejarah dalam pernikahan kita.
Aku teringat pesta anniversary pernikahanku dengan Viona yang kesatu beberapa tahun lalu.
Hhh... Saat itu Lady telah masuk kedalam hidupku. Bahkan aku dengan sangat pongahnya mengelabui Viona untuk bertemu Lady di apartemen Angkasa.
Kini apartemen itu sudah bukan milikku lagi. Ditarik pihak bank karena aku mengambil pinjaman untuk usaha tradingku di awal kebangkrutan.
Itulah hidup. Ketika jalanmu salah, maka akan apes berimbas kesemuanya.
"Atrium kiri, Bang!"
Aku tersentak kaget dari lamunan. Seorang perempuan berdiri di belakangku meminta diturunkan di halte Atrium.
"Atrium kiriii...!" teriakku.
__ADS_1
Namun baru saja perempuan itu melangkah, seorang laki-laki yang menerobos turun dari belakang menarik tasnya. Sontak perempuan itu memekik kaget dan berteriak.
"Jambreeet!!!"
Aku langsung melompat sigap mengejar sang copet yang barusan menjambretnya.
Bret.
Kaosnya robek kena tarikan kerasku.
Bug. bug bug.
Terpuaskan juga kegalauan hati ini. Menjotos telak sang copet membuat puas meski buku-buku jariku terasa nyeri.
"Ini Neng, tasnya!" ujarku seraya memberikan tas yang kurebut tadi.
Buskota yang dikendarai bang Togar berhenti setelah berjalan sangat pelan ketika aku melompat turun mengejar sang copet.
"Abang! Ini untuk abang!"
Perempuan itu menyodorkan beberapa lembar uangnya padaku. Tapi segera kutolak.
"Ga usah! Hati-hati saja lain kali, Neng!"
"Makasih ya Bang! Ini, kartu namaku bang! Hubungi aku ya Bang kalau tak sedang sibuk!"
Akhirnya kuambil juga kartu nama perempuan itu. Kumasukkan dalam kantong celana jeans belel-ku. Sembari naik kembali ke bis, diiringi tepukan riuh bang Togar dan para penumpang yang senang melihat pertunjukanku tadi menghajar copet.
Begini rasanya jadi super hero!
Mengembang lubang hidungku.
Bis kembali jalan. Terlihat penjambret tadi dikerubuti massa dan sepertinya hendak dibawa mereka ke pos keamanan terdekat.
Hhh...
Mataku kembali mengenang masa-masa di penjara. Banyak macam orang di bui dengan beragam kasus. Salah satunya ya, pencurian itu.
Ada yang pencuri amatir sampai kelas kakap, semua menjadi rata kedudukannya di penjara.
Yang jadi raja adalah orang yang punya kekuatan dan juga uang pastinya.
Sementara para napi yang seperti aku, lebih banyak jadi kacung daripada jadi bintangnya.
Hhh...
"Halte Pasar Senen, Pasar Senen melipir!"
Kembali pada realita, kini aku hanyalah manusia kasta rendah. Walau sempat aku jadi putra mahkota, tapi itu ternyata hanya sementara.
__ADS_1
Sejatinya hidup itu haruslah kita syukuri. Dan tetap sadar diri, jika suatu saat Tuhan menguji, kita mampu melewati.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...