
Ketika kau berharap sesuatu, namun Tuhan tak mengabulkan keinginanmu... bukan berarti Tuhan tidak mendengar semua doamu.
Tetapi ada jalan lain dan hadiah lain yang Tuhan telah siapkan untukmu.
Maka dari itu, jangan sedih dan jadi patah semangat sampai kau malas tuk kembali berdoa. Karena Tuhan lebih tahu, mana yang terbaik untukmu.
...○○○○○○...
Kartika diantar pulang oleh Herdilan.
Keduanya terlihat kikuk dan malu-malu meskipun bukan lagi kanak-kanak yang baru mengenal cinta.
Secara fisik, keduanya nyaris sempurna. Herdilan tampan, Kartika Sari pun cantik sekali.
Namun entah mengapa, setelah obrolan kak Chris yang tadi di acara makan... malah membuat Kartika jadi orang yang pendiam dan Herdilan sendiri kini hanya bisa merenung.
Hati Herdilan kebat-kebit. Begitu pun Kartika.
Perlahan keduanya memiliki ketakutan yang sama. Takut ditolak dan dijauhkan karena tidak sesuai harapan.
Kartika Sari teringat pada seorang gadis yang begitu jor-joran membuat beberapa konten dan podcast mendukung Herdilan beberapa waktu lalu.
Hatinya melemah, sehingga down seketika sampai melontarkan kata-kata yang dia sendiri tak duga.
"Kalau Abang punya pacar, kenapa tidak diperkenalkan pada keluarga besar. Apalagi gadis itu sepertinya sangat menyukai Abang sampai pasang badan membela mati-matian!"
Cekiiiit
Herdilan memberhentikan mobil yang dikendarainya. Untung saja suasana jalan raya saat itu hening sepi. Sehingga tidak membuat macet jalan.
"Siapa? Siapa gadis yang pasang badan mati-matian itu?"
Deg.
Tatapan mata Herdilan membuat Kartika gusar.
Ia segera mengambil ponsel yang ada di tas kecilnya. Dan menunjukkan video-video Rihana yang memang sengaja dibuat untuk membela keluarga Herdilan.
Tentu saja Delan terkejut. Ternyata nyaris sebulan namanya dan juga nama Papanya menjadi tranding topik. Pantas saja banyak beberapa nomor tak dikenal melobinya untuk ikut serta menjadi tamu undangan di beberapa acara podcast.
Kini Delan menatap bola mata Kartika. Ia juga melihat gadis yang didepan matanya itu ikut membuat podcast dan turut serta meramaikan jagad maya demi membela keluarga besarnya.
Delan mengembalikan ponsel Kartika. Lalu kembali mengendarai mobil yang dikemudikannya. Namun arahnya berbelok, tak lagi menuju rumah Kartika.
__ADS_1
"Masih pukul lima sore. Bisakah kita mengobrol dulu di taman itu?" tanya Herdilan setengah memaksa.
.....
Kini Herdilan dan Kartika duduk di tembok pinggiran taman dengan berdampingan.
Herdilan mengambil hape, lalu menelpon seseorang.
"Hallo? Ciko?... Ciko, ini aku... Herdilan!"
...[Hey kunyuk! Kemana saja kau? Kukira sudah ditahlilkan 40 hari. Cih! Dasar!!! Bikin aku khawatir saja! Hei, kau sekarang ada dimana, Lan?]...
Terdengar suara Ciko yang sengaja ia loadspeaker supaya Kartika bisa mendengarnya.
"Aku sekarang ada di Jakarta. Sebulan aku di Singapur sama adikku, Fika! Gimana kabarmu? Kapan pulang? Bisa kita ketemuan?"
...[Ganti kartu pula, kau! Aku, Mega, Rihana juga yang lain khawatir, Bray! Gimana, kondisi di situ? Aman?]...
"Alhamdulillah. Oiya, Rihana masih di KL?"
...[Masihlah! Dia baru akan wisuda satu semester lagi. Oiya, dia juga mengkhawatirkanmu! Gadis itu sayang sama kamu tulus, Lan! Dan dia sering nanyain kamu, minta tolong sampaikan ucapan terima kasihnya karena sudah bantu bayarkan semesterannya sampai akhir kuliah!]...
"Syukurlah. Aku juga minta tolong sampaikan ucapan terima kasihku sama Rihana. Podcastnya sangat membantu keadaanku sampai saat ini!"
"Hehehe...! Woke, thanks a lot, bro! Sampaikan salamku pada semua teman-teman. Tetap semangat meskipun di negeri orang!"
...[Oke... sure! Bye, gua masih ada kerjaan!]...
"Oke, Cik! Bye...Assalamualaikum"
...[Alaikum salam!]...
Herdilan menutup ponselnya. Kini ia menghadap ke arah Kartika yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Ini nomor sahabatku. Ciko namanya. Saat ini kerja di Kuala Lumpur. Kami seusia, 33 tahun. Dia punya istri dan dua anak. Dan Rihana itu, teman perempuan yang usianya 25 tahun. Mahasiswi Indonesia yang kuliah di kampus Kuala Lumpur. Calon sarjana semester akhir. Hanya teman sesama anak perantauan. Dan masih ada banyak teman lainnya baik pria juga wanita asal Indonesia. Kami disana punya komunitas juga. Yang menjadikan kami seperti saudara. Dan aku, sempat satu tahun kurang kontrak kerja disana sehingga bisa mengenal mereka. Kecuali Ciko, dia sahabatku sedari SMA. Sudah bisa dimengerti, Nona?"
Kartika tersipu. Ia menunduk malu seraya memainkan jari jemarinya.
"Umurku sudah 33 tahun. Aku duda satu anak. Jadi, semisalnya Nona Kartika kurang sreg dengan diriku. Aku lebih senang jika diungkapkan sekarang. Aku tidak apa-apa jika ditolak."
"Aku..., aku bukan menolak!" jawab Kartika dengan kerongkongan serasa tersekat.
Jantungnya berdegub kencang. Tangannya mulai basah oleh keringat dingin.
__ADS_1
Ia sudah lupa rasanya bahagia ditembak lawan jenis. Bahkan kini... Herdilan sendiri tidak terlihat ketertarikannya pada dirinya.
"Kamu... seperti terpaksa melakukan ta'aruf denganku!"
Herdilan kini yang merasa gugup dan bingung.
"Bukan terpaksa. Tapi, lebih tepatnya bingung... hendak melakukan apa dan bilang apa! Aku takut salah!"
"Kenapa takut salah kalau tidak melakukan kesalahan?" tanya Kartika menyelidik.
"Kamu khan tahu sendiri. Cerita hidupku sudah sangat diketahui orang. Bahkan orang yang sama sekali tidak mengenalku. Pastilah, pandangan buruk akan selalu membayangiku."
Kartika tersenyum.
"Abang mau ta'aruf denganku? Bukan karena keinginan keluarga besarmu?"
Herdilan menatap wajah imut Kartika. Seketika ia menundukkan kepala, karena terlalu berani menatap wajah gadis yang begitu innocent dimatanya.
"Kalau Kartika bersedia. Saya sendiri yang akan meminta pada kedua orangtuamu, detik ini juga. Saya yang meminang, bukan keluarga besar saya!"
Kartika senang mendengar perkataan Herdilan. Entah mengapa ia merasa tertantang.
"Abang sungguh-sungguh? Kalau memang kita berjodoh dan Allah merestui, Abang berani lamar aku sekarang juga dan kita nikah bulan depan?"
"Kenapa tidak berani? Aku akan melamar sekarang, asalkan kamu tidak memiliki ganjalan. Juga, mau menerima diriku ini apa adanya. Yang punya banyak kekurangan bahkan minim kelebihan. Kamu mau jadi istriku, Kartika?"
"Abang mau nikahi aku?"
Kartika yang gugup balik bertanya.
Herdilan mengangguk penuh keyakinan. Ia menatap mata Kartika. Berharap ada kesungguhan pula disana.
"Ayo, antar Tika pulang sebelum adzan Maghrib berkumandang!"
Herdilan gemetar. Jemari Kartika kini merapat ke sela-sela jemari tangannya yang dingin karena gugup.
Begitulah cinta, yang datang tiba-tiba diantara mereka. Yang meski terkesan sangat terlambat. Namun mereka berharap cinta berubah menjadi kasih sayang yang tulus, suci dan murni.
Mencoba merajut mimpi indah, hidup bersama. Berbagi rasa, dalam suka maupun duka. Dalam sehat juga ketika sakit.
Herdilan kini telah menetapkan hatinya. Untuk meminang gadis manis yang cantik menjadi pasangan hidupnya.
Berharap Kartika adalah perempuan terakhir dalam hidupnya. Yang bisa memberikan rasa aman, nyaman tenteram. Membangun rumah tangga bahagia. Memberinya keturunan yang soleh soleha. Aamiin...
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...