PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 232 MASIH POV ROGER GIBRAN SUHERMAN


__ADS_3

Denpasar menyambutku dengan rinai gerimis. Tapi tak menyurutkan semangatku untuk menemui putra tunggalku.


Sebuah Avanza biru metalik kusewa dari dealer rental resmi yang ada di kota Denpasar.


Tiga hari langsung kubooking untuk kubawa ke daerah Ubud menemui Dzakki dan Viona.


Perasaanku semakin tak menentu seiring waktu lokasi villa omku semakin dekat.


Hujan ternyata semakin deras.


Jalanan menuju Villa yang memang masih tanah merah menjadi becek dan berlumpur cukup parah.


Mobil yang kukendarai bahkan sampai slip ban belakangnya. Membuatku menepi segera. Khawatir kondisi jalan semakin menghalangi perjalananku menemui kesayangan-kesayanganku.


Musik mengalun dengan lembut. Terdengar suara Anji sang vokalis menyanyikan lagu "Menunggu Kamu" membuat fikiranku melayang jauh.


Kuselalu mencoba


Untuk menguatkan hati


Dari kamu yang belum juga kembali


Ada satu keyakinan


Yang membuatku bertahan


Penantian ini 'kan terbayar pasti


Lihat aku sayang, yang sudah berjuang


Menunggumu datang, menjemputmu pulang


Ingat slalu sayang, hatiku kau genggam


Aku tak kan pergi, menunggu kamu disini


.....


Andaikan Viona mau menerima cintaku. Dan kami bisa hidup bersama,... alangkah bahagianya.


Tiba-tiba mataku melihat seseorang yang melintasi jalan, ditengah hujan deras dan angin besar.


Dzakki!!! Itu putraku Dzakki!!!


Tentu saja segera kukejar bocah yang basah kuyup berlari menyusuri jalanan becek yang kotor lumpur.


Hhh...


Kami akhirnya bisa bersama. Menunggu hujan mereda dan kembali ke villa.


Baju Dzakki basah. Untungnya aku membawa pakaian baru untuk putra kesayanganku itu.


Sudah menjadi rutinitasku, pulang dengan membawa oleh-oleh beberapa stel pakaian baru untuk Dzakki yang semakin keren.

__ADS_1


Putraku sangat imut dan berwajah tampan. Jelas menjadi kebanggaanku membuat Dzakki semakin rupawan dengan pakaian-pakaian keren yang kubeli setiap kali melewati hari liburku dengan hang out ke mall.


Kuganti pakaian basahnya.


Wajah Dzakki tak seceria dahulu. Tampak murung dan seperti memiliki masalah.


Ketika kutanya, ia tak mau menjawab. Seperti menyembunyikan sesuatu. Dan juga wajahnya terlihat lelah. Membuatku tak tega untuk terus menyelidik seperti aparat yang sedang menginterogasi.


Aku menahan amarahku pada Viona.


Dia membawa Dzakki pindah. Dan seolah merasa mampu merawat putranya seorang diri. Tentu saja aku kesal.


Benar-benar ibu yang egois.


Apalagi melihat Dzakki sampai pulang dari sekolah sendirian dengan menerobos hujan deras.


Membuat dadaku sakit menyaksikan sendiri kepedihan yang Dzakki pendam.


Sampai villa, tentu saja aku memaki-maki Viona.


Walaupun tak sampai dari dasar hati, namun cukup untuk shock terapy Viona agar tak lagi teledor dalam mengurus Dzakki.


Tapi satu hal yang buatku tercengang.


Dzakki justru marah padaku karena memarahi Maminya.


Ck ck ck... Sungguh anak yang berbakti. Tenang, Nak! Ayah pun sayang sekali sama Mami kamu. Hanya sebagai teguran saja supaya ia lebih fokus dalam mengurus kamu.


Akhirnya aku pun minta maaf beberapa kali pada Dzakki. Hingga kami bisa kembali bermain bersama. Latihan taekwondo di atas matras.


Hhh...


Setelah hujan-hujanan bersama Dzakki siang tadi, ternyata imunitas tubuhku semakin drop.


Meriang panas dingin malamnya.


Hhh...


Malu rasanya, aku yang tadi sok-sokan marah-marah pada Viona justru seperti bocah cilik yang manja dengan perhatiannya.


Viona merawatku dengan sangat baik. Meski aku beberapa kali menolak dan menyuruhnya agar kembali ke kamar jangan pedulikan aku.


Ternyata keras kepala Viona membuatku semakin cinta.


Dia benar-benar tulus merawat hingga meriangku sembuh.


Terima kasih ya Allah! Terima kasih Viona!


Dan aku benar-benar ingin memiliki Viona seutuhnya.


Tanpa malu-malu dan dengan kepercayaan diri yang kupush dari dalam hati, kutembak Viona sekali lagi.


Bukankah cinta butuh pengorbanan? Bukankah cinta harus diperjuangkan? Sekali ditolak, akan kucoba lagi. Dua kali ditolak, berusaha tembak lagi. Berharap Viona luluh dan mau menerima pernyataan cintaku.

__ADS_1


Apalagi semalaman kami tidur seranjang berdua. Dia memelukku erat dan aku merangkul bahunya kuat. Tentu saja wajahku merona bahagia.


"Terima kasih. Terima kasih banyak atas perhatianmu!" kataku dengan dada berdebar kencang.


"Aku senang, kamu sudah sembuh!" jawabnya membuatku terharu.


Kutarik kembali tangan Viona yang hendak bangkit dari ranjang.


"Jangan dulu pergi! Aku ingin kita terus begini!" kataku malu-malu.


Bersemu seketika wajah Viona. Merah merona.


"Kamu..., kamu pasti masih demam. Sampai berani menggodaku!" ujar Viona dengan wajah tertunduk.


"Apakah aku salah jika mencintaimu?"


Viona diam seribu bahasa.


Pertanyaanku seolah menohok dirinya.


"Viona!?" Kusebut namanya dengan lembut.


"Apa... kau benar-benar mencintaiku? Tulus dari hatimu yang dalam?" Viona balik bertanya.


"Apa perlu kau belah dadaku agar kau lihat sendiri hatiku yang merah karena menahan cintaku padamu?"


Haish! Kenapa perkataanku seperti Roman Picisan yang terserang penyakit cinta?


"Aku... takut terluka!" jawabnya gugup.


"Aku tahu itu! Aku juga takut terluka! Aku pernah berjuang mati-matian sampai akhir untuk mendapatkan cinta. Tapi nyatanya... cinta tak berpihak. Dan sakitnya... sampai kini masih terasa!"


Viona menatap kedua bola mataku. Kami saling berpandangan. Dengan jemari tangan saling berpegangan. Sampai...


Dzakki membuka pintu kamar dan berdiri dengan wajah yang masih polos, baru bangun dari tidurnya.


"Mami... Ayah! Dzakki kira kalian pergi tinggalkan Dzakki!"


"Sini, Sayang!"


"Sini, Boy!"


Dzakki melompat kegirangan.


"Ih, bau asem!" tukasnya mencium selimutku. Sontak kami bertiga tertawa.


"Ayah sakit nih! Uhuk uhuk... Tolong k*iss pipi Ayah!" godaku pada Dzakki. Membuat Viona tersenyum dan...


Cup.


Memerah seketika wajahku. Terlebih melihat Viona yang langsung kabur dengan tawa kecilnya yang menggemaskan.


"Mamiii..., tanggung jawab dong!!!" teriakky menggoda Viona yang juga sama malunya seperti diriku.

__ADS_1


Akh... indahnya cinta! Terima kasih Tuhan, akhirnya Viona membuka hatinya untukku. Aku berjanji, akan membawanya sampai ke pelaminan. Dan kami menjadi pasangan suami istri yang saling cinta juga saling sayang. Menjaga buah hati yang sudah Tuhan percayakan. Semoga Tuhan memudahkan langkahku untuk meng-halal-kan Viona. Aamiin...


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2