
"Dzakki! Dzakki...!!! Kak Tini!!" teriakku sesampainya di rumah.
"Dzakki di rumah Tuan Christian, Vi!"
"Siapa yang mengantar Dzakki, Kak Tini?"
"Tuan Chris sendiri yang menjemput. Katanya jangan khawatirkan Dzakki. Untuk sementara Dzakki ada di sana. Jadi Viona tak perlu sepanik itu, katanya!"
Hhh...
Kucari handphone di tasku. Mencari nama kak Chris di kontak dan...
Treeet... treeet... treeet
Sengaja aku melakukan video call. Berharap akan dapat melihat wajah putraku tersayang.
Benar saja.
...[Mamiii...!]...
Wajah Dzakki kini ada di depan matanya.
"Sayang! Kamu baik-baik saja khan?"
...[Mami, Mami...! Kata Papa kak Verrel, aku boleh menginap di sini sama Mami. Iya?]...
Suara Dzakki membuat dadaku yang tadi serasa sesak kini lebih lega. Luruh airmataku sambil tersenyum dan mengangguk.
...[Mami kenapa? Mami koq nangis? Mami tadi kena tegur miss Geraldine ya? Maaf Mami..Dzakki tidak bermaksud bobok celengan. Dzakki cuma mau,]...
Tiba-tiba kak Christian mengambil hape dari tangan Dzakki. Terdengar suara lembutnya meminta izin untuk menelponku dulu.
...[Viona! Dzakki ada di sini, di rumahku! Jangan khawatir. Untuk beberapa hari biarlah Dzakki menginap. Aku juga sudah minta izin pada miss Geraldine, wali kelasnya Dzakki! Kamu bisa tenang bekerja dan bereskan kuliahmu. Jadwal yudisium-mu kapan? Berarti wisuda sudah ditetapkan?]...
"Iya Kak! Terima kasih banyak. Lalu sekolahnya Dzakki libur sampai kapan izinnya? Hasil sidang skripsi diumumkan seminggu lagi, Kak! Wisuda sekitar akhir bulan tanggal 29 Maret."
...[Ya sudah. Kamu jangan terlalu banyak fikiran, Vi! Dzakki ambil libur sekolah dua hari. Fika akan pulang juga dari Singapura nanti malam!]...
...Deg....
Jantungku berdenyut kencang. Fika akan kembali, sedangkan putraku ada diantara mereka. Apa tak kan terjadi apa-apa pada Dzakki nanti?
"Kakak! Nanti Dzakki akan bertemu Fika! Nanti,..."
...[Vio, tenanglah! Justru niatku mendekatkan Dzakki pada Fika. Bukan membuatnya teraniaya. Percayalah padaku!]...
Aku bukan tak percaya pada kak Christian. Tapi meninggalkan putraku pada keadaan yang akan membuatnya tersiksa, pasti aku tak rela.
__ADS_1
Kini untuk Dzakki, aku berani berkorban jiwa raga. Apalagi kalau sampai Fika melakukan hal-hal diluar nalar nantinya.
Akhirnya aku hanya bisa menghela nafas.
Sekarang sudah pukul tiga. Kurebahkan dulu tubuh ini guna meringankan kepanikan yang merasuki jiwaku. Istirahat sejenak. Karena pukul empat nanti aku ada janji bertemu dosen pembimbing. Ada beberapa poin nilai yang harus kukoreksi dengan menambahkan sertifikat serta tambahan nilai ulangan.
...........
...In Frame "Pertemuan Fika Dan Dzakki"...
Ditempat yang berbeda.
Dzakki senang sekali bisa menginap di rumah Verrel dan Velli.
Mulai dari bermain, bahkan makan pun mereka lakukan bertiga.
Mereka bertiga memang sudah akrab satu sama lain sedari kecil. Beberapa kali pula Dzakki tidur bertiga kedua saudara kembarnya. Hingga ia cukup hafal kebiasaan-kebiasaan para kakaknya itu yang super jahil.
"Dzakki! Kenapa kamu tidak sekolah bareng kita saja?" tanya Verrel membuat Dzakki termangu sesaat. Bingung hendak menjawab dari mana.
"Mami bilang, sekolah kak Verrel jauh dari rumah."
"Iya juga sih. Tapi... Mami Dzakki nanti?"
Verrel mengangkat bahunya, tak bisa menjawab pertanyaan adik sepupu yang usianya lebih muda satu tahun darinya dan Velli.
"Verrel...! Velliii...!"
Suara Fika yang ternyata datang lebih awal dari perkiraan Christian.
"Tante Fikaaa...!!!"
Kedua bocah itu berlarian keluar dari kamar. Dzakki yang agak bingung pun ikutan keluar dari kamar si kembar.
"Kalian kangen Tante, ga?"
"Kangenlah!" Verrel dan Velli menghambur ke pelukan sang Tante. Sementara Dzakki hanya termangu menatap keakraban yang terjadi.
"Fika? Aku kira kamu datang nanti malam!?!"
Mutia merangkul bahu adik iparnya. Kemudian mereka cipika-cipiki.
__ADS_1
"Wellcome back, Fika!"
Christian juga merangkul adik bungsunya itu. Mereka tampak saling melepas rasa kangen satu sama lain sebagai seorang saudara.
"Tante..., Bolehkah aku minta peluk?"
Fika menatap bocah yang mengedipkan satu matanya itu padaku. Bocah siapa ini? Imut sekali! gumamnya dalam hati.
Fika pun tanpa segan langsung memeluk Dzakki.
"Anak tampan, siapa namamu?"
"Dzakki, Tante!" jawab Dzakki dengan imutnya.
"Mbak! Anak siapa ini? Gemesin!"
"Anaknya Viona!"
Fika terdiam mendengar Christian menyebut kalau Dzakki adalah anak Viona.
Berarti ini anaknya si Herdilan! gumamnya kesal.
Matanya melirik ke arah Dzakki. Namun berusaha mengalihkan pandangannya ketika bocah imut itu tersenyum menatap wajahnya.
"Tante Fika cantik sekali!"
Ya Tuhan! Kenapa Viona bisa melahirkan bocah yang begini imut? Padahal waktu bayi wajahnya 'B' aja. Tak ada keimutan yang terpancar dari wajah bayinya si Herdilan!
"Mau Dzakki bantu bawa kopernya?"
Ya Tuhaaan! Tatapannya...
Fika pun luluh pada kepolosan dan kebaikan hati Dzakki yang menawarkan jasa membantunya mendorong koper.
"Berat, Dzakki! Daripada kamu dorong, mending kita naik ke atasnya. Lalu Tante Fika yang dorong kita!" ujar Verrel membuat sang Tante gemas pada tingkah polah keponakan-keponakannya itu, sehingga langsung mengejar ketiganya untuk dicubit bohong.
"Awas ya, kalian! Baru saja Tante datang, kalian sudah berani bully!"
"Tante, nasi kebuli enak Tan!" kata Verrel membuat Fika makin gemas.
"Ini anak ya?! Awas kalau ketangkap, Tante Fika sunat nanti kamu! Oiya, kak... Verrel belum dikhitan khan ya? Mumpung Fika pulang, biar dikhitan sekalian!"
"Aaaa... Aku belum mau sunaaat!!!" teriak Verrel keras. Fika dan Christian serta Mutia pun tertawa lepas.
Verrel baru lima tahun lebih, tapi masih takut untuk dikhitan.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...