
Aku dan Delan masih menjalani rutinitas seperti biasa setelah tunangan. Masih menjadi mahasiswa dan mahasiswi tapi tak sebebas dulu lagi.
Kami juga tetap menjaga jarak seperti biasa. Bahkan semakin terlihat asing satu sama lain, meski kini Delan banyak berubah terutama soal penampilan.
Delan yang sekarang sudah pasti disukai banyak perempuan terutama para mahasiswa baru.
Wajahnya yang misterius pun serta sifat dinginnya yang memancing keingintahuan para wanita makin membuatnya banyak fans.
Aku, walaupun kata beberapa teman semakin cantik dan glowing. Tetap merasa masih minder serta aneh jika dihadapan 'tunangan'ku yang sekarang.
"Pulang bareng, ga?" tanya Delan suatu ketika.
Ini adalah semester terakhir kami di kampus. Tinggal dua bulan lagi, kami tamat kuliah. Setelah berkutat menyusun skripsi dan kini sibuk magang kerja juga demi nilai, akhirnya kami bisa bersama lagi dalam kelas.
"Kamu beneran akan menikah setelah wisuda, Vi?" tanya Ira serius.
Aku hanya tersenyum tipis lengkap dengan anggukan.
"Yakin?" katanya pelan penuh tanda tanya.
Aku terkekeh. Menepuk bahunya sambil mengedipkan satu mataku pada Ira.
__ADS_1
"Kenapa? Delan kini ganteng bukan?" jawabku singkat disela tawa.
Ira memicingkan matanya.
"Kalian tidak akrab satu sama lain. Bahkan sampai tahun ke-empat pun. Kalian masih diam-diaman meski sudah tunangan! Hubungan rumah tangga yang bagaimana yang akan mengikat kalian?"
"Hahaha... Ra! Kami akrab koq kalo di rumah! Ini cuma penglihatan lo aja! Kami memang komitmen jaga jarak di kampus. Biar masing-masing punya privasy di luar lingkungan rumah. Tapi ya tetap saling dukung satu sama lain!"
Ira tersenyum. Seperti berusaha mengerti apa yang kubicarakan.
Aku sendiri, tersenyum palsu setelah dengusan kecil tanpa sadar kukeluarkan.
Ira benar. Sampai sejauh ini aku dan Delan melakukan tunangan, tapi tetap tak ada perkembangan kemajuan untuk hubungan kami selanjutnya.
Aku sadar, Ia telah menilaiku sebagai perempuan yang suka tampilan luar yang rapi, trendy serta enak di lihat mata.
Dulu aku diam-diam merutuk penampilan cupunya yang terkesan dekil. Memang tak langsung kuucapkan padanya. Tapi pada Ira.
Mungkin saja Ira sudah mengatakan pendapatku itu pada Delan, dulu. Sehingga kini respon Delan padaku B aja. Alias datar dan tak terlihat wajah sumringahnya.
Atau memang... selama ini aku jarang melihat Delan tertawa lepas kecuali pada teman-teman se-frekuensinya saja.
Aku dulu tak ambil pusing.
__ADS_1
Tapi kini jujur aku pusing. Karena tiga bulan lagi kami akan menikah.
Kasus Ayah telah berhenti seiring perlahan. Juga rumor tak sedap yang berkembang menerpa Papanya Delan.
Keputusan yang kami ambil cukup tepat juga.
Tapi... ini adalah kontrak pernikahan. Yang tak jelas soal hati serta perasaan satu sama lain.
Bukan aku tak percaya diri Delan tak menyukaiku. Karena hatiku juga bukanlah hati yang gampang terbuka menerima cinta.
Tapi baik aku maupun Delan, tidak terlihat memiliki hati yang kata orang 'ada cinta' didalamnya.
Aku juga bingung, karena aku tak pernah jatuh cinta pada seseorang selama ini. Kepada kak Firman pun, aku hanya suka dan mengagumi keseluruhan tampilannya. Tapi untuk cinta, aku tak yakin juga.
Kata orang, jikalau kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan melakukan apapun untuk menyenangkan hati orang yang kita cintai. Apapun itu even perbuatan itu baik atau salah. Tapi pastinya apapun akan dikorbankan untuk orang yang dicinta.
Kulirik Delan yang berjalan gagah disampingku.
Banyak pasang mata mahasiswi lain yang papasan menatap lama wajahnya.
Delan memang kini telah berubah! Sangat berubah. Tapi sayangnya, kenapa diamnya itu membuatku tidak bisa menerka apa isi hatinya. Bahkan sampai kini, aku masih tak mengerti apakah dia memiliki rasa padaku. Hhh...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1