
Aku terbangun di pagi hari. Mendapati diri yang terbaring di atas ranjang kasur yang berbeda.
Ini... kamar siapa?
"Selamat pagi, Nona!"
"Bi Tini? Ini... kamar siapa?" tanyaku masih dengan mata terkantuk-kantuk.
"Kamar Tuan Jo, Non!"
"Semalam saya tidur... sama Tuan Jo kah?" tanyaku pelan, agak malu.
Aku lupa, semalam kami mengobrol lama sekali di ruang tengah setelah makan malam yang nikmat. Hingga tertidur pulas sepertinya di atas sofa dan kak Jo menggendongku memindahkan ke kamarnya.
"Tuan justru tidur di kamar Nona semalam!"
"Oh...!"
Syukurlah! Kupikir kak Jo tidur di sebelahku diranjang ini. Secara aku tidak pernah tidur seranjang dengan pria lain selain suamiku. Aku takut, jika kak Jo mengambil langkah melebihi batasannya. Alhamdulillah... Ternyata kak Jo pria gentle.
"Tuan kata, Nona nanti di antar Kenken pulang. Jangan naik kendaraan umum, pesan beliau!"
"Baik. Terima kasih, Bi Tini!"
Hm... Tumben kak Jo tidak ikut mengantar.
"Bi... Tuan kemana?" tanyaku penasaran.
"Tuan setelah Subuh berangkat ke Selangor, Non! Ada kerjaan penting kata Tuan!"
"Tuan tidak titip pesan apa-apa lagi?"
"Tidak, Non. Hanya suruh Kenken antar Nona pulang!"
Aneh. Biasanya kak Jo melarangku pulang kalau ia sedang pergi keluar. Bahkan tak jarang menahanku untuk terus di rumah ini dengan alasan khawatir pada kesehatanku.
Hhh...
Aku pulang ke rumah kontrakan setelah sarapan bubur ayam Manado buatan bi Tini.
Hari ini tubuhku terasa agak lelah. Hingga aku tidak membuka gerai gerobak daganganku.
Beberapa anak tanggung bolak-balik melihat teras dan gerobakku yang kosong karena dagangan belum di gelar.
"Libur, Mbak?" tanya salah seorang.
"Iya. Maaf ya, hari ini libur dulu!"
"Viona!"
"Kak Firman?"
"Hehehe... maaf aku mampir tanpa konfirmasi dulu!"
"Ga papa, Kak! Aku juga baru pulang ini. Istirahat dagang! Hehehe..."
"Pulang? Darimana?"
Aku agak gelagapan tersadar pada ucapanku yang keceplosan.
__ADS_1
Kak Firman hanya tersenyum. Ia menghenyakkan bok*ngnya ke kursi ruang tamu. Aku melirik ke arah wajahnya. Entahlah, raut wajahnya tampak datar. Tak dapat kutebak apa isi hati dan fikirannya.
"Kakak sedang off kah?" tanyaku mengalihkan mencoba perhatian.
"Sebenarnya lagi kerja ini, kebetulan lewat ke arah sini. Jadi aku mampir, tengok bumil yang lagi dagang camilan! Hehehe..."
"Haish... asal jangan dagang diri ya, Kak!" jawabku dengan bibir cemberut.
Kak Firman tertawa.
"Viona..."
Aku kaget setengah mati,... kak Firman merapikan poniku yang berantakan di atas dahi. Ia kini terlihat lebih berani.
"Kak Firman?"
"Masa iddahmu masih lama kah?" Ia balik bertanya.
Aku gugup mendapati wajahnya yang semakin mendekat. Segera kudorong dada bidangnya dengan kedua belah tangan.
"Kakak mau apa?" tanyaku tergagap.
"Menikahlah denganku, Vi! Aku akan menjagamu juga bayi yang akan lahir ini nantinya. Aku janji... akan menjagamu selalu!"
Aku tersekat.
Lidahku terasa kelu.
Kata-kata kak Firman membuatku membeku. Tak bisa berkata apa-apa.
"Aku..., saat ini tidak memikirkan diriku sendiri, Kak! Maaf..."
Aku termangu.
Kak Firman rupanya melihat aku dan kak Jo di klinik dokter Lena kemarin sore.
"Kak Jo... saudaraku!" (Aku bohong)
"Kenapa kamu gak chat aku? Aku pasti akan antarkan kamu kemanapun yang kamu mau, Vi! Aku akan sangat senang jika kamu mau mengandalkanku!"
Aku menggelengkan kepala. Harus tegas menolak kak Firman!
"Tidak, Kak! Aku tidak ingin terus-terusan merepotkanmu juga Ira."
"Aku senang sekali jika kamu benar-benar membutuhkan bantuanku! Sungguh!"
"Terima kasih, Kak! Kakak dan Ira adalah saudaraku yang paling baik!"
"Saudara? Hanya saudara?"
"Kalian bahkan lebih dari seperti saudara bagiku!"
"Vi...! Aku ingin cintamu! Aku... cemburu melihat kamu tampak tergantung pada Jonathan! Kalau dia memang saudaramu, saudara darimana? Ayah? Ibu? Atau sepupu?"
Matanya menatap tajam. Seperti menyelidik dan penuh banyak pertanyaan dibalik pancaran netranya.
"Please, kumohon kakak tidak menekanku seperti ini!"
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Viona! Bahkan sejak dulu. Sejak masih menjadi mahasiswa!"
Aku hanya bisa menelan saliva seraya menunduk ke arah bawah. Hanya bisa memperhatikan jari jemari kakiku yang terlapis sandal jepit.
__ADS_1
"Viona..."
Aku bingung, harus berkata apa. Harus menjawab apa. Hatiku benar-benar membeku. Fikiranku juga benar-benar kosong.
Hampa jiwa juga rasa. Tak ada cinta yang membuatku bahagia, kecuali secercah harapan esok lusa semua berubah indah.
"Vi!"
"Carilah perempuan yang lebih baik dariku, Kak! Kakak bujangan. Berbeda sekali dengan aku, perempuan yang pernah gagal. Aku tidak ingin membuat masa depan kakak jadi buruk. Raihlah kebahagiaan yang indah dengan memulai membuka hati pada gadis lain. Aku bukan jodoh kakak!"
"Kamu tahu darimana, aku bukan jodohmu?"
"Sulit untuk kita bersama!"
"Aku tahu kamu masih luka. Aku juga mengerti sekali, tidak mungkin semudah itu kamu membuka hati. Tapi aku takut..., kamu terlena oleh pesona om Jonathan itu! Dia... Omnya Herdilan bukan? Sepupunya Mamanya Herdilan! Aku tahu semuanya, Viona!"
Deg.
Aku baru sadar. Kak Firman adalah orang media. Wawasannya luas, begitu juga pergaulannya.
Masalah menstalker atau menyelidiki target adalah hal yang cetek baginya.
"Apa kamu tidak takut pada pandangan umum nantinya tentang hubungan kalian yang aneh?"
Aku hanya memandang kosong ke arah jalan.
"Fikirkan Viona! Masa depanmu masih panjang. Juga akan ada bayi yang harus kamu urus nantinya. Tidak mungkin kalian bersama dan menikah secara resmi khan? Orang akan memandang remeh kalian! Bercerai dengan suami, lalu menikahi om-nya. Apa kata dunia? Apa kamu siap menerima hujatan orang-orang di sekitarmu? Dan... Ira juga pastinya tidak akan merestui hubungan kalian jika tahu kalau si Jo itu adalah omnya Delan!"
"Bolehkah aku meminta kakak pergi meninggalkanku? Maaf, aku ingin istirahat!"
Aku benar-benar dibuat gila, oleh statement-statement yang kak Jo lontarkan.
Tapi semua ucapannya benar.
Tak ada yang salah.
Tapi hatiku tak bisa menerima penilaiannya.
Ini gila! Benar-benar gila!!!
Kak Firman menghela nafasnya. Ia segera tersadar kalau perkataannya menyakiti hatiku.
"Maaf, Viona! Aku hanya ingin kamu berfikir realita! Cinta Jonathan hanyalah fatamorgana. Kuharap kamu segera tersadar sebelum jatuh lebih dalam ke lubang yang besar. Lubang yang menjerumuskanmu pada hubungan yang tidak sehat!"
"Aku mengerti sekali kekhawatiran kak Firman! Aku berterima kasih, kakak memberi tahuku jalan yang benar. Tapi... hubungan kami belum sejauh itu. Dan kami memang dua orang dewasa yang kemungkinan bisa saja salah langkah. Namun... kumohon kakak tidak memandangku serendah itu! Aku bisa menjaga diriku dengan baik, Kak! Terima kasih atas perhatiannya!"
Ia berdiri. Memandangku dengan tatapan sendu. Lalu berjalan melangkah keluar, tanpa kata-kata lagi.
Tinggallah aku kini sendirian. Di rumah kontrakan yang sudah kusewa selama setengah tahun.
Hai Kakak2 Pembaca yang Budiman😊! Terimakasih telah setia menunggu up novel receh saya ini🙏Terima kasih atas semua support, dukungan berupa like dan komennya yang menyemangati🙏
Semoga novel saya ini, berkesan dan ada sedikit pembelajaran setidaknya🙏✌😅
Please, terus dukung saya ya...lewat LIKE, KOMEN, juga RATE dan VOTE🤗
Novel ini akan terus up setiap hari, dan masih akan panjang ceritanya🙏tetap stay tune ya🙏🙏🙏
Semoga Tuhan senantiasa memberikan kita kesehatan dan kebahagiaan dalam keberkahan🙏🙏🙏Aamiin...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1