PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 SESAK YANG TADI KINI JADI LEGA


__ADS_3

"Ma!... Kenapa Mama langsung marah ketika Kartika baru mulai cerita?" tutur pak Fajar setelah mereka juga masuk kamar.


"Mama sedih, Pa! Mama yang mengandung Kartika selama sembilan bulan. Melahirkannya dengan susah payah, lalu mengurus dan membesarkannya penuh kasih sayang. Anak kita hanya semata wayang. Hanya Kartika seorang. Kita tidak punya anak yang lain yang bisa kita harapkan menemani hari tua kita sampai kita mati kecuali Tika! Lalu, kini justru Tika mengambil keputusan mau ikut pindah suaminya ke negeri orang! Lantas kita ini bagaimana? Tega dia ninggalin kita berduaan saja?"


"Ma!... Tapi tadi Mama berlebihan reaksinya! Tika jadi ikutan panik dan stres melihat amarah Mama yang langsung meledak!"


"Ya supaya Tika mikir, Pa! Kita ini orangtuanya. Posisinya tidak punya anak lain yang bisa kita berikan kepercayaan selain dia. Lagipula, kita hanya minta mereka tinggal sama kita. Bukan minta kita dibiayai hidup oleh mereka. Toh Papa masih bekerja, masih punya penghasilan! Apalagi kalau kita sudah manula, sudah renta dan tak lagi bisa usaha. Hhh... Hik hiks, Mama jadi makin takut membayangkan masa tua kita! Hik hik hiks..."


Pak Fajar bingung. Istrinya menangis semakin besar. Ia hanya bisa menepuk-nepuk pundak wanita yang telah ia dampingi selama lebih dari 31 tahun itu.


Namun begitu hatinya juga memihak keputusan sang putri. Ia tak ingin menjadi orangtua yang egois, yang terus menerus ingin didengar dan diikuti kemauannya.


Sejatinya pak Fajar mengerti betul, anaknya adalah seorang perempuan. Dan akan menjadi tanggungan penuh suaminya jika telah menikah nanti.


Dalam agama pun diterangkan, jika seorang anak perempuan akan berubah kewajibannya setelah menikah. Ia bukan lagi milik orangtuanya, tetapi sepenuhnya menjadi tanggung jawab suaminya.


Tetapi hati kecilnya pun merasa takut jika ditinggalkan putrinya pergi jauh.


Ia berharap Kartika masih akan tetap bersamanya walaupun telah menikah. Dan suaminya mau ikut tinggal bersama mereka juga.


.........


"Gimana, Tik? Sudah dibicarakan sama Herdilan?" tanya Mamanya dipagi hari saat Kartika sudah mandi dan hendak mengambil roti untuk sarapannya.


"Hei, matamu kenapa bengkak begitu? Semaleman pasti menangis ya?" tanyanya lagi, penuh selidik.


Kartika tak menjawab. Wajahnya ia sembunyikan dengan sikap menunduk.


"Apa kata Herdilan?"


"Belum, Ma! Tika belum menanyakannya. Kayaknya sedang kumpul keluarganya!"


Akhirnya Kartika menjawab juga. Meski dengan nada ogah-ogahan.


"Hhh...!!!"


Kartika seperti merasakan tekanan yang luar biasa besar. Membuatnya sesak dan ingin kembali ke kamar.


"Tika! Kalau Herdilan sampai tetap pada pendiriannya dan kamu harus ikut pindah ke Singapura, sebaiknya...kalian bercerai saja!"


"Mama!!! Kenapa Mama ngomong sembarangan gitu?" bentak Tika yang mulai kesal.


"Ya habisnya daripada kamu ikut dia pindah ke Singapura. Mendingan kalian cerai saja! Toh kamu sudah punya status sebagai istri, walau cuma sebentar. Dan orang tidak akan lagi menyebutmu perawan tua!"


"Mama!!! Hentikan ocehan omong kosongmu!" bentak pak Fajar yang baru saja pulang dari rumah Pak RW.


"Hik hik hiks...!"


Bu Fajar menangis lagi. Tapi tidak dengan Kartika.


Kini gadis itu memeluk tubuh Mamanya. Berusaha sabar dan memberikan pengertian.


"Ma! Khan Mama yang selalu berdoa meminta pada Allah supaya Tika diberikan jodoh! Lalu kenapa Mama sampai punya fikiran seperti itu? Menyuruh Tika cerai padahal saat ini pun Tika masih belum menikah! Ucapan itu adalah doa, Ma! Mama khan selalu minta menantu yang baik, yang sayang sama Tika, sayang sama Papa Mama. Dan sekarang Allah kirimkan, tapi Mama...,"

__ADS_1


"Itu karena kamu punya niatan pindah ikut suamimu! Coba kalau kamu engga' bilang hal-hal aneh yang bikin Mama sakit kepala. Engga' akan Mama ngomong buruk sama kamu!"


"Ya udah, Tika minta maaf! Tika minta maaf kalo Tika udah bikin Mama resah!"


"Janji ya, jangan ngomong-ngomong mau pindah! Mama bisa sakit nih!"


"Jangan dong, khan Tika nikahnya minggu besok. Kalo Mama sakit, lalu pernikahan Tika gimana?"


Bu Fajar menangis tersedu-sedu. Kedua tangannya memeluk erat pundak Kartika. Ia benar-benar sedih dan takut kehilangan anak semata wayangnya.


"Tik! Hik hiks..., bolehkah Mama cerita kenapa Mama sangat takut ditinggal Tika pindah jauh ke negeri orang?"


Kartika mengangguk. Kakinya melangkah dengan tangan menuntun sang Mama agar mereka bisa lebih rileks duduk di sofa.


"Ada teman pengajian Mama. Dia juga punya anak satu saja. Anaknya minta izin kerja ke luar negeri. Ke Malaysia katanya. Dan ga' pulang-pulang sampai sekarang sudah enam tahun. Hik hiks.. bu Bedah sekarang sering sakit-sakitan, tapi putrinya belum juga pulang. Mama takut kamu jadi seperti itu, Tik! Hik hik hiks..."


"Ma! Tika khan anaknya Mama! Tika juga bukan anaknya bu Bedah. Jadi jelas-jelas kami berbeda. Memangnya Mama mau punya anak seperti bu Bedah?"


"Justru itu, Mama larang kamu pergi dari rumah ini. Ya takut kamu jadi seperti anak bu Bedah itu! Hik hik hiks..."


"Hhh... Mama, Mama!"


Pak Fajar hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ada rasa jengkel juga iba bercampur jadi satu melihat kelakuan istrinya.


Kadang memang menjadi tua tidak serta merta menjadi dewasa.


Bu Fajar sepintas tingkahnya jadi mirip seperti bocah usia belasan tahun yang sedang merajuk minta dibelikan sesuatu.


Dan Kartika harus punya ekstra kesabaran dalam menghadapi kesedihan bu Fajar, Mamanya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam! Pak Saiful? Masuk, Pak!"


Ada seorang tamu yang datang memberi salam. Dia adalah pak Saiful, suami almarhumah bu Jamilah.


Kedatangannya disambut pak Fajar, tapi tidak dengan bu Fajar.


Beliau lebih memilih masuk kamar setelah bersalaman basa-basi pada tamu yang kurang disukainya itu.


"Silakan duduk, Pak! Mau Tika buatkan kopi?"


"Tidak usah, Nak! Air teh saja, terima kasih!"


"Baiklah! Papa juga mau teh manis hangat?"


"Boleh deh! Hehehe...!"


Kartika ke dapur menyiapkan minuman untuk Papa dan Pak Saiful. Sementara bu Fajar, meskipun masuk kamar tetap memasang telinga karena ingin mendengarkan percakapan para pria itu.


"Pak Fajar, saya minta maaf... tidak bisa menghadiri pernikahan Kartika nanti!" ujar Pak Saiful memulai pembicaraan.


"Lha? Kenapa, Pak? Acaranya minggu besok koq! Masih ada waktu. Hehehe..., semoga nanti bisa menyaksikan putri kami walimatul ursy!"

__ADS_1


"Istrinya Nirwan mau operasi hari jum'at besok, Pak! Jadi, kami tidak bisa hadir diacara bahagia Kartika!"


"Operasi? Kenapa memangnya? Sakit apa?"


"Ada miom di rahimnya. Ternyata setelah di USG, kondisinya sudah sangat besar dan harus segera ambil tindakan!"


"Ya Tuhan...! Semoga lekas sembuh ya, menantu pak Saiful!"


"Aamiin..., terima kasih doanya Pak! Saya juga mendoakan pernikahan Kartika lancar, rezekinya berlimpah, dan rumah tangganya sakinah mawaddah warrohmah."


"Aamiin! Makasih, Pak!"


"Saya juga..., mau minta maaf, atas semua kesalahan dan kekhilafan saya dan almarhumah istri saya dimasa lalu!"


"Sudahlah, jangan diingat lagi masa-masa pahit itu. Kami sudah melupakannya, Pak Saiful!"


"Andai saya tidak selalu mengalah mengikuti kemauannya, mungkin tidak akan sejauh ini kejahatan yang kami lakukan. Andai dulu saya bisa tegas membimbing dan mendidik istri saya, hik hik hiks...!"


Pak Saiful hanya bisa terisak. Ia menyesali semua yang pernah terjadi dalam hidupnya.


"Saya tidak menjadi suami dan pasangan yang baik. Karena saya terlalu takut untuk menunjukkan kepadanya kalau ia telah salah langkah. Padahal hati kecil saya selalu tidak bisa menerima semua yang istri saya lakukan. Tetapi saya justru membiarkan dan bahkan mengikuti semua kehendaknya."


"Ya. Terkadang kita sebagai suami tidak mau ambil resiko dimarahi istri. Kita juga lebih terkesan cari aman, dan membiarkan istri kita melakukan kesalahan-kesalahan yang justru harus kita pertanggungjawabkan nanti di akhirat. Hhh...!"


"Iya. Istri saya mulai berubah sejak putri kami meninggal dunia. Dia tidak bisa terima kalau Chintia lebih disayang Allah Ta'ala dan dipanggil lebih dulu ke Pangkuan-Nya. Fikirannya terlalu sedih. Sehingga tidak bisa menerima kalau itu semua adalah takdir. Dan saya, ikut andil dalam kesalahan-kesalahan fatalnya."


"Sebenarnya saya sangat mengerti kesedihan Bu Jamilah sebagai seorang ibu. Orangtua mana yang tidak akan sedih dan sakit hatinya karena putri tercinta diambil Tuhan dengan cara yang tragis. Tapi, melakukan suatu perbuatan yang jahat itu juga dosa besar. Ah, sudahlah...! Mari kita buka lembaran baru. Semoga kehidupan pak Saiful kini lebih tenang dan mendapat berkah dari Allah!"


"Aamiin! Saya sekarang tinggal dengan Nirwan, putra kedua saya. Istrinya meminta saya untuk ikut mereka. Sekarang saya hanya pasrah pada kehendak Tuhan saja. Apalagi ternyata menantu saya yang dulu sempat saya dan istri cemooh itu anaknya baik luar biasa. Latri malah kini yang mengurus saya dan menganggap seperti orang tua sendiri. Dulu, istri saya takut sekali, kalau istri dari anak kami adalah orang yang cuma menguasai putra saya saja. Kami hanya menumpukan harapan pada Chintia yang anak perempuan. Tapi Allah punya rencana lain, Chintia justru berpulang lebih dulu dan justru istrinya Nirwan yang sangat kami benci ternyata kinilah yang mengurus saya di usia tua seperti ini. Andai dulu kami tidak berfikir terlalu jauh, mungkin keadaannya tidak seperti sekarang ini. Hhh... Balik lagi, mungkin ini takdir hidup saya ya Pak!?"


"Hhh... Anak memang darah daging kita. Tapi tetap biar bagaimanapun, ketika mereka dewasa, mereka adalah individu yang bebas merdeka. Punya kehidupan sendiri yang harus mereka jalani. Kita sebagai orangtua hanya tinggal mendoakan kebaikan saja. Semoga anak kita hidup bahagia dan bisa mengambil pelajaran dari didikan kita di masa kecilnya."


Bu Fajar yang menguping kini kembali berurai airmata.


Percakapan panjang antara pak Saiful dan suaminya mampu membukakan mata serta pintu hatinya.


Semalam dan barusan ia masih bersikap kekanak-kanakan juga egois menentukan sikap agar sang putri serta suami mengikuti kemauannya yang keras. Itu karena ia takut kehilangan putri tunggalnya.


Akhirnya ia sampai hati mengucapkan kalimat yang setelah difikir-fikir pastinya menyakiti hati sang putri yang disayanginya.


Ia tadi tanpa sadar menyuruh sang putri cerai jika menantunya tidak mau mengikuti keinginannya.


Seketika bu Fajar mencari-cari Kartika yang sedang duduk berjongkok sambil menangis dipintu dapur rumahnya.


Rupanya Kartika juga menyimak obrolan sedih pak Saiful dan Papanya. Ia juga terharu dan menangis sampai lupa membawakan teh manis buatannya pada mereka.


"Tika! Hik hik hiks...! Tikaaa, maafkan Mama ya Nak!"


"Mamaaa!!! Hik hik hiks, maafin Tika juga!"


Kedua ibu dan anak itu saling berangkulan di dapur dengan berurai airmata.


Ternyata percakapan pak Saiful dan pak Fajar ada hikmahnya bagi mereka.

__ADS_1


...❤❤❤ BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2