SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 1


__ADS_3

SENJA BARU UNTUK SYANIA


 



Prolog


Semakin Aisakha membuktikan ketulusan cintanya pada Syania, semakin membuat Syania menjauh.


Syania takut rasa sakit dari kisah yang lalu akan terulang kembali. Di hina, di anggap pembawa sial, hingga di anggap tidak sederajat, cukup menjadi dasar baginya untuk menjadi Syania tanpa cinta. Karena dia tidak akan sanggup saat harus merasakan sakit itu lagi.


Sakit...sangat sakit...bagaimana mungkin Syania bisa melupakan rasa sakit itu.


Tetapi Tuhan punya cara sendiri menentukan semuanya hingga pada akhir cerita.


 


----------------------------------------


PERKENALKAN


Syania Fira Sujoko, biasa di panggil Nia. Saat dia masih dalam kandungan Ibunya di usia 7 bulan, Ayahnya


meninggal dunia karena kecelakaan saat pulang dari bekerja. Ibu yang sangat menyayanginya pun telah tiada saat


dia baru menginjakkan kaki di SMA. Kemudian, Nia dibesarkan oleh sang Nenek dari pihak Ibunya, tetapi lagi-lagi Nia harus menerima kenyataan saat sang Khalik memanggil Neneknya saat dia baru menamatkan bangku perkuliahan.


 


Gadis manis dengan kulit kuning langsat ini baru berusia 23 Tahun. Nia dikarunia Tuhan dengan kecantikan paras


alami, walaupun postur tubuhnya tergolong kecil dengan tinggi 168 cm, tetapi Nia memiliki mata bulat dengan alis


rapi dan disempurnakan dengan bulu mata yang lentik. Hidung mancung dengan bibir kecil nan seksi, semua


terbingkai dengan wajah oval dan rambut panjang hitamnya. Sekarang Nia sebatang kara hidup di Jakarta,


 


Sebenarnya Nia masih memiliki keluarga di Bengkulu yaitu Paman dan Bibi Ros, serta 2 orang sepupunya, yang merupakan anak dari nenek Nia, kakak Ibunya. Sesekali Nia sengaja datang berkunjung ke sana atau sebaliknya. Tetapi semenjak neneknya sudah tiada, Nia memang tidak pernah lagi ke sana. Komunikasi mereka sekarang terjalin hanya melalui telepon.


 


 


--------------------------------------


 


Episode 1


Tiga Tahun Yang Lalu (1)


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Saat weekand seperti ini, Nia bisa mengisi waktu luang dengan asyik membersihkan rumah kontraknya yang


sederhana. Meskipun rumah itu tergolong kecil, yang terdiri dari 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, kamar mandi dan


dapur, tetapi Nia sudah merasa lebih dari cukup. Kontrakan itu terasa nyaman bagi Nia. Di Kota besar seperti


Jakarta, bukan perkara mudah mencari kontrakan yang nyaman dan murah. Menurut Nia, dia benar-benar beruntung


bisa mendapatkan kontrakan di kawasan yang bebas dari banjir dan memiliki akses yang gampang ke mana pun,


terutama ke kantor tempat dia bekerja.


 


Sebenarnya, sejak 3 minggu yang lalu Nia sudah merencanakan liburan dengan mendaki Gunung di Bandung


bersama Edo kekasih hatinya dan teman-teman mereka. Rencana sudah sangat matang tinggal eksekusi di hari H


saja, tetapi Nia lupa memperhitungkan 1 hal, yaitu tamu bulanannya yang ternyata datang 1 hari sebelum acara


mendaki dilaksanakan. Edo meminta Nia agar tidak usah ikut serta pada pendakian ini karena untuk bisa sukses


mendaki diperlukan stamina yang kuat, yang fit sedangkan tubuh Nia saat datang bulan cenderung sedikit lemah.


 


Sejujurnya, Nia sangat keberatan dengan permintaan pacarnya itu agar dia tidak ikut serta, bukan apa-apa


pendakian ini adalah pengalaman pertama bagi Nia. Nia benar-benar berharap mendapat petualangan yang seru di


weekand kali ini, mendaki bersama orang yang dicintai, bahu membahu untuk sampai di puncak gunung, menikmati


senja bersama lelaki pujaan hatinya. Tetapi apa daya, memang tubuhnya cenderung sedikit lemah saat sedang


datang bulan. Dari pada menyusahkan Edo, biarlah untuk saat ini acara mendaki ditunda dulu. Nanti saat ada waktu


yang pas aku akan pergi berpetualang bersama Edo, guman Nia dalam hati saat itu.


 


Jam sudah menunjukkan pukul 14.21 Wib tetapi belum ada juga kabar dari Edo dan teman-tamannya yang sudah


pulang dari pendakian. Sementara acara beres-beres rumah sudah selesai dari 1 jam yang lalu. Karena lelah dan


rasa kantuk yang mendera akhirnya Nia memutuskan untuk tidur sejenak.


 

__ADS_1


Tepat pukul 16.00 Wib, lagu Ed Sharen yang berjudul Perfect berbunyi di handphone Nia, lagu tersebut adalah nada


panggil dihandphonennya. Dengan sedikit malas Nia mencoba mengumpulkan nyawanya yang baru tersadar.


Eh..kok Toni nelepon ya? Tanya Nia dalam hatinya. Toni, Angga, Dafi dan Ardi adalah sahabat-sahabat Edo yang


sekaligus teman Edo mendaki 3 hari ini. Secepat kilat Nia mengambil handphonennya dan mengangkat panggilan


Toni.


 


“ya...Hallo”. Sapa Nia membuka percakapan ditelepon tersebut.


“Nik..Niaaa..kamu dimana sekarang”, terdengar suara panik Toni di ujung telepon. “Kamu bisa secepatnya datang ke


Rumah Sakit Cintella, segera pokoknya”. Suara Toni yang benar-benar panik.


 


“Rumah Sakit? kenapa Ton, ada apa? Kenapa aku harus ke rumah sakit? Apa yang terjadi Ton? Mana Edo? Kenapa


dengan Edo?” begitu banyak pertanyaan yang Nia ajukan pada Toni. Dia pun mendadak menjadi kaget setelah Toni


memintanya untuk segera ke Rumah Sakit.


 


“Nggak ada waktu buat cerita ditelepon. Pokoknya kamu segera kesini ! Aku ma yang lain udah di sini semua”.


Perintah Toni.


 


“Iya..iya..aku ganti baju dulu dan langsung ke situ. Sebentar lagi aku pasti sampai. Ton, ada apa dengan Edo?” lagi-


lagi Nia bertanya kepada Toni. Nia mulai dirundung kekhawatiran, kenapa Toni memaksa dia agar segera sampai di


Rumah Sakit, kemana Edo? Kenapa dia tidak menghubungi Nia. Ah, hati Nia tidak tenang, apa yang terjadi pada


kekasihnya. Rasa cemas mulai melanda Nia.


 


Dua puluh lima menit kemudian Nia sudah sampai di rumah sakit. Toni, Angga, Dafi dan Ardi sudah menunggunya di depan IDG, jantungnya berdetak kencang, tiba-tiba ada rasa sedih yang mendera hatinya. Kenapa ini? Kenapa wajah Toni, Angga, Dafi dan Ardi begitu memperlihatkan kekhawatiran dan kenapa tampilan mereka sangat lusuh? Di mana


Edo? Tanya Nia dalam hati saat melihat teman-teman pacarnya dari jauh.


“Nia, syukurlah kamu sudah sampai”. Toni menyambut kedatangan Nia yang setengah berlari mendekatinya.


 


“Ton, mana Edo? Ada apa ini?” Nia benar-benar tidak tahan untuk tidak bertanya. “Apa yang terjadi, mana Edo? Toni,


 


“Sabar Nia, kemarilah aku akan jelaskan semua”. Toni membawa Nia menuju ujung IGD tersebut. Dengan susah


payah akhirnya Toni mulai bercerita. “Nia, sebenarnya telah terjadi sesuatu pada Edo”.


 


Baru mendengar satu kalimat dari mulut Toni tentang Edo sudah membuat lutut Nia menjadi lemas. Matanya mulai


bekaca-kaca, tangannya pun mulai basah, keringat dingin mulai keluar.


 


“Ada apa Ton, kenapa dengan Edo? Mana Edo sekarang Ton? Cepat cerita sama aku”. Nia kembali mendesak Toni


agar segera bercerita.


 


“Emm..aku akan cerita semuanya, tapi kamu tenang dulu. Aku jadi bingung harus gimana inih kalau lihat kamu udah


mau nangis gituh”. Toni tetap berusaha menenangkan Nia sebelum memulai semua ceritanya.


 


Nia mencoba menarik nafas, semua bayangan buruk tentang Edo yang sempat dipikirkannya sepanjang perjalanan


menuju Rumah Sakit di coba untuk dienyahkannya. “ceritakanlah Ton, aku janji akan tenang”.


 


Toni pun mencoba menceritakan semua pada Nia. “Nia, seharusnya jam 5 subuh tadi kami semua sudah sampai di


pesangrahan 1 dan setelah beristirahat sejenak, jam 12 tadi seharusnya kami sudah di rumah masing-masing,


tap..tapiii karena sesuatu hal kami semua jadi terlambat”. Toni menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar dapat


kembali bercerita, suaranya mulai terbata-bata.


 


“Nia, Edo mengalami kecelakaan saat kami akan turun gunung”. Toni akhirnya melanjutkan ceritanya.


 


Serasa melihat petir disiang hari, Nia benar-benar terkejut. Sesaat nafasnya berhenti, sebentuk butiran hangat jatuh


di sudut matanya. Mukanya berubah menjadi pucat. Entah kenapa rasanya dia tak sanggup untuk berdiri lagi. Toni


yang melihat Nia nyaris pingsan segera memegang kuat tangannya.

__ADS_1


 


“Nia, cobalah untuk bernafas pelan-pelan, kamu harus kuat”. Toni mencoba menguatkan Nia.


Sesaat Nia merasa lumpuh, semua anggota badannya tidak bisa digerakkan, takut sangat takut itu yang


dirasakannya sekarang. “Ton, kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi?”


 


“Saat kami hampir sampai di puncak gunung, tanpa sengaja Edo melihat bunga liar yang sangat indah. Menurut Edo


kalau dia bisa membawa pulang satu tangkai bunga tersebut buat kamu, kamu pasti akan senang. Awalnya kami


melarangnya Nia, karena bunga itu berada di pinggir tebing yang curam. Tapi, tanpa sepengetahuan kami saat kita


mau balik subuh tadi, Edo ternyata pergi kembali ke lokasi bunga itu dan memanjat tebing tersebut. Mungkin karena


kurang perhitungan dan kurangnya penerangan, Edo..Edo..emmmm,, Edo jatuh Nia ke dasar jurang”. Penjelasan


panjang Toni


 


DUARRRRRRRRRRRRR.....


Sekali lagi Nia merasa melihat petir besar di siang hari. Jantungnya serasa berhenti, pandangannya menjadi kabur,


butiran hangat di sudut matanya mengalir tanpa bisa dia hentikan. "Edo, oh Edo, Edo...". Hanya itu yang terucap


dihatinya.


 


Toni yang melihat Nia sudah mulai hilang kesadaran langsung merangkul dan mendudukkannya di kursi pada ujung


IGD tersebut. Toni mengguncang bahu Nia sambil berujar, “Nia, sadar Nia..sadar, kamu harus kuat..jangan seperti


ini. Kasihan Edo kalau tahu kamu jadi seperti ini. Kamu harus yakin Edo nggak kenapa-napa, Edo sudah ditangani


tim dokter. Doa Nia, doa, doa yang banyak buat Edo”.


 


Sebenarnya Toni tidak tega melihat wajah pucat Nia yang sangat khawatir saat ini. Hanya kata-kata penyemangat


itulah yang bisa dirangkainya untuk pacar sahabatnya itu. Semoga Tuhan menyelamatkan Edo.


 


Nia hanya terdiam, air mata tak henti-hentinya mengalir dari sudut matanya. Hatinya benar-benar takut, ya Tuhan


selamatkanlah Edo. Nia berdoa dalam hatinya, sambil mencoba mengatur nafasnya agar bisa tenang.


 


Sesaat kemudian Nia menangkap keberadaan seorang wanita cantik paruh baya yang sedang menangis tersedu-


sedu di depan IGD, wanita itu tengah menangis dalam pelukan seorang pria paruh baya yang tampan. Tetapi, guratan takut jelas terlihat di wajah pria itu, meskipun dia sibuk membelai dan menenangkan wanita paruh baya yang menangis di dalam pelukannya itu, sebenarnya dia sendiri sangat takut saat ini. Takut akan hal-hal buruk terjadi pada anak semata wayang mereka. Ya, mereka adalah Tante Sandara Winata dan Om Rendra Winata orang tua kandung dari Yuedo Gilang Winata, laki-laki yang sangat dicintai Nia yang sekarang tengah berjuang di ruangan IDG itu. Nia sangat ingin menyapa mereka, ingin sama-sama menguatkan demi keselamatan Edo, tetapi Toni


mencegahnya.


 


“Jangan sekarang Nia, kamu sangat kacau. Tenangkanlah dirimu dulu. Kasihan Om dan Tante kalau lihat kamu


seperti ini”, Cegah Toni. Sebenarnya Toni sangat terpaksa menjauhkan Nia dari orang tua sahabatnya itu, bukan


karena apa. Sesaat setelah orang tua Edo tahu detail cerita musibah yang menimpa Edo, Mama Edo sangat marah


kepada Nia. Tante Sandra menuduh Nialah penyebab kecelakaan itu. Toni takut kalau Nia mendekati mereka, dia


hanya akan dipermalukan saja. Sekarang semua sedang panik, jadi biarlah semua saling menjauh.


 


Tidak berapa lama kemudian keluarlah laki-laki memakai jas putih yang pada bagian-bagian tertentu di lengan dan


bagian depan jasnya dipenuhi noda merah, darah.


 


“Keluarga Edo”, kata laki-laki tersebut.


Cepat Om Rendra dan Tante Sandra mendatangi laki-laki tersebut, yang disusul Angga, Dafi dan Ardi. Sementara


Toni masih memaksa Nia duduk bersamanya di ujung IGD menyaksikan semua dari jauh.


 


“Perkenalkan, saya Darma dokter IGD yang menangani Edo begitu dia sampai di Rumah Sakit kami”, dokter itu mencoba ramah saat melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari semua mata yang memandang.


 


“Bagaimana kondisi anak kami dok? Edo enggak papakan dok? Edo baik-baik aja dok? Iya dok?” Om Rendra


langsung mengeluarkan pertanyaan demi pertanyaan yang sedari tadi ditahannya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2