
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Wanita paruh baya pemilik rumah megah bak istana itu sedang menikmati teh hangatnya sambil memandangi hasil akhir pekerjaannya di taman belakang. Semenjak Aisakha, anak semata wayangnya mengatakan kalau Nia adalah calon menantunya, maka semenjak itu wanita yang sisa-sisa kecantikan masih tergambar jelas di wajahnya ini bertekad. Akan membuat rumah keluarga besar Britana menjadi surganya bagi calon menantu kesayangannya itu. Karena itulah, pagi ini Mama Aisakha sengaja menambahkan bunga mawar putih, bunga favorit calon menantunya itu ke dalam koleksi bunga di taman belakang. Mama sangat berharap, keberadaan bunga mawar ini akan membuat perasaan Nia selalu bahagia, kelak saat gadis berambut panjang itu telah menjadi nyonya muda di rumah mereka.
 
Pelan, seruputan kedua bibir renta Mama Aisakha menikmati teh hangatnya, hingga Riana, pelayan wanita yang sekarang bertugas melayani Nia datang nenemuinya sambil membawakan handphone miliknya yang sibuk berbunyi keras.
 
"Ada telepon nyonya ". Riana menyerahkan dengan sopan benda mungil di dalam gengaman tangannya pada sang nyonya.
 
"Terima kasih Riana ". Rianapun kembali ke dalam, melanjutkan pekerjaannya.
 
"Bibinya Nia ". Ucap Mama saat tahu siapa gerangan peneleponnya pagi ini.
 
"Ya..hallo Bu besan ". Mama memulai pembicaraan. "Bu besan apa kabarnya di sana ?"
 
"Baik Bu besan, saya dan bapaknya baik. Alika dan keluarganya juga baik. Kami semua baik di sini ". Suara Bibi Ros terdengar senang.
 
"Bagaimana kabar Bu besan ? Dan Nia, bagaimana keadaan Nia di sana ? Apa dia merepotkan Bu besan ?" Bibi cukup penasaran.
 
"Ooo, tentu saja tidak Bu besan. Menantu saya itu sangat di sukai di rumah ini, semua langsung jatuh hati pada sikap santunya. Sepertinya Nia sudah punya fans di rumah ini. Hahaha ". Mama tertawa geli. "Ooiya, kami di sini juga baik-baik saja semuanya ".
 
"Itulah Nia, dia sangat pandai menempatkan diri dimana saja ". Ucap Bibi sambil mengangguk di ujung telepon.
 
"Ada apa gerangan Bu besan menelepon saya pagi ini ? Semoga ini adalah kabar baik ?" Mama mengangat gelas tehnya.
 
"Iya, saya punya kabar baik untuk Bu besan ". Jawab bibi cepat. "Bisa tolong kirim Nia pulang hari ini ?"
 
__ADS_1
"Ke Bengkulu ?" Tanya Mama Aisakha tidak percaya.
 
"Iya benar, tolong antar Nia kembali ke sini !" Jawab Bibi santai.
 
"Kenapa ? Ada apa ? Ada apa ini besan ?"
 
"Ya...karena Nia dan Aisakha harus kita pinggit lagi ".
 
"Pinggit ? Bagaimana ini ? Masih lamakan 3 minggu lagi. Lagi pulaaaa........ ",
 
"Bukan 3 minggu tapi 10 hari lagi, jadi mereka harus kita pisahkan sebelum sampai hari penting itu tiba !" Bibi Ros memotong pembicaraan.
 
"Se, sepuluh hari lagi ? Ini maksudnya gimana ya ? Tolong bahasa bu besan di perjelas ?" Nada suara penuh penasaran dan pengharapan bercampur satu.
 
 
"Ini seriuskan besan..aduh, aduh..saya lupa nafas ". Terdengar suara tarikan nafas. Rasa senang dan tidak percaya bersatu di saat yang sama hingga membuat Mama lupa menarik nafas panjang. "Saya senang sekali, Sakha juga pasti senang. Akhirnya.....",
 
"Tapi kami punya syarat ". Serta merta suara senang Mama menghilang.
 
"Apa, Bu besan mau apa ? Saya akan usahakan ". Janji Mama sungguh-sungguh.
 
"Lokasi akad pernikahan keluarga kami yang tentukan ! Untuk itu, sesampainya Bu besan di sini akan kita bahas masalah itu. Kedua, setelah Nia sampai di sini antara Nia dan Aisakha tidak boleh bertemu. Mereka juga hanya boleh teleponan satu kali sehari tetapi tanpa Video call. Ketiga, Nia boleh di bawa ke Jakarta minimal 2 hari setelah menikah, dan selama itu Nia dan Aisakha tidak boleh sekamar ". Mama merasa ada persyaratan yang tidak masuk akal.
 
"Untuk syarat ketiga, apa tidak bisa di ralat lagi. Itu rasanya terlalu aneh, apa kita nggak dosa memisahkan mereka berdua yang sudah sah sebagai suami isteri. Lagi pula Bu besan, kalau mereka sudah menikah tapi gak boleh sekamar. Nanti kita ini kapan bisa memiliki cucu coba ?" Protes Mama.
 
"Percayakan semua sama saya, tolong di penuhi ya Bu besan ". Pinta Bibi sangat menyakinkan. "Semua ini demi anak-anak kita, saya dan suami, kami akan melakukan yang terbaik untuk Nia ".
__ADS_1
 
"Tapi saya juga punya permintaan Bu besan ".
 
"Apa, silahakan saja !"
 
"Karena pernikahan anak-anak kita akan berlangsung di tempat Bu besan, maka resepsinya akan berlangsung di tempat saya. Saya ingin mengumumkan pada semuanya kalau anak saya sudah menikah, jadi acara akan di buat sangat megah ". Mama merasa ada kediaman di ujung telepon.
 
Sesaat kemudian, "baiklah. Kita sepakat !" Jawab Bibi di sertai senyum senangnya di ujung telepon.
 
****************
 
Wajah bosan menghiasi kening Edo, sudah bolak balik dirinya berusaha memeriksa beberapa berkas pekerjaan, tetapi sangat di sayangkan semua sia-sia. Pikiran Edo sedang tidak sejalan dengan hatinya. Semua jelas hanya pengalihan dan tidak berfaedah.
 
"Andai semua sahabatku ada di sini. Pasti aku tidak akan sesuntuk ini ". Edo berbicara pada diri sendiri.
 
Edo memejamkan matanya. Bayangan wajah Toni, Ardi, Dafi dan Angga muncul seketika. "Apa mereka masih marah ya ?" Tanya Edo pada dirinya.
 
"Kira-kira kalau aku telepon mereka apa reaksinya ?" Sekarang Edo sedang memandang lekat handphonenya.
 
"Mungkin aku coba dari Toni dulu. Toni dan aku sudah berteman sejak lama, semoga Toni bisa mengerti aku dan mau berbicara denganku ". Berusaha mengapai handphone di sudut meja bacanya.
 
"Ahhh...tidak, tidak, lebih baik aku ke rumah Toni saja. Bicara langsung lebih baik ketimbang aku gomong lewat hp. Ya..ide bagus ".
 
Akhirnya dengan cekatan Edo mengambil kunci mobinya, segera secepat mungkin Edo menjalankan mobil kesayangannya itu kearah rumah Toni. Semua rencana permintaan maaf telah di susun Edo. Sejujurnya Edo memang sangat mengharapkan bisa segera berbaikan dengan sahabat-sahabatnya itu seperti sedia kala. Rasanya hidup tanpa sahabat baik itu sangatlah hampa, dunia terlalu kosong meskipun kita di tengah keramaian.
 
 
__ADS_1