
Kenekatan Aisakha
πππππ
γ
"Isteriku". Suara keras Paman membuat dirinya sendiri menjadi terkejut, suara kerasnya yang memanggil Bibi justrus membangunkannya. Paman mengelap asal keringat yang mengalir di keningnya. Mengusap wajahnya dengan tangan beberapa kali.
γ
"Aku mimpi". Kesadaran Paman mulai kembali terkumpul.
γ
"Oh, isteriku". Paman kembali menatap wajah pucat sang isteri yang masih tenang dalam tidur panjangnya. "Semua terasa nyata sayang". Paman memegang jemari Bibi, matanya mulai berkaca-kaca. "Oh, isteriku". Paman masih berusaha membangunkan Bibi.
γ
"Kamu bilang hanya ingin tidur sajakan, begitukan? Dan setelah lelahmu hilang kamu akan bangunkan?" Paman berbicara sendiri sambil menatap lekat Bibi yang hanya diam dengan mata terpejam.
γ
"Baiklah, baiklah..tidurlah dengan nyenyak". Air mata mulai jatuh di sudut mata Paman. "Aku akan selalu di sisimu, menjagamu. Dan saat lelahmu sudah hilang, segeralah bangun. Aku tidak sanggup hidup tanpa kamu di sisiku, isteriku. Berjanjilah, aku mohon". Paman mengecup jemari Bibi sambil terus mengajak Bibi berbicara.
γ
***************
γ
Aisakha melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah masuk dini hari ternyata". Guman kecilnya saat tahu jarum jam telah menunjukkan tepat di angka satu.
γ
Suasana sepi, sangat tenang. Tidak ada lalu lalang orang, tidak ada suara gelak tawa, tidak ada suara saling menyapa. Hanya senyap yang menemaninya sedari tadi. Aisakha memandang Kristo, entah di menit dan angka pasti berapa Kristo mulai terlelap. Sepertinya, sekretarisnya itu tidak mampu membendung kantuknya. Walaupun hanya dengan posisi duduk dengan kepala bersandar ke sisi belakang kursi, Kristo dapat tertidur tenang.
γ
Terlihat bekas merah dari ayunan tangannya tadi di wajah Kristo telah hilang, menyisakan sebentuk tanda kecil di sudut bibir Kristo, tidak terlalu kentara hanya kecil saja. Mungkin itu adalah tempat cairan merah tadi keluar akibat kerasnya ayunan tangan Aisakha di wajah Kristo.
γ
__ADS_1
Aisakha mencoba mencari posisi duduk, bukan hal mudah memang. Karena sejujurnya dia sangat lelah. Pagi dia sudah berkutat dengan begitu banyak pekerjaan di kantor pusat, siang dengan suasana hati yang sedih dia terbang ke Bengkulu dan malam dia harus bertahan dalam rasa sakitnya karena di usir Paman, Paman dari wanita yang sangat dicintainya.
γ
"Aku rindu kamu sayang". Guman Aisakha sambil menutup wajahnya. Pelan tapi pasti, dirinya mulai merasa tersiksa dengan semua ini.
γ
Nia ada di dalam ruangan tempat Bibi di rawat. Hanya beberapa meter jaraknya dari dirinya, hanya terpisah dinding Rumah Sakit, tetapi dia tidak bisa melihat Nia apa lagi menyentuhnya. Rasanya benar-benar menyiksa.
γ
"Ahhhh, kenapa harus seperti ini?" Aisakha mulai memijat pelan keningnya.
γ
"Kalau aku lihat sebentar pasti tidak apa-apakah? Hanya lihat saja. Aku tidak akan mendekatinya apa lagi menyentuhnya" Aisakha terlihat memiliki sebuah rencana. "Toh sudah tengah malam. Paman pasti tertidur, aku hanya mau melihat Nia. Memastikan dia baik-baik saja".
γ
Ragu, hati kecilnya sangat ragu. Tetapi kerinduannya sudah membuncah. Dia merasa sangat sulit mengendalikan rasa rindu itu.
γ
γ
Terlihat Aisakha memandang kearah pintu, beralih melihat ke sekeliling, kemudian berakhir di arah Kristo yang masih tertidur. Bagai seseorang yang hendak melakukan sebuah kesalahan besar, Aisakha sedang mempelajari situasi sekitar.
γ
"Sepertinya aman". Aisakha terlihat tengah berdiri, berjalan pelan sedikit mengendap-endap demi bisa membuat langkah kakinya tidak terdengar oleh siapapun.
γ
Sekarang Aisakha sudah berdiri di depan pintu kamar rawatan Bibi. Sekali lagi melihat ke sekeliling, menilai situasi hingga mencoba memasang telinga di pintu kamar rawatan tersebut.Β Sepi...mungkin Paman tengah tertidur.
γ
Nekat, Aisakha memegang gagang pintu, menurunkannya perlahan, sangat perlahan. Hingga tidak menimbulkan bunyi apapun. Kemudian sekali lagi memastikan suasana sekitar, hingga mencoba mendorong pintu dengan lambat.
γ
__ADS_1
Berhasil, pintu sedikit terbuka. Ada celah kecil yang berhasil dibuatnya. Cepat, Aisakha memperhatikan sekeliling sejauh mata mampu mengamati, dia sibuk mencari Nia. Tetapi sayang, dari celah kecil itu Aisakha tidak bisa menemukan keberadaan Nia.Β Dimana Nia? Kenapa tidak nampak.
γ
Sangat terpaksa, Aisakha kembali mendorong pintu dengan perlahan. Mencoba membuat celah kecil menjadi cukup besar hingga dia bisa leluasa melihat Nia. Dan berhasil, sekarang pintu telah terbuka besar. Aisakha maju selangkah langsung mencari keberadaan Nia.
γ
Ahhh....sayang. Aisakha memegang dadanya. Rasanya sangat sakit melihat kondisi Nia saat ini. Aisakha melihat Nia meringkuk dengan satu tangan memeluk bantal yang menutupi wajahnya. Apa kamu menyembunyikan tangismu di balik bantal itu sayang? Ya Tuhan, maafkan aku. Maafkan aku sayang. Kamu harus merasakan semua ini.Β Betapa sedihnya Aisakha menyaksikan kondisi wanita yang dicintainya itu. Kepedihan terpancar jelas di mata birunya.
γ
Lama Aisakha mematung diam di tempatnya berada, hanya bisa memandangi Nia tanpa berkeinginannya melihat sekitarnya. Hanya fokus pada Nia dan lupa situasi di sekitarnya. Hingga dia tidak menyadari, bahwa Paman sedari tadi memperhatikan setiap gerak-geriknya.
γ
Ternyata anda tidak pergi ya, walaupun sudah saya usir, anda masih bertahan, anda masih berusaha untuk menemui Nia.Β Paman mengeleng, hey...mata itu, kenapa sama seperti mata Nia? Sama-sama mengambarkan rasa kepedihan mendalam.Β Paman dapat melihat jelas bagaimana kepedihan tergambar di wajah lelah Aisakha.
γ
Terserahlah, aku tidak bisa hanya melihat saja. Aku harus memastikan kondisinya. Ternyata Aisakha gagal bertahan dengan komitmen awalnya hanya melihat Nia. Melihat dari pintu tanpa menyentuhnya, hanya melihat saja. Sekarang, otaknya malah mendesak dirinya agar melihat Nia dari dekat, memastikan kondisi kekasih hatinya itu.
γ
Aisakha mencoba membuat celah besar di pintu menjadi semakin besar, hingga bisa membuat tubuh atletisnya itu lolos masuk kedalam.
γ
Celah sangat besar terbentuk, siap meloloskan tubuhnya lewat untuk menemui sang pujaan hati. Tanpa berpikir panjang, Aisakha mulai melangkah, tanpa melihat situasi di sekelilingnya dia terus berjalan. Sepertinya rasa cintanya yang sangat besar pada Nia tidak membuat dia gentar. Pelan dan perlahan, memastikan tidak ada suara yang diciptakannya. Sebentuk senyum tipis menghiasi wajahnya, seakan wujud rasa percaya dirinya bahwa dia bisa lolos dengan mudah.
γ
"Masih berani anda datang?" Suara Paman sukses membuat langkah kaki Aisakha berhenti.
γ
Sial, kenapa enggak lihat ke arah situ tadi? Rupanya Paman tidak tidur. Gawat, gawatttttt....jadi panjang ceritanya ini. Aisakha merasa sangat terpojok sekarang.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ