
Mimpi Buruk (2)
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Kamu sudah datang nak, ayo sini". Ujar Bibi Ros, yang telah menyadari keberadaan Nia didekatnya. Bibi pun menepuk-nepuk sisi bangku kosong yang tepat berada disebelahnya buat Nia.
 
"Apa yang Bibi lakukan di sini?" Tanya Nia heran mendapati Bibi Ros tengah bermenung di sebuah taman nan hijau, yang tengah duduk di bangku panjang tepat di tepi kiri jalan.
 
"Tidak ada Nia, Bibi hanya merindukan Ibu dan Nenekmu". Ucap Bibi, tetapi tidak menatap ke arah Nia. Bibi Ros hanya menatap lurus ke arah jalan raya, sama seperti di awal kedatangan Nia.
 
"Bi, Ibu dan nenek sudah bahagia melihat kita dari atas sana. Bibi tidak perlu kawatir". Ucap Nia sambil duduk di samping Bibi, di tempat yang tadi di tunjuk oleh Bibi.
 
"Mereka akan lebih bahagia kalau kamu sudah menikah nak. Sampai kapan kamu akan sendiri, segeralah menikah! Bibi ingin melihatmu bahagia". Terdengar suatu permintaan dari bibir Bibi Ros.
 
"Saat orang yang tepat telah hadir, Nia akan menerimanya Bi", jawab Nia sambil bersandar di bahu kanan Bibi.
 
"Jangan lama-lama nak, Bibi takut tidak memiliki waktu selama itu". Ucap Bibi lirih.
 
"Bibi gomong apaan sih, tentu saja Bibi punya banyak waktu bersama kami. Bersama aku, Alika dan Alex. Apa Bibi tidak mau melihat cucu Bibi dari aku nanti?" Nia sedikit bersedih mendengar penuturan Bibinya.
 
"Tentu saja itu yang Bibi harapkan Nia, melihatmu bahagia, menikah dengan lelaki yang kamu cintai. Melihat rumah tanggamu bahagia dan melihat cucu Bibi, anak-anakmu. Tetapi sampai berapa lama Nia hal itu akan terwujud? Bagaimana jika Tuhan punya rencana lain?" Tanya Bibi pada Nia.
__ADS_1
 
"Tuhan sayang sama aku, jadi Tuhan pasti akan memberi Bibi waktu sebanyak-banyaknya, selama-lamanya untuk bersama aku. Bibi tidak boleh bicara yang tidak-tidak, Bibi akan berumur panjang dan akan bermain bersama anakku nanti". Ucap Nia penuh keyakinan.
 
"Semoga saja nak, semoga Tuhan mendengarkan permintaanmu". Doa Bibi sambil membelai lembut rambut Nia.
 
Nia merasa sangat tenang, damai rasanya bisa di belai penuh kasih sayang oleh wanita yang telah melimpahkannya kasih sayang setelah neneknya meninggal. Bibi pula orang pertama yang selalu ada untuk menghiburnya saat duka dari cinta di masa lalunya begitu menyakiti dia. Perkataan Bibi Roslah yang membuat Nia berusah bangkit dari keterpurukannya. Walaupun sakit, Nia belajar mengobati luka itu, belajar untuk memulai hidup baru di Kota Bengkulu ini.
 
"Berjanjilah padaku, Bi. Sampai kapan pun Bibi akan selalu ada bersamaku, jangan tinggalkan aku". Nia bermohon kepada Bibi Ros.
 
"Baiklah sayang". Ucap Bibi sambil mencium kening Nia.
 
 
"AWAS, AWAS". Lagi suara teriakan silih berganti. Tetapi siapa yang berteriak dan kenapa mereka saling berteriak tidak terlihat, tidak jelas.
 
Nia melangkah menjauh meninggalkan Bibi Ros yang terlihat sama sekali tidak merasa terganggu dengan teriakan orang-orang sedari tadi. Tetapi sebelum langkah kaki Nia meninggalkan sang Bibi, Nia dapat melihat betapa pucatnya wajah Bibi.
 
Merasa tidak menemukan wujud nyata dari para pemilik suara teriakan tadi, Nia berjalan kembali ke arah bangku yang masih diduduki oleh Bibi Ros, Nia ingin kembali bermanja-manja dengan sang Bibi. Tetapi belum lagi kaki Nia melangkah, Nia mendengar suara dentuman yang sangat keras. Nia melihat kekanan dan kekiri, mencari tahu apa yang terjadi. Sayang yang di dapat Nia adalah gumpalan asap hitam, pekat sangat pekat. Hingga akhirnya semua gelap, terlalu gelap, nafas Nia mulai sesak. Rasanya Nia sangat sulit bernafas, Nia mulai memanggil-manggil Bibi. Berharap dapat menemukan Bibi di dalam kegelapan itu.
 
"Bi..Bibi, Bibi, Bi..Bibi". Suara panik Nia mencari keberadaan sang Bibi. Sayang yang di cari tidak menyahut, pun tidak terlihat wujudnya. Nia mulai merasakan hawa dingin dari hembusan angin yang entah dari mana datangnya. Sangat dingin hingga membuat tubuh Nia tergunjang gemetar. Kepanikan Nia semakin bertambah, Nia takut, dia mulai terisak.
 
__ADS_1
"Bi, Bibi, Bibi, Bibi dimana? Jangan tinggalkan aku Bi. Bi, Bibi, Bibi..aku takut, hiks". Suara Nia yang muncul di sela-sela tangisnya memanggil Bibi, sayang Bibi tidak juga membalas sahutannya.
 
Nia menangis dan terus menangis sambil berteriak memanggil Bibi, nafasnya mulai melemah. Dia sudah tidak bisa mengendalikan isak tangisnya lagi, wajahnya sudah basah. Air mata sudah memenuhi setiap sudut wajah cantiknya.
 
Tok, tok, toooook..
"NON, NON, NONNNN, NON KENAPA?" Teriak Pakde memanggil Nia.
 
"NON, NON, NON NIA, KENAPA NON?" Lagi Pakde berteriak sekuat tenaga.
 
Nia terkejut, matanya terbuka lebar, keringat telah membasahi tubuhnya, bantalnya terasa lembab, mungkin keringat dingin telah mengucur ke sisi bantalnya. Cepat Nia mengatur nafasnya, berusaha bernafas sebanyak mungkin, sebaik mungkin. Paru-parunya saat ini butuh banyak asupan oksigen.
 
"NON, KALAU GAK NYAHUT JUGA, PAKDE DOBRAK PINTUNYA". Terdengar nada panik dari suara Pakde.
 
"Ya Tuhan, semua hanya mimpi ternyata". Ujar Nia pada dirinya sendiri. "Eh, Pakde". Nia sudah benar-benar sadar saat ini dari mimpi buruknya. Cepat Nia meninggalkan tempat tidurnya, berlari kearah pintu.
 
"Pakde, Bibi". Sapa Nia begitu membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
 
 
 
 
__ADS_1