
Mendadak Berubah
πππππ
γ
Nia terdiam, dia sedang berpikir.Β Lelaki spesial? Maksud Mama si tampan Alex kecilku? Lah, kalau itu mah jangan tanya seberapa seriusnya. Hahahahaha, cinta mati aku sama keponakanku yang sangat mengemaskan itu. Tiada duanya Ma..Alex segala-galannya. Hahaha...
γ
"Maaf Ma, maksudnya gimana ya Ma?" Nia merasa kurang yakin.
γ
"Maksud Mama, ya itu. Hubungamu sama lelaki yang ingin kamu belikan hadiah itu loh. Waktu pertama kali kita bertemu di Mall. Bukannya kamu bilang dia spesial dalam hidupmu?" Mama mengulang cerita semasa dirinya bertemua Nia di Mall dulu.
γ
"Oooo, hehehe". Nia cengar-cengir sendiri. Mama salah paham sama Alex ternyata. Hehehehe. "Kalau itu serius Ma, sangat serius".
γ
"Kenapa pake cenggengesan gituh?"
γ
"Sepertinya Mama salah paham deh". Nia tersenyum.
γ
"Okeh, coba jelaskan ! Mama nggak paham maksud kamu".
γ
Nia meneguk air mineralnya, "Ma, waktu kita pertama bertemu itu. Aku ke Mall memang sengaja soalnya mau membelikan hadian untuk keponakan kecilku, keponakan tampan yang sangat mengemaskan. Namanya Alex, Ma. Dia anak dari Alika, sepupu aku. Di sinilah letak salah pahamnya, waktu itu Mama salah menyimpulkan. Mama bilang apa hadiah tersebut untuk orang yang spesial dalam hidup akukan?" Nia bertanya pada Mama.
γ
"Hemm". Jawaban Mama sangat singkat.
γ
"Ya..tentu aja Alex sangat spesial bagi aku Ma. Aku sayang banget sama dia, dia seperti anakku sendiri. Apa Mama tahu, pipinya Alex gembul banget. Trus dia baru bisa berjalan, jadi gaya jalannya kayak robot. Hahaha". Nia tertawa membayangkan keponakan tampannya itu.Β Ah, jadi rindukan sama Alex.
γ
γ
Eh, bukan pacar ya? Keponakan ternyata. Bagus, bagus..
Tuhan sepertinya berpihak padaku. Seberkah sinar mentari menyinari hati Mama yang sangat senang.
γ
"Tapi....", Mendadak Mama ingat sesuatu. "Bukannya wakti itu kamu bilang lagi dekat sama seseorang?"
γ
γ
****************
γ
γ
"Kok sepi ya Kris?" Akhirnya Aisakha sampai tepat di depan pintu megah Villa pribadi miliknya di salah satu spot terbaik dari kawasan pantai panjang. Semilir angin sepoy-sepoy, hijaunya barisan cemara, putihnya hamparan pasir yang menyegarkan mata dan di saat sore tiba, saat mentari ingin kembali keperaduannya. Maka kilau jingga senja yang sangat sempurna akan menghiasi langit Villanya. Aisakha merasa Villa yang telah di bangun enam tahun yang lalu ini merupakan rumah terbaik baginya dari beberapa property lain milik keluarganya, begitu asri, begitu nyaman.
γ
"Mungkin ibunya tuan lagi di dalam, gak dengar kalau tuan sudah pulang". Kristo membawa tas kerja Aisakha.
γ
"Wah..tuan sudah pulang". Seorang asisten rumah tangga paruh baya, lelaki yang setia mengikuti Aisakha sejak masa remaja itu menyambut kedatangan Aisakha di depan pintu.
γ
"Sepi Pak Ngah, mana Mama?" Aisakha masuk diikuti Kristo dan asisten rumah tangga.
γ
"Nyonya lagi keluar tuan, ketemu sama temannya". Jawab Pak Ngah cepat.
__ADS_1
γ
"Sudah lama?"
γ
"Lumayan tuan, sudah satu jaman". Pak Ngah menunduk hormat.
γ
"Kemana memangnya?" Aisakha duduk di ruang tamu.
γ
"Kalau enggak salah ke Rumah Sakit, tuan. Orang tua temen Nyonya sedang sakit". Pak Ngah berusaha mengingat alasan pasti yang di sampaikan Mama Aisakha padanya tadi.
γ
"Siapa ya?" Aisakha bertanya pada diri sendiri.
γ
"Waduh, kalau itu saya kurang tahu tuan. Nyonya gak bilang siapanya tuan". Pak Ngah menunduk menyesal.
γ
"Ya sudah, biar saja. Mungkin sebentar lagi Mama pulang". Aisakha pun berdiri berjalan menunju lantai dua Villa. " saya mau mandi dulu".
γ
"Baik tuan, silahkan". Pak Ngah memandang majikan mudanya itu berlalu hingga hilang di lantai dua.
γ
γ
***************
γ
γ
Mama kenapa serius banget sih? Agak aneh deh cara Mama mandang ke aku.
"Benar Ma, aku lagi dekat sama seseorang". Nia mengangguk pelan.
γ
γ
Mama kenapa coba? Yah jelas lelaki dewasa Ma, aku bukan aliran brondong. Hahahaha, setiap orang seleranya berbedakan Ma.
γ
"Iya Ma, lelaki dewasa. Usianya terpaut enam tahun di atasku". Di awal Nia berencana menyeruput jus buahnya yang masih sangat banyak, tetapi mendengar pertanyaan Mama barusan. Hilang sudah keinginannya itu.
γ
Emmm, gimana ya cara misahin kamu sama lelaki itu?
γ
"Usiamu berapa sekarang Nia?"
γ
"Dua enam Ma". Nia makin penasaran kemana arah pembicaraan antara dirinya dan Mama.
γ
"Ooo, pacarmu itu tiga dua berarti?" Mama sengaja menatap mata Nia.
γ
"Iya Ma".Β Serasa sedang di wawancara deh.
γ
Kok gak ada sanggahan waktuku sebut kata pacar. Berarti memang sudah ada yang punya. Mama mulai ragu.
γ
"Kamu serius sama dia?"
__ADS_1
γ
"Iya Ma". Mama sengaja memandang dalam kearah mata Nia. Berharap menemukan celah kecil bentuk dari rasa kurang yakin Nia.
γ
"Kamu mencintainya?" Pertanyaan Mama semakin serius saja.
γ
Nah, Mama kenapa kepo banget yah? Sebenarnya mau Mama apa sih?
γ
"Sangat Ma". Jawab Nia sepenuh jiwa.
γ
Degggg...Mama mendadak lesu.
Bagaimana ini? Hilang sudah kesempatanku menjadikanmu menantu Mama, Nia.
γ
"Oooo". Mama sudah tidak antusia lagi.
γ
γ
***************
γ
"Tuan mau Pak Ngah ambilkan apa?" Aisakha baru saja selesai mandi, dia sengaja turun ke ruang keluarga. Ingin bersantai sesaat sambil menunggu kepulangan Mama.
γ
"Masih ada stok terong Belanda Pak Ngah?" Aisakha sibuk memilih siaran televisi yang ingin di tontonnya.
γ
"Masih tuan, masih ada".
γ
"Kalau gituh tolong jus terong Belanda saja". Pak Ngah mengangguk mengerti dan segera berlalu menuju dapur.
γ
"Pak Ngah, sebentar". Suara Aisakha membuat Pak Ngah bergegas kembali ke arah majikan mudanya itu.
γ
"Kristo lagi ngapain?"
γ
"Sepertinya lagi santai di kamarnya tuan".
γ
"Tolong suruh dia ke sini ! Saya lupa meminta hape saya sama dia".
γ
"Baik tuan, sebentar".
γ
***************
γ
"Mama kenapa?" Ternyata perubahan suasana hati Mama sangat jelas terlihat oleh Nia. Yang awalnya sangat bersemangat, terkesan kayak petugas pewawancara, begitu antusia, hingga berubah mendadak lesu. Sangat aneh, begitu kira-kira pikir Nia.
γ
Bagaimana ini, masa iya aku relakan kamu sama pacarmu nak? Lah anak lelaki Mama gimana?
γ
γ
__ADS_1
γ
γ