
πππππ
γ
γ
"Massss ". Rengek Nia manja pada Aisakha.
γ
"Heemmm ". Jawab Aisakha sambil melepaskan ikat rambut Nia yang sedari tadi di sanggul asal oleh Nia.
γ
"Kalau aku nggak boleh kemana-mana, lantas aku ngapain coba ". Tanya Nia sambil sedikit mengeser tubuhnya membelakangi Aisakha, membiarkan Aisakha menyisir rambut hitam panjangnya dengan jemari kekasihnya itu.
γ
"Kamu siapain baju-bajumu !" Jawab Aisakha masih fokus pada kegiatan menyisir rambut Nia.
γ
"Baju aku ?" Nia berencana kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar jawaban Aisakha barusan.
γ
"Eeeiiitthhh....Masmu ini belum selesai memperbaiki rambutmu, jangan gerak-gerak dulu ya ". Aisakha malah melarang Nia berbalik badan menghadapnya.
γ
"Kenapa dengan baju-bajuku, Mas ?" Tanya Nia bingung.
γ
"Yaaaa, karena besok kita berangkat ke Jakartanya. Kan Mama mau kenalin kamu sama keluarga besarku, terus aku juga mau liatin laboratorium baru buat kamu nanti ". Jawab Aisakha santai.
γ
"Bukannya kata Mas kemaren kita hari minggu perginya ?" Nia masih saja terus bertanya.
γ
"Kemaren, sebelum aku berangkat ke Jakarta. Tapi hari ini, setelah aku pulang, rencana berubah ". Akhirnya Nia merasakan jemari Aisakha sudah berhenti dari aktifitas yang terlihat sangat penting bagi lelaki tampan, pujaan hatinya itu.
γ
"Tapi Mas...?" Nia berencana mendebat Aisakha.
γ
"Tapi apa sayangku ?" Tanya Aisakha sambil membalikkan badan Nia kembali menghadap ke arahnya. "Kamu gak mau ?"Β Tanya Aisakha sambil memperhatikan kedua bola mata Nia secara bergantian.
γ
"Kalau kamu belum siap untuk kembali menginjakkan kaki di Jakarta, kamu bilang aja. Jangan memaksakan diri kalau memang kamu tidak mau !" Aisakha menarik Nia dan merangkulnya.
γ
"Bukan, bukan karena aku belum siap Mas ". Jawab Nia cepat.
γ
"Lantas ?" Tanya Aisakha lembut.
γ
"Aku belum pamit sama Bibi, Mas. Dan Paman juga belum tahu. Aku baru berencana besok mau ajak kamu buat temui mereka dan bilang kalau aku mau cuti ke Jakarta ". Jawab Nia.
γ
"Hanya itu saja, hanya Paman dan Bibi saja ?" Tanya Aisakha penuh selidik. Karena sesungguhnya Aisakha bisa merasakan kalau masih ada sesuatu yang menganjal di hati Nia.
γ
"Sama itu Mas ". Suara Nia sedikit ragu.
γ
"Ingat janjimu buat jujur sama aku ? Tidak akan menyembunyikan apapun lagi !" Aisakha merasa ada angukan pelan kepala Nia atas jawaban pertanyaannya barusan.
γ
"Jadi apa lagi sayang ?" Bujuk Aisakha dengan suara lembut.
γ
"Itu Mas, tentang Ibunya Bowo. Aku, aku....sudah janji sama dokter Zaky, dokter yang merawat Bundanya Bowo buat bantu pengobatan dengan mengunjungi Bundanya Bowo ". Nia memberanikan diri berbicara.
γ
__ADS_1
"Gadis pintar, gituh dong, jujur sama aku ". Puji Aisakha pada Nia. "Gimana rasanya setelah kamu bicara jujur ?" Aisakha malah mengajukan pertanyaan baru pada Nia.
γ
"Legaaa...banget ". Jawab Nia cepat plus di sertai senyum manisnya.
γ
"Sebagai upah karena sudah bisa bicara jujur, Masmu ini akan menghadiahkan sesuatu buatmu ". Aisakha memasang tampang serius.
γ
"Apa Mas ? Apa ?" Tanya Nia antusia.
γ
"Gimana kalau kita pergi kencan ? Kencan betulan, hanya kamu dan aku ?" Tanya Aisakha sambil menatap wajah cantik Nia.
γ
"Iya...aku mau ". Jawab Nia semeringah. "Aku suka hadiah dari Mas ".
γ
"Astaga Nia, aku benar-benar tersihir dengan kecantikanmu. Kamu sudah menguasai seluruh hatiku sayang ". Ucap Aisakha sambil memperhatikan setiap inci wajah cantik Nia yang sedang tersenyum seindah senja megah di upuk sana.
Kamu cantik sekali bidadariku. Sangat cantik...
γ
γ
***************
γ
"Hanya itukah solusinya Bapak dan Ibu Besan ? Coba tolong di pikirkan dulu permintaan kami ini " Tanya Mama Aisakha pada Paman dan Bibi Nia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
γ
"Semua ini demi kebaikan anak-anak kita, demi kebahagiaan mereka ". Mama Aisakha berusaha keras menyakinkan
Paman dan Bibi Nia tanpa lelah.
γ
γ
"Ya.. Tuhan, besan. Sudah, sudah ". Bujuk Bibi sambil berusaha mengerakkan kursi rodanya berjalan ke arah posisi duduknya Mama Aisakha.
γ
"Saya pun juga takut sekali setelah mendengar semua cerita besan barusan ". Ternyata Bibi pun diam-diam juga ikut menangis sedih.
γ
"Saya sangat menyayangi Nia dan anak saya sangat mencintai Nia. Ayolah, kita segerakan pernikahan mereka, jangan kita tunda lagi ". Mama masih sempat melanjutkan bujukannya pada Bibi di sela tetesan air matanya.
γ
"Saya tahu itu. Demi Tuhan, kami tidak pernah berhenti barang seharipun mengucap syukur atas kebaikan Tuhan dalam hidup Nia, hingga dia bisa memiliki anda dan tuan Aisakha. Kami berterima kasih sekali besan, anda sangat menyayangi anak gadis kami itu ". Bibi menjangkau tangan Mama yang terletak di pangkuannya. KemudianΒ menepuk-nepuk pelan tangan itu sambil terus berbicara.
"Beruntungnya Nia kami atas cinta anak anda besan ".
γ
"Ya benar besan ". Paman pun tidak mau ketinggalan untuk memberikan pendapatnya
γ
"Tapi seperti yang besan lihat. Kondisi isteri saya memang belum pulih benar, tapi jangan ragu. Kata dokter 3 minggu lagi isteri saya sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat. Terapinya berjalan sangat bagus, berkembang pesat ". Bibi pun mengangukkan kepalannya sebagai dukungannya kepada sang suami.
γ
"Jadi bukan bulan depan pernikahan mereka kita selenggarakan. Kita majukan jadi 3 minggu lagi. Gimana ?" Tanya Paman dengan ramahnya.
γ
"Dua minggu lagi lah ?" Mama masih berusaha menawar solusi yang di berikan Paman padanya.
γ
Dan Paman serta Bibi saling beradu pandang. Mereka saling bersitatap mencari kata terbaik untuk digunakan sebagai jawaban bagi calon Ibu mertua Nia yang terlihat sangat getol membujuk mereka.
γ
γ
***************
__ADS_1
γ
EPILOG...
γ
"Owalah.... ". Ucap Mama Aisakha sambil menepuk keningnya pelan. Sepertinya Mama sudah ingat apa persisnya hadiah yang terlupakan untuk Bibi Ros, Bibinya Nia.
γ
"Nanti, kalau enggak salah saya di depan ada toko bunga Pak. Kita berhenti sebentar ya !" Akhirnya Mama ingat kalau dirinya berencana membelikan Bibi Ros seikat bunga segar sebagai salah satu oleh-oleh yang ingin di berikannya pada Bibinya Nia itu.
γ
Akhirnya saat Mama Aisakha tiba di rumah Paman dan Bibi dengan seikat bunga tristan merah segar di tangan dan puluhan goody bag yang di turunkan dari bagasi Mobil. Membuat Bibi Ros melongo takjub dan Papa mengeleng tidak percaya.
γ
"Terima kasih besan ". Ucap Bibi sambil cepika cepiki bersama Mama Asiakha.
γ
"Lain kali tolong jangan repot-repot ", ucap Paman saat bersalaman dengan Mama Aisakha.
γ
"Apa yang repot Bapak besan, kan kita ini keluarga ". Jawab Mama dengan wajah senang.
γ
"Ayo..ayoo...duduk dulu, supaya kita bisa cerita enak ". Bibipun mempersilahkan Mama Aisakha untuk duduk di sofa ruang tamu.
γ
"Ada apa ini besan? Apa anak gadis kami membuat repot keluarga besan ?" Tanya Paman pada Bibi Nia begitu melihat calon ibu mertua Nia ini sudah duduk dengan nyamannya.
γ
"Oooo, Nia sama sekali tidak merepotkan. Dia gadis baik yang sangat cerdas dan mandiri. Dia tidak pernah merepotkan kami ". Jawab Mama Aisakha cepat.
γ
"Jadi saya jujur saja ya Bapak dan Ibu besan ". Mama menarik nafas panjang sesaat.
"Maksud kedatangan saya kali ini, di samping ingin mengetahui kabar terbaru Ibu, saya juga mau mengajak Bapak dan Ibu besan buat berunding ".
γ
"Ada apa ? Apa yang terjadi Bu ?" Wajah Bibi berubah serius.
γ
"Ini tentang kedua anak kita, Aisakha dan Nia ". Mama kembali menarik nafas panjang. "Semalam Nia sempat hilang beberapa jam, hilang begitu saja dari kawalan orang-orang kepercayaan Aisakha. Ternyata salah satu rekan seprofesi Nia sudah menyusun rencana untuk membawa Nia pergi. Rencananya sangat rapi hingga bisa mengelabui siapapun ". Mama memandang Bibi yang terlihat sangat terkejut.
γ
"Aisakha panik, dia biasanya tidak pernah mau memperlihatkan sisi lemahnya pada saya, besan. Tapi untuk semalam, tidak demikian. Aisakha sangat takut kalau dia bakal kehilangan Nia, dia begitu putus asa, dia merasa bodoh dan tidak berdaya ". Bibi menatap wajah sang suami.
γ
"Suamiku...Nia ". Ucap Bibi pelan.
γ
"Tapi syukurnya semua tidak berlangsung lama. Aisakha kemudian berhasil menemukan Nia, semua selesai dan Nia baik-baik saja ". Mama menganguk pelan. "Karena itu besan, bagaimana kalau tanggal pernikahan anak-anak kita ini kita majukan saja ? Jadi mereka bisa selalu bersama, kejadian serupa ini tidak akan terulang lagi. Saya sungguh tidak sampai hati melihat kondisi Aisakha, dia begitu tidak berdaya mendapati wanita yang sangat di cintanya hilang begitu saja, entah dimana rimbannya. Dan saya, besan. Saya juga sangat takut kehilangan calon menantu kesayangan saya itu ". Jelas Mama panjang lebar.
γ
Paman terlihat menatap lama wajah Bibi, rasa tidak percaya masih menghinggapi hatinya. Cerita tentang hilangnya Nia cukup mengagetkan bagi keluarga mereka.
γ
"Bu besan ". Paman memilih mewakili si isteri untuk berbicara. "Kami sangat bersyukur Aisakha bisa segera menemukan Nia. Terima kasih, banyak-banyak terima kasih Bu besan ".
γ
"Iya terima kasih Bu ". Bibipun mengucapkan kata yang sama.
γ
"Tapi ". Ucap Paman melanjutkan. "Kalau tentang pernikahan anak-anak kita, kami sungguh-sungguh mohon maaf. Kami ini adalah walinya Nia, kami sangat ingin berpartisipasi dalam persiapan acara sakral anak gadis kami itu. Bu besan tahu sendirikan bagaimana kondisi kaki isteri saya ". Tunjuk Paman ke arah Bibi.
γ
"Jadi kalau boleh, kami minta tolong Bu besan. Minta tolong tetap di tanggal awal yang telah keluarga kita sepakati saja ".Β Dan Paman menyadari kalau mendadak mata biru calon Ibu mertua Nia ini mulai berkaca-kaca setelah mendengar semua perkataannya barusan.
γ
γ
__ADS_1