
Mini Presentasi
πππππ
γ
"Teman-teman, kita harus siap-siap. Beberapa menit lagi Profesor dan Pak Bagas akan ke sini. Pak Bagas mau mempelajari seberapa besar peluang jual inovasi baru kita di pasaran. Kita berikan dia mini presentasi". Ajak Nia pada Wulan, Resya, Bowo dan Anita.
γ
"Siapa, Pak Bagas ya Nia? Kenapa sih dia muncul lagi. Kamu yakin dia ditugaskan untuk mempelajari peluang jual inovasi kita. Bukan dia yang mengajukan diri supaya bisa kembali dekat sama kamu?" Terdengar ada kecurigaan di hati Wulan.
γ
"Iya, benar. Setelah beberapa lama kenapa sekarang dia bersemangat kembali untuk melibatkan diri di projek kita. Aku yakin dia punya niat terselubung". Anita pun menyuarakan kecurigaannya.
γ
Rasa curiga dan praduga Wulan serta Anita, diaminkan oleh Resya, ternyata di dalam hatinya pun ada rasa tidak percaya dengan faktor kebetulan saat ini antara Nia dan Pak Bagas.
γ
"Sudahlah teman-teman, kita bahas itu nanti saja. Sekarang kita fokus pada tugas utama kita dulu. Mari kita yakinkan Divisi Promosi untuk menerima inovasi baru kita". Bowo bersikap lebih netral, walaupun sebenarnya Bowo juga curiga dengan kebetulan Pak Bagas muncul kembali dalam hidup Nia. Tetapi untuk saat ini, Bowo tidak ingin memperlihatkan kecurigaannya, dia tidak ingin membuat Nia tidak nyaman. Ketenangan Nia sangat diperlukan untuk mensukseskanΒ mini presentasi mereka nanti.
__ADS_1
γ
Semua setuju dengan usul Bowo, bahu-membahu mereka mempersiapkan segala data pendukung dan sampel terbaru untuk penjelasan mereka nanti. Semua berbagi tugas, tetapi khusus untuk presentasi tetap Nia yang di daulat.
γ
Benar seperti ucapan Profesor tadi, sepuluh menit kemudian Profesor pun sudah membawa Bagas ke dalam laboratorium. Sambil mencari tempat duduk terbaik untuk menjadi pendengar presentasi Nia dan timnya, Profesor meminta semua penelitinya melakukan pengecekan terakhir sebelum kegiatan ini mereka mulai.
γ
Nia mengambil posisi di depan white board lengkap dengan spidolnya, dengan penuh keyakinan Nia pun memulai semua penjelasannya. Saat teori selesai Nia jelaskan, maka waktunya Wulan, Bowo dan Anita mengaplikasikan semua teori Nia dalam penyatuan larutan dengan tabung-tabung yang telah disiapkan oleh Resya. Benar-benar kerjasama yang apik, sangat menggagumkan.
γ
γ
Entah dia mengerti atau memang dia telah menemukan peluang besar dari inovasi ini di pasaran esok. Entahlah, yang jelas matanya hanya fokus pada Nia, mengikuti setiap gerak-gerik Nia. Menjadi pengamat yang setia hanya pada apa yang dilakukan Nia, bahkan setelah Nia selesai memberikan presentasinya dan kegiatan dilanjutkan dengan praktek penyatuan larutan kimia, Bagas tetap hanya memperhatikan Nia. Dari atas sampai kebawah, hanya pada Nia saja.
γ
Nia berusaha menahan diri, berusaha bersikap seprofesional mungkin. Tampilan tenangnya dipertahankan sebaik mungkin, walaupun kalau boleh jujur hati kecinya mulai risih. Beberapa kali Nia sempat beradu pandang dengan Bagas, Nia tahu kalau dirinya menjadi bahan perhatian Bagas. Dan Nia sangat tidak suka melihat Bagas yang sangat menikmati kebebasannya memandang dirinya.
γ
__ADS_1
Ya Tuhan, apa sebenarnya isi kepala lelaki itu. Aku sangat risih melihat cara dia memandangku.
γ
"Demikianlah Pak Bagas, semua pemaparan kami sudah kami jelaskan. Selanjutnya kami percayakan kepada Bapak dan semua Divisi Promosi untuk memberi kesempatan pada kami agar menjadikan ide brilian ini sebagai next projek lembaga penilitian ini". Bowo menutup mini presentasi mereka, dengan sengaja Bowo menaikan volume suaranya agar terdengar sekeras mungkin di telinga Bagas.
γ
Kurang ajar, membuat aku kaget saja. Padahal aku jarang dapat kesempatam memandangi Nia sepuasnya. Awas kau, kubalas nanti.Β Bagas sangat kesal dengan ulah Bowo tadi.
γ
"Iya, iya..terima kasih untuk presentasinya. Saya akan melaporkan sudut pandang saya kepada Kepala Divisi". Bagas berusaha terlihat sebijaksana mungkin setelah terpojok dengar suara Bowo yang membuat dia terlonjak kaget. "Dan Prof, saya akan segera mengabarkan Profesor perkembangan hasil laporan saya, semoga ide hebat ini segera bisa diwujudkan dan dilauching ke pasaran". Ucap Bagas mengalihkan pandangan kesalnya pada Bowo sambil berbicara serius bersama Profesor Yandi.
γ
Salah sendiri, siapa suruh matamu tidak bisa lepas dari Nia. Kau pikir dia barang untuk di tonton. Heh...Aku akan pastikan, kamu tidak akan bisa mendekati Nia. Bowo sangat kesal dengan kelakuan Bagas, sebagai sesama lelaki, Bowo tahu benar kalau dari awal Bagas masuk ke laboratorium matanya hanya ke arah Nia. Dan Bowo tahu benar kalau Nia sudah tidak nyaman dijadikan objek perhatian oleh Bagas, tetapi Bagas tidak perdulu. Dia sangat menikmati ulah matanya itu pada diri Nia.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ