SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 130


__ADS_3

Bercerita Bersama Mama


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Astaga....aku ingat. Ekspresi mata penuh kekhawatiran ini. Aku ingat, ya aku ingat mirip dengan siapa?


Cara mata ini memandangku sangat mirip denga cara matanya memandangku


Tapi...apa iya mirip?


Ah, memang sangat mirip sih, persis.


Kebetulankah?


Emmmm, pasti iya, pasti kebetulan. Iya...kebetulan saja.


γ€€


Nia sibuk memandangi Mama dengan serius, otaknya telah selesai mempelajari dan sekarang dia bisa memperoleh kesimpulan. Bahwa wanita paruh baya yang duduk di depannya ini memang mirip dengan seseorang, seseorang yang sekarang sangat berarti dalam hidupnya. Ya...sepintas Nia bertahan dengan keyakinannya itu. Hingga sesaat kemudian, hati kecilnya sukses mematahkan apa yang diyakininya. Hati kecilnya sibuk menghasut Nia dengan kata-kata hanya kebetulan saja. Jadilah Nia meragukan sendiri hasil analisa otaknya tadi.


γ€€


"Ada yang salah dengan wajah Mama?" Mendapat tatapan serius dari mata coklat Nia, Mama pun membatalkan niatnya untuk melanjutkan suapan berikutnya.


γ€€


"Bu-bukan Ma, hanya saja saya sedikit ragu Ma. Sepertinya Mama memang mirip sama seseorang yang sangat penting dalam hidup saya". Nia mengakui keraguannya sendiri.


γ€€


"Ayolah, sudah Mama bilang lupakan saja". Mama menunjuk isi piring saji Nia yang sama sekali belum di sentuhnya.


γ€€


"Jadi, bagaimana Syania, apa kamu mendapatkan yang kamu cari waktu itu?" Mama mengulang pertanyaannya. Sepertinya Mama masih penasaran dengan cerita hadiah spesial Nia waktu itu.


γ€€


"Oh..maaf Ma". Nia berusaha bersikap biasa demi menutupi rasa kagetnya. Ternyata Mama masih ingat ya. "Dapat Ma, bahkan lebih dari yang saya rencanakan". Nia tersenyum mengingat stelan taxido lucu yang berhasil di temukannya waktu itu.Β Sayang si tampanku belum melihatnya.


γ€€


"Wah..dia pasti sangat senang ya". Mama tersenyum melihat binar bahagia di mata Nia saat menjawab pertanyaannya.Β Sepertinya memang seseorang yang sangat spesialnya, hanya dengan menceritakan orang itu saja bisa membuat matanya bersinar bahagia.


γ€€


"Pasti iya Ma". Jawab Nia yakin.


γ€€


"Kok pasti? Kamu belum kasih?" Mama menghentikan aktivitas menyuap menu makanan yang terasa unik dilidahnya itu.


γ€€


"Belum Ma, kebetulan di hari saya berencana mengantarkan hadiah spesial itu, bibi mengalami kecelakaan". Suara Nia berubah pelan.


γ€€

__ADS_1


"Tidak masalah, masih ada besok-besok". Mama mencoba menghibur Nia. Nia hanya mengangguk pelan menanggapi pernyataan Mama.


γ€€


"Namamu Syania Fira Sujokokan nak?" Melihat Nia mulai mengunyah pempek kapal selamnya, Mama pun melanjutkan suapannya yang sempat tertunda.


γ€€


"Iya Ma, benar". Jawab Nia cepat.


γ€€


"Biasa Syania di panggil apa, nama kecil maksud Mama".


γ€€


"Nia, Ma". Deg....Mama menatap ke arah Nia. Gadis cantik yang baru saja menyebut nama kecilnya adalah Nia itu sedang tersenyum padanya.


γ€€


"Nia ya". Mama sedang berpikir. "Niaaaa". Ulang Mama pelan.


γ€€


"Benar Ma, Nia. Tapi dulu waktu nenek masih ada. Saat beliau sedang marah sama saya, nenek suka manggil Fira. Hehehe". Nia meletakkan wajahnya di tangan. Bertopang pada tangan kanannya.


γ€€


"Sepertinya kamu sangat di sayang nenekmu ya?" Mama mengangkat gelas yang berisi jus segar dan menyeruput isinya melalui sedotan yang tersedia.


γ€€


γ€€


"Iya nak, nenek kamu benar. Lihat sekarang, Nia sudah sukseskan. Mama saja sampe sempat tertipu". Mama tersenyum lucu. "Ingat waktu pertama kita bertemu, Mama berpikir kamu ini adalah seorang model. Eh, ternyata Mama salah, wanita secantik kamu justru berprofesi sebagai peneliti. Kamu hebat Nia, setahu Mama tidak mudahloh untuk terjun dalam dunia peneliti itu". Mama menepuk-nepuk pelan punggung tangan kanan Nia.


γ€€


"Mama terlalu berlebihan". Nia sedikit malu. "Saya biasa-biasa saja Ma. Justru Mama yang hebat, saya merasa aura Mama sangat kuat. Mama pasti wanita hebat". Nia balik memuji Mama.


γ€€


Mama masih tersenyum sambil memandang Nia. "Setelah nenekmu tiada, kamu sama siapa nak?" Mama melanjutkan makannya.


γ€€


"Saya pindah Ma, dari rumah lama kami. Saya menjual rumah itu, tinggal di sebuah kontrakan sederhana dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta sebagai bagian administerasi". Nia mengenang masa kesendiriannya setelah nenek tiada.


γ€€


"Kamu memang hebat nak, sangat mandiri". Puji Mama pada Nia. "Trus kenapa bertahan sendiran di Jakarta, kenapa enggak langsung ke sini?


γ€€


"Itu....", Nia sedikit ragu. "Itu karena ada seseorang yang saya cintai di sana Ma". Tiba-tiba Nia merasa tidak berselera terhadap makanannya.


γ€€


"Lelaki spesial?" Mama tidak menyadari perubahan suasan hati Nia.

__ADS_1


γ€€


"Dulu". Hanya itu yang mampu Nia ucapkan.


γ€€


Berarti sekarang singel dong. Bagusss, kamu sama anak lelaki Mama aja yah sayang.


γ€€


"Kenapa, apa yang terjadi?" Mama bersemangat sekali.


γ€€


"Ibunya, Ma". Nia sengaja membuang muka, menatap ke sisi lain ruangan cafetaria tersebut. "Ibunya mengusir saya".


γ€€


"Astaga". Mama sangat terkejut.


γ€€


"Lelaki itu mengalami kecelakaan Ma saat mendaki salah satu gunung di Kota Bandung. Mamanya marah dan menyalahkan saya sebagai penyebab semua musibah itu". Nia masih belum sanggup menatap kearah Mama.


γ€€


"Nia ada di lokasi itu?" Mama masih belum mengerti.


γ€€


"Tidak Ma, saya di rumah". Nia mengeleng pelan. "Tetapi sejak awal ibunya memang tidak menyukai saya. Menganggap saya tidak sederajat dengan keluarga mereka. Merek keluarga kaya Ma, terpandang. Sedang saya, yatim piatu. Hingga musibah terjadi, Edo terjatuh kejurang. Kondisinya kritis, ibunya menganggap musibah itu terjadi karena saya...". Nia menarik nafas panjang. Bibirnya sedikit bergetar. Mengulang kisah di masa lalu sungguh membuat hatinya sakit.


γ€€


"Ibunya bilang saya pembawa sial Ma, saya pembawa sial bagi ayah, ibu, nenek bahkan bagi Edo, anak mereka". Nia tertunduk lesu. Sedang Mama, Mama spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


γ€€


Mama tidak habis pikir, gadis cantik yang begitu baik dan sopan ini ternyata bisa menerima hinaan sedemikian rupa, dan itu berasal dari seorang ibu. Parahnya itu adalah ibu dari lelaki yang di cintainya.Β Bagaimana biasa ada seorang ibu yang sekejam itu? Memandang harta sebagai ukuran derajar manusia, heh. Memang dia siapa? Tuhan saja tidak sedemian rupa pada mahluk ciptaannya. Sangat keterlaluan. Di tambah kok bisa dia setega itu, menyebut Nia pembawa sial bagi anaknya. Mengungkit kematian orang tua dan nenek Nia. Sangat-sangat ketelaluan, membuat aku emosi saja.


γ€€


"Nia, Niaaaa...lihat Mama. Lihat Mama nak!" Nia memaksa dirinya menatap wajah teduh Mama. "Dengar baik-baik ya, mereka itu yang sial nak. Mereka sembarang saja menghibur diri dengan menyalahkan kamu. Kamu ini berlian sayang, kamu sangat cantik berkilau, kamu lembut dan santun. Jadi". Mama tersenyum pada Nia. "Siallah bagi mereka yang membiarkan berlian lepas dari tangan mereka". Mama menganggung-angguk berusaha membuat Nia yakin dengan apa yang dituturkannya.


γ€€


γ€€


Kata-kata Mama sama seperti rangkaian kata-kata dia waktu itu. Mama benar-benar mirip dengannya."Terima kasih Ma, terima kasih". Nia memegang tangan Mama. Rasanya sangat tenang mendengar suara merdu Mama tadi yang memberikan semangat padanya.


γ€€


Siapa pun ibu dari lelaki di masa lalumu nak, Mama tidak akan ambil pusing. Bagus malah, wanita bodoh itu melepaskanmu. Jadi....Mama bisa mendekatkan kamu sama anak tunggal Mama. Kamu bakal jadi menantu Mama. Nia, Mama mau kamu menjadi menantu Mama.


Senyum kemenangan terlukis jelas di bibir Mama.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2