SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
120


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


"Apa yang harus aku lakukan padamu ?" Kemala menatap perutnya yang rata.


 


"Ayoooo...katakan, apa yang harus aku lakukan padamu ?" Sekarang nada suara Kemala agak tinggi. Dia sedang marah ke arah perutnya. "Bagaimana bisa kamu ada di dalam sini ?" Sedikit memukul perutnya.


 


"Apa kamu tahu, ayahmu tidak menginginkanku ? Lantas kamu mau apa ?"


 


"Kamu hanya sebuah kesalahan. Ayahmu bahkan menyiksaku malam itu. Dia hanya menganggap semua sebuah ketidak sengajaan. Lantas, bagaimana kamu bisa ada ?" Mata Kemala mulai berkaca-kaca.


 


"Dia pergi meninggalkanku. Aku bahkan tidak tahu dia dimana sekarang ".


 


"Dan kamu, kenapa harus ada kamu ? Kenapaaaaa ?" Kemala berteriak marah.


 


"Ayahmu sekarang sedang berbahagia, hidup bersama wanita yang di cintainya. Apa kamu tahu itu ?"


 


"Kenapa, kenapa harus ada kamu ? Aku tidak berharap semua ini akan terjadi. Kamu hanya sebuah kesalahan, aku tidak sanggup ! Aku tidak sanggup ". Suara keras Kemala di antara air matanya.


 

__ADS_1


"Bagaimana caranya aku membesarakanmu nanti ? Apa kata orang, aku wanita berstatus seorang isteri, tapi di tinggalkan begitu saja tanpa kata cerai. Dan kamu, apa kata orang tentang kamu ? Kamu lahir karena ketidak sengajaan dan kami tidak punya ayah !" Kemala menangis sambil mengusap-usap perutnya.


 


"Tidak, aku tidak bisa ada di situasi itu. Terlalu banyak yang harus aku korbankan. Nama baik orang tuaku, masa depanku, pekerjaanku. Tidak....maafkan aku. Aku tidak bisa ". Kemala menghentikan gerakan mengusap perutnya.


 


"Kamu, lebih baik kamu tidak usah melihat dunia ini. Lebih baik kamu pergi ". Dengan sekuat tenaga, Kemala mencoba berdiri.


 


"Maafkan aku, tetapi lebih baik kamu tidak pernah ada ". Kemala memandangi wajahnya di cermin, di atas wastafel.


 


"Kamu dengar ". Mendadak Kemala berteriai lagi. "Kamu lebih baik tidak pernah ada  !"


 


"Nona, nonaaaaaa ". Pelayan wanita Kemala mendengar suara teriakan Kemala. Cepat dirinya menghampiri Kemala ke kamar mandi.


 


 


"Ada apa ? Ada apa nona, kenapa nona marah-marah ? Apa nona tahu, suasana hati yang buruk bisa mempengaruhi janin. Itu sangat tidak baik !" Si pelayan berusaha membantu Kemala kembali ke ranjangnya.


 


"Biar saja ". Kemala sedikit memberontak. "Saya tidak mau dia lahir, tidak ada yang menginginkannya. Bagus dia mati ".


 


"Ya Tuhan, nona gomong apa ?" Pelayan berhasil mendudukkan Kemala di ranjangnya. Menaikkan kedua kaki Kemala dan menyenderkan tubuh ringkih itu bersandar ke kepala ranjang. "Dosa, dosa besar itu nona, astaga...buang jauh-jauh pikiran sekejam itu !"


 

__ADS_1


"Tidak ada yang mau dia !" Lagi-lagi Kemala histeris. "Dia hanya sebuah kesalahan. Aku benci dia, aku benci Edo..


Aku benci ".


 


"Ya.....Tuhan, nona ". Si pelayan memeluk erat Kemala. Mengusap sayang punggung Kemala, membiarkan Kemala menangis sepuasnya. Mengeluarkan sedikit beban berat yang membuat dia terlihat sangat menderita.


 


"Anak nona tidak bersalah. Jangan pernah nona berpikir sekejam itu. Anak adalah anugerah, dia suci, dia bukanlah kesalahan. Kalau nona membenci tuan Edo, maka jangan anak jadi tumbalnya ! Apa nona tahu, di luaran sana banyak pasangan suami isteri sanggup melakukan apa saja untuk memiliki anak ? Dan nona, saat mendapat anugerah itu, kenapa malah membenci dia ? Kenapa malah berniat jahat sama dia ?"  Si pelayan masih memeluk Kemala.


 


"Coba nona tanya hati kecil nona. Apa benar nona tidak menginginkannya ? Sosok bayi mungil yang mungkin matanya akan mirip mata nona, atau mungkin rambutnya akan seperti rambut nona. Bayi mungil yang sangat sayang pada nona, tempat nona mencurahkan segala kasih terbaik nona. Akan menunggu nona di depan pintu rumah setiap siang sambil manggil nona Ibu. Apa nona tidak menginginkannya ?" Si pelayan merasa bahu Kemala berguncang.


"Nona akan jadi cinta pertamanya, bahasa nona akan di tirunya. Senyum nona akan di praktekkannya. Yang seperti itu sanggup nona buang ?"


 


"Tapi, tapi Edo tidak menginginkan saya. Apa lagi anak ini ". Suara Kemala sangat lirih.


 


"Saya tidak tahu ada apa antara nona dan tuan Edo. Maafkan saya, saya tidak bisa memberi saran untuk itu. Tetapi, kalau boleh saya sedikit menasehati nona. Cobalah nona telepon tuan Edo dan katakan kalau nona mengandung anaknya ! Saya yakin, tidak akan ada seorang ayahpun di dunia ini yang sanggup menolak buah hatinya ". Nasehat panjang si pelayan.


 


"Tapi.... ", Kemala tampak ragu.


 


"Cobalah dulu nona, setidaknya nona tahu apa yang akan terjadi. Jangan sampai nona menyesal !" Si pelayan melepaskan pelukannya dari Kemala. Merapikan rambut Kemala dan menghapus air mata dari mata yang cekung itu.


 


"Baiklah, saya akan mencoba ". Kemala menarik nafas panjang. "Tolong ambilkan hape saya !".

__ADS_1


 


 


__ADS_2