SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
130


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


“Maukan isteriku tercinta ini menemaniku ke Gorontalo beberapa hari lagi ?” Tanya Aisakha saat telah selesai bermain dengan tubuh indah Nia di dalam kamar istirahat miliknya, di ruang kerjanya.


 


Seperti biasa, acara istirahat siang Nia akan berakhir dengan kata istirahat yang sesungguhnya. Karena saat jam istirahat ini, si suaminya itu akan segara memakan Nia. Membuat Nia kelelahan dan berakhir diam di ranjang, Aisakha memang sangat tergila-gila pada tubuh indah isterinya.


 


Dan siang ini, setelah satu minggu tidak bisa leluasa menyalurkan kebiasaan yang sangat di sukainya itu, akhirnya Aisakha kembali tersenyum puas. Berhasil membuat Nia lelah dan berbaring manja dalam pelukannya, setelah berkali-kali meneriakkan namanya dalam.


 


“Tapi, kamukan ke sana dalam rangka pekerjaan. Nanti aku ngapain coba bengong sendirian ?” Tanya Nia sambil sibuk memainkan jarinya di dada Aisakha.


 


“Ya, kamu bisa tidur seharian di kamar, menikmati layanan kamar “. Jawab Aisakha senang.


 


“Tidur ?” Nia agak kaget.


 


“Iya tidur, sayang “, Aisakha menarik selimut hingga ke dada Nia. “Memangnya setelah kamu berkerja keras dari malam hingga pagi, kamu enggak perlu tidur apa ? Kamu masih sanggup dari pagi sampai malam lagi ?” Aisakha tersenyum lucu memperhatikan wajah Nia yang sedang berpikir, mencerna setiap kata yang diucapkannya barusan.


 


“Kerja keras apa ? Apakah aku harus membantu Kristo menyelesaikan urusan pekerjaanmu di sana ? Tapi, tapi aku gak ngerti, aku nggak paham loh !” Nia memasang wajah polosnya, yang memang jujur tidak paham arah pembicaraan sang suami.


 


“Hahahahaa “, Aisakha tertawa pelan. “Nia, bukan pekerjaan seperti itu. Kalau itu kamu percayakan saja padaku dan harus kamu tahu, itu bukanlah masuk kategori kerja keras ! Tapi ini, benar-benar kerja keras. Butuh konsenterasi dan akan berakhir dengan peluh dan teriakan dalam dari bibir mungil ini “. Aiskaha menyentuh bibir Nia dengan ibu jarinya, dan menyusuri tiap lekuk bibir mungil itu dengan perlahan.


 


Sementara itu Nia kembali diam, mengerutkan kening pertanda sedang berpikir keras. Hingga, “astaga sayang “. Akhirnya Nia mengerti arah pembicaraan Aisakha. Sontak saja, wajahnya merona merah. Model malu dengan muka semerah tomat itu segera di sembunyikannya di dada Aisakha. “Kamu menggodaku ya ?”


“Nyonya Aisakha, siapa yang mengoda kamu ? Coba kamu lihat, yang meletakkan wajahnya di dadaku siapa ? Mana nggak pake baju lagi, apa itu maksudnya ?” Aisakha memeluk Nia. “Apa kamu mau ronde kedua ?” Aisakha sudah berada di atas tubuh Nia dengan bertopang kedua lutut dan tangannya.


 


“Tidak, tidak...sudah. Jangan lagi ! Aku malu kalau terlambat kembali ke laboratorium. Sudah ya sayang !” Bujuk Nia sambil memegang kedua pipi Aisakha.

__ADS_1


 


“Wah...katanya sudah, tetapi gerakan tangan dan sorot matanya beda, terlihat seperti minta tambah “. Aisakha sudah memulai kembali rutinitas yang sangat di sukainya itu. Memulai dengan penyatuan bibir mereka dulu, berlama-lama di sana. Hingga Nia butuh tambahan oksigen, barulah Aisakha beralih ke bagian bawah, bawah dan bawahnya lagi. Sampai Nia benar-benar lelah dan berakhir dengan memejamkan mata. Nia sangat perlu istirahat panjang siang ini, dan Aisakha tersenyum puas untuk semua itu.


 


***************


 


Aisakha sudah rapi kembali, dia baru saja selesai mandi dan telah mengenakan setelan jas mewahnya, bersiap kembali ke rutinitas awal, kembali ke pekerjaan yang sudah menunggu. Olah raga siang sudah selesai, Nia nampak pulas di atas ranjang.


 


Sebelum kembali ke meja kerjanya, Aisakha berjalan mendekat ke arah Nia. Aisakha memandang wajah teduh itu, ada sisi rona di kedua pipi Nia. Aisakha tersenyum, betapa cantik isterinya, itu kata hatinya saat melihat keteduhan mata yang terpejam tenang. Satu kecupan di pipi dan satu kecupan di bibir Nia, barulah setelah itu Aisakha benar-benar kembali ke meja kerjanya.


 


Sebuah panggilan ditujukan kepada Kristo, memberi tanda pada Kristo kalau pintu ruang kerja sang tuan telah di buka lagi. Waktunya serius untuk setumpuk pekerjaan yang tertunda akibat istirahat sang tuan.


 


“Kapan jadwal peninjauan cabang di Gorontalo ?” Tanya Aisakha sambil memeriksa setumpuk kertas yang baru di bawa Kristo untuknya.


 


“Dua hari lagi tuan “. Jawa Kristo kemudian.


 


“Maaf tuan, maksudnya gimana ya ?” Kristo terlihat tidak percaya.


 


“Ya, apa lagi yang kamu tanya. Jangan bilang kamu tidak mengerti arti kata bulan madu ?” Aisakha menaikkan sebelah alisnya.


 


“Saya mengerti tuan, tapi yang saya tidak mengerti itu, kegiatan tuan di sana nanti bagaimana ? Pekerjaan yang harus tuan selesaikan ? Bukannya itu akan membuat nona hanya menghabiskan waktu menunggu tuan sendiri. Kasihankan tuan ?” Sebuah argumen yang panjang dari Kristo.


 


“Pekerjaan itukan hanya menghabiskan waktu beberapa saat tidak sampai satu hari penuhkan ?” Aisakha menatap Kristo. Dan Kristo menganggukkan kepalanya untuk menjawab sang tuan.


 


“Ya sudah... selama saya bekerja, kamu bisakan mencarikan kegiatan untuk Nia ? Untuk membuat membuat dirinya sibuk selama aku di cabang ? Dan setelah itu kami baru bulan madu “. Aisakha tersenyum sambil manganggukkan kepala senang.


 

__ADS_1


“Baiklah tuan, akan saya pelajari apa saja jenis kegiatan yang bisa nona lakukan di sana sambil menunggu tuan “. Jawab Kristo pasrah.


 


“Lantas, tuan berbulan madu di mana ? Dan siapa saja yang harus saya bawa ?” Kristo memastikan seperti apa keinginan sang tuan.


 


“Saya mau mendapat privasi di Pulau Cinta selama 3 hari penuh ! Atur bungalou di sana sebaik mungkin, tetapi pastikan posisi kamar saya jauh dari bungalau yang lain. Saya tidak mau mereka mendengar terikan Nia !” wajah Aisakha sangat santai saat memberi arahan. Sedang Kristo sudah menelan air ludah, jiwa jomblonya meronta. Susunan kata-kata sang tuan barusan sangat menusuk hatinya.


 


“Bawa pengawal, cukup 10 orang saja. Sisanya kamu koordinasikan dengan cabang sana, untuk menyediakan tambahan orang-orang kepercayaan kita sekitar 10 orang lagi ! Pastikan pembagian kamar mereka dengan baik, dan buat mereka mengerti tugas mereka apa ! Saya sangat ingin privasi saya tidak terganggu !” Kristo mengangguk mengerti.


 


“Bagaimana dengan Ibunya tuan ?” Tanya Kristo yang ingat sosok Ibu kandung tuannya itu.


 


“Kamu ceritakan saja pada Mama, jujur bilang tentang rencana saya membawa Nia ke sana ! Setelah itu, dengarkan kata Mama ! Kalau Mama mau ikut, jangan di cegah. Siapkan segala keperluan Mama ! Tetapi kalau Mama tidak mau ikut, kamu juga jangan paksa, Mama pasti mengerti !” penjelasan panjang Aisakha.


 


“Baik tuan, saya mengerti. Saya akan mengerjakan semua dengan sebaik mungkin “. Kristo menunduk hormat.


 


“Ya sudah, kalau begitu kamu boleh kembali ke ruanganmu “. Ucap Aisakha dengan ekspresi wajah senang.


 


Kristo menunduk patuh, berbalik badan dengan patuh. Berjalan menuju pintu dengan tangan sudah di gagang pintu.


 


“Kris, tunggu !” Suara Aisakha membuat langkah Kristo berhenti.


 


“Saya tuan “. Kristo berbalik badan.


 


“Jangan sampai Nia tahu tentang rencana bulan madu kami, RAHASIA !” Tegas Aisakha sambil mengedipkan matanya.


 


Kristo meletakkan tangan kanannya di dada, bersikap serius dengan sepenuh jiwa. “Saya janji tuan “.

__ADS_1


 


 


__ADS_2