
Introgasi (1)
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Ragu, tentu saja perasaan tersebut masih mendominasi hati Nia, tetapi tidak bisa dibohonginya bahwa saat ini sebentuk celah kecil di hatinya mulai bersemi bunga indah. Mungkin seindah bunga mawar putih yang sangat disukai oleh Nia. Perlahan tapi pasti, Nia mulai memiliki keyakinan tentang lelaki tampan yang telah menjaganya dari luka terdalam atas kejadian tiga tahun yang lalu.
 
Lelaki yang tepat satu hari yang lalu sangat bersyukur bisa menemukannya dari pencarian panjang, lelaki yang tanpa tedeng aling-aling langsung mengungkapkan perasaan cintanya pada Nia. Ragu, tetapi seperti yang dikatakan Profesor Yandi, Nia harus berusaha membuka hatinya, harus berusaha memberi kesempatan pada cinta Aisakha. Nia harus percaya, percaya pada ketulusan lelaki yang ingin mengisi masa depannya membahagiakannya, bukan lelaki yang ingin menyakiti Nia seperti masa lalunya.
 
Nia tersenyum, rona bahagia terlihat jelas di matanya. Rekan kerja Nia yang juga merupakan sahabat-sahabat Nia merasa heran. Rona bahagia di mata indah Nia tidak dapat disembunyikan, dan anehnya kebahagiaan itu terpancar setelah Nia kembali dari ruang Profesor Yandi.
 
Resya sempat berbisik pada Anita yang kebetulan tengah berdiri di dekatnya. "Aman tuh anak? Senyam-senyum sendiri. Bahagia banget ya?"
 
"Dapat bonus kali dari Profesor". Jawab Anita membalas bisikan Resya.
 
"Tanya aja yuk, aku kepo nih". Resya membujuk Anita.
 
"Ehemmm", Resya dan Anita mendengar suara Bowo yang berdehem. Serentak mereka mengalihkan wajah menatap Bowo. Bowo mengelengkan kepalanya, seperti memberi tanda agar Resya dan Anita tidak mendekati Nia dulu. Seakan-akan Bowo tidak ingin ada yang mengusik pancaran kebahagiaan pada diri Nia saat ini.
 
Biarkan saja, jangan ganggu orang yang sedang berbahagia.
 
__ADS_1
Resya dan Anita mengurungkan niat mereka, akhirnya semua kembali pada rutinitas masing-masing. Walaupun di dalam hati mereka masing-masing sangat penasaran, tetapi mereka tidak ingin menganggu kebahagiaan Nia. Jadi tanpa dikomandoi, mereka semua sepakat membiarkan Nia menikmati kebahagiaannya.
 
***************
 
Waktu berlalu dengan cepat, jam pulang telah lewat beberapa menit. Wulan, Resya dan Anita telah mengundurkan diri, pamit untuk pulang duluan. Meninggalkan Nia yang sedang menyusun perlengkapan hariannya kembali masuk ke dalam tas yang biasa di bawa Nia dalam keseharian kerjanya. Dan Bowo yang terlihat tengah sibuk menulis sesuatu, entah apa. Tetapi sepertinya dia sedang tidak bisa di ganggu.
 
Mungkin Wulan, Resya dan Anita telah jauh meninggalkan lokasi kantor mereka. Nia pun segera ingin cepat-cepat meninggalkan ruang kerja mereka juga.
 
Mumpung Bowo sibuk, aku kabur ahhh. Dari pada aku terjebak dalam introgasi Bowo nanti.
 
 
"Lupa sama janjimu?" Suara pelan Bowo yang sukses membuat langkah Nia berhenti.
 
"Kamu lagi sibuk, aku nggak mau ganggu. Kapan-kapan aja yah". Nia mencoba berpura-pura segan, tidak enak menganggu kegiatan Bowo saat ini.
 
"Hahahaha", tawa lucu Bowo pecah. "Nggak usah pake gak enak, aku cuma pura-pura sibuk aja kali, supaya Wulan, Resya dan Anita enggak heran mendapati aku menunggumu di sini. Kan sesuai janji kita, ini hanya pembicaraan kita berdua". Ucap Bowo sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nia. Bowo merasa bangga bisa mengelabui tiga rekan kerja mereka, sehingga tidak ada satu pun yang mencurigai apa sebenarnya ingin dikerjakannya saat ini.
 
"Oooo, gitu". Terdengar suara datar Nia.
 
__ADS_1
Yah, pura-pura doang. Berarti introgasi tetap berlanjut dong. Duhhh Woooo....
 
"Ya udah duduk sini. Kita cerita panjang kali lebar". Ujar Bowo sambil tersenyum.
 
Nia patuh, berjalan mendekati kursi yang telah disiapkan Bowo di depan meja kerjanya, meletakkan tas yang tadi di sandangnya ke atas meja kerja Bowo. Sepertinya Nia sudah mulai pasrah, siap untuk diajukan banyak pertanyaan oleh Bowo.
 
"Jadi?" Tanya Bowo singkat.
 
"Apa?" Jawab Nia pura-pura tidak mengerti.
 
"Niaaaa, ayolah. Sampe kapan mau bercicak-cicak ria padaku", Bowo tahu bahwa Nia berusaha mengulur waktu, atau lebih tepatnya bersikap seakan-akan tidak mengerti dengan arah pembicaraan Bowo.
 
"Siapa kamu sebenarnya". Tanya Bowo to the point setelah merasa sangat ngemes dengan sikap Nia barusan.
 
"Akuuuuu, Nia. Temanmu Wo, teman Resya, Wulan dan Anita. Kita sudah lebih dari tiga tahun saling bahu-membahu memajukan perusahaan tempat kita mencari nafkah, melalui keahlian kita di bidang penelitia". Nia berusaha memberi jawaban paling bijaksana pada Bowo.
 
 
 
 
__ADS_1