
Beradu Jawaban
πππππ
γ
Kristo benar-benar di buat penasaran dengan suara yang baru didengarnya barusan. Dia ragu, tetapi di balik itu dia cukup tidak mempunya keinginan untuk cari tahu.
γ
Aisakha melepas pelukannya dari Nia, mengenggam jemari Nia kuat dan berbalik badan menatap pemilik suara yang baru saja memangilnya dengan sapaan anak muda. Wajahnya menegang.
γ
Sedang Nia, gadis cantik itu sedang sibuk berdoa. Berdoa sepenuh hati semoga tidak akan ada keributan memalukan yang akan terjadi. Sebab dari sudut pandang Nia, jelas dirinya telah menyimpulkan kalau Mama tidak suka dengan sikap Aisakha padanya.
γ
"Anak muda, berani sekali kamu memeluk seorang gadis baik-baik di tempat umum. Di depan saya lagi". Mama terlihat memberi tatapan menakutkan pada Aisakha.
γ
"Maaf jika yang saya lakukan dianggap tidak menyenangkan". Jawab Aisakha dingin.
γ
"Nia, sini!" Suara tegas Mama membuat Nia ingin segera tengelam di dasar laut.
γ
"Tidak akan pernah saya lepaskan". Aisakha mengangkat jemari Nia yang di genggamnya ke arah dadanya.
γ
"Kamu pikir kamu siapa?" Tantang Mama.
γ
"Saya kekasih Nia, calon suaminya". Suara Aisakha sangat berani.
γ
"Ma". Nia maju selangkah. "Perkenalkan ini Mas Aisakha. Dia kekasih Nia yang Nia bilang tadi. Kami akan segera menikah Ma". Nia tertunduk malu. Sedang Aisakha tersenyum puas.Β Dengar, Nia mau segeraku nikahi.
γ
"Atas dasar apa kamu berani menikahi Nia?" Mama masih tidak mau mengalah. Alih-alih mereda setelah mendengar pernyataan Nia, yang ada Mama malah semakin serius mewawancarai Aisakha.
γ
__ADS_1
"Cinta", suara Aisakh masih terdengar serius seperti di awal. Tidak gentar sedikit pun. "Saya sangat mencintai Nia dan saya sanggup memberikan seluruh dunia saya hanya pada Nia seorang".
γ
"Oyaaa, Hehehe", Mama tertawa sinis. "Sejak kapan?"
γ
"Saya tidak tahu pastinya, yang jelas sejak pertama saya bertemu Nia 3 tahun yang lalu. Saya sudah memiliki rasa padanya, tapi saya belum menyadarinya saat itu". Nia menatap lekat wajah tampan kekasihnya. Hatinya tersentuh, rasa cinta Nia bertambah semakin dalam pada lelaki yang tengah mengenggam jemarinya. Bagaimana tidak, Aisakha sama sekali tidak surut. Walaupun Mama mencercanya dengan begitu banyak pertanyaan dan terlihat sangat berminat menyudutkan Aisakha, tetapi Aisakha masih bertahan. Tidak goyah apalagi lemah.
γ
"Cih, apa kamu yakin itu?" Mama seakan tidak percaya.
γ
"Hahaha". Aisakha tertawa datar. "Seluruh dunia juga tahu itu". Jawab Aisakha santai.
γ
"Anak muda, memang kamu sudah memperkenalkan Nia pada keluargamu?" Nia tertunduk mendengar pertanyaan Mama barusan.
γ
"Segera", jawab Aisakha cepat.
γ
γ
"Dia itu memang tidak serius sama kamu". Mama menunjuk pada Aisakha. "Sudah, Nia kesini. Nia sama anak Mama saja".
γ
"Maaf Ma, aku enggak bisa meninggalkan Mas Sakha". Suara Nia sedikit pelan.Β "Aku tahu Mama sayang sama aku, bersama Mama serasa aku menemukan kembali kasih sayang seorang Ibu". Entah bagaimana caranya air mata mulai jatuh di sudut mata Nia. "Mama adalah seorang Ibu yang luar biasa, aku sayang Mama. Tapi maaf Ma, aku enggak bisa memenuhi permintaan Mama untuk menjadi menantu Mama. Maaf Ma, maaf. Hiksss".
γ
"Sayang", Aisakha mengangkat dagu Nia. TerlihatΒ beberapa bulir bening telah menghiasi sudut mata Nia. "Nia, kenapa kamu menangis?"
γ
"Aku enggak mau dipisahkan sama kamu Mas". Nia terlihat mengiba. "Maaf aku enggak nurut, sudah kamu larang tapi masih ketemuan sama Mama. Mas, Mama baik kok. Tapi aku tetap gak mau pisah sama kamu". Nia mengeleng pelan.
γ
"Kamu yakin nak, enggak mau sama anak Mama?" Sepertinya Mama masih menanti kepastian dari Nia.
γ
__ADS_1
Nia melangkah mundur kebelakang Aisakha, dia berlindung dari tatapan Mama di belakang tubuh tinggi pujaan hatinya.
γ
"Kamu bahkan belum melihat seperti apa anak Mama itu". Mama masih juga berharap.
γ
Aisakha tersenyum penuh kemenangan.
γ
"Baiklaha kalau kamu memilih lelaki ini !" Mama menghembuskan nafas panjang.
γ
"Anak muda, kamu ke sini !" Mama memberi perintah pada Aisakha. Mendengar itu Nia spontan memeluk pinggang Aisakha dari belakang. Aisakha merasa Nia sedang mengeleng di punggungnya.
γ
"Tidak apa-apa, percaya sama aku". Aisakha memegang erat jemari Nia yang berada di perutnya. "Tidak apa-apa".
γ
"Nia, lepaskan dia. Mama mau bicara sama pemuda ini !" Mama terlihat mulai tidak sabar.
γ
"Ma, aku sangat mencintai Mas Sakha. Aku enggak akan melepaskannya". Aisakha merasa ada butiran hangat membasahi kemeja belakangnya.
γ
Kalau tahu seperti ini, bagus dari kemaren-kemaren lagi. Wajah Aisakha berbinar bahagia.
γ
"Sayang, percaya sama Mas ya". Aisakha menepuk-nepuk pelan jemari Nia.
γ
Nia mengalah, walaupun berat dia akhirnya melepaskan pelukannya dari Aisakha. Perasaannya campur aduk, ada rasa tidak percaya terhadap seorang wanita paruh baya yang tadi sempat berbicara hangat padanya. Jelas wanita yang dipanggilnya Mama itu sangat menyayanginya. Tetapi kenapa, kenapa sosok yang dipanggilnya Mama itu malah memiliki keinginan yang kejam padanya dan Aisakha. Memaksa Nia agar mau menjadi menantunya, bahkan sibuk mengajukan berbagai pertanyaan pada Aisakha.
γ
Dia pikir dia siapa ? Mas Aisakha adalah milikku, aku enggak mau kasih sayang dari Mama kalau akhirnya aku harus kehilangan separuh jiwaku. Cepat Nia menghapus air matanya. Dia berjalan menyusul Aisakha yang sudah berdiri tepat dihadapan Mama.
γ
Mama mengangkat tangan kanannya, Nia terlalu terkejut mendapati gerakan tangan Mama. Dirinya hanya mampu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pikiran buruk mulai menguasai hatinya.
__ADS_1
γ
γ