
🌈🌈🌈🌈🌈
“Mau yang rasa vanila “, suara renggekan manja Nia terdengar di dari dalam kamar.
Sudah masuk satu bulan berlalu, sejak peristiwa mengerikan di Mall saat itu. Sekarang Nia sudah sangat baik. Luka di leher dan rasa takut yang di tinggalkan dari kisah masa itu sudah berlalu begitu saja. Sekarang Nia sudah tidak bermimpi buruk lagi, tidurnya benar-benar nyenyak, bahkan makannya juga sudah mulai banyak. Ya, walaupun bisa di tebak. Setelah perutnya terisi dengan baik, Nia masih juga mengalami muntah dengan baik. Mengeluarkan isi perutnya hingga kelelahan dan mata menjadi basah.
Tetapi, untuk saat ini Nia terlihat menikmati semua. Meskipun lelah dengan sisa-sisa tenaga, Nia tetap tersenyum senang. Jelas Nia menikmati setiap proses hari perhari dari kehamilannya.
Bahkan, pagi ini saat dirinya meminta Aisakha membuatkan susu kehamilan rasa cokelat pun. Nia tampak senang, hingga saat susu itu datang spontan Nia menutup hidungnya dan menolak isi gelas di tangan Aisakha.
Jelas tadi dirinya yang meminta di buatkan, dan harus sang suami yang membuat dengan tangan sendiri. Sekarang, saat sudah di hidangkan, Nia malah mual dengan bau cokelat. Jadilah pagi ini adegan dramatis terjadi, Aisakha harus menunda ke kantor sedikit lebih lama akibat sang istri yang mendadak merengek minta di buatkan susu kehamilan baru dengan rasa vanila.
Satu tarikan nafas dalam, Aisakha melangkah keluar kamar tidur mereka dengan gelas susu masih utuh di tangan.
“Biar saya yang buatkan tuan ?” Lita menghampiri Aisakha di dapur.
“Tidak usah, terima kasih “, tolak Aisakha pelan.
__ADS_1
“Tapi... “, merasa tidak enak.
“Sudahlah Lita, saya tidak masalah kok membuatkan minuman ini langsung dengan tangan saya “. Mencoba tersenyum.
“Lagi pula, saya takut kalau kamu yang buat. Kejadian beberapa hari yang lalu akan terulang lagi “. Lita nampak menunduk mengerti.
Jelas adegan kehebohan pagi beberapa hari yang lalu, masih tergambar jelas di pelupuk matanya.
Pagi yang tergolong heboh karena segelas jus apel hangat.
Nia, si nyonya mudanya meminta sang tuan membuatkan sendiri jus apel. Sepertinya anak sang majikan sedang mengidam itu. Jadilah, Aisakha meminta bantuan Lita untuk mengupas buah apel yang akan segera di blander.
Nia langsung menangis sedih, merajuk dengan wajah sangat mengiba. Berasumsi sang suami keberatan dengan permintaannya, mengarang cerita kalau Aisakha tidak mencintai dirinya lagi. Dan akhir mendrama itu, Nia mengatakan kalau Aisakha tidak senang dengan permintaan buah hati mereka.
Air mata bercucuran, Nia berhasil membuat sang tuan pusing dan meminta maaf berkali-kali. Membuat Aisakha sangat merasa bersalah, hingga membatalkan masuk kantor demi menyakinkan Nia, kalau semua isi kepala Nia itu adalah kesalahan besar.
Lita tanpa sadar tersenyum lucu, wajah panik sang tuan masih jelas dalam ingatannya.
__ADS_1
“Berani menertawakan saya, saya pecat kamu “. Aisakha seakan tahu isi kepala pelayan istrinya itu.
“Maaf tuan “. Menunduk dalam sangat takut.
“Awas kau..sekali lagi menertawakan saya “. Mengancam penuh kekesalan.
“Maafkan saya tuan, saya salah “. Semakin takut. Jelas ancaman Aisakha sangat nyata.
Aisakha meninggalkan Lita yang hanya bisa mematung pucat di tempatnya berdiri. Terlalu takut bergerak, apa lagi berpikir. Memilih diam demi keamanan diri sendiri.
“Tapi, sejujurnya aku juga heran sih “, bergumam pelan sambil melangkah naik ke lantai 2, menuju kamar tidur. “Bagaimana Nia bisa tahu kalau yang membuka buah apel waktu itu bukan aku ? Padahal, jelas-jelas Nia menungguku di kamar “.
“Masa iya, anakku bisa membedakan bau tangan aku dan bau tangan pelayan di dalam gelas jus apel ?” berpikir sambil terus menaiki anak tangga.
“Apa iya, hidung Nia berubah jadi setajam itu ?” menggeleng sendiri dengan spekulasi barusan. “Dan ini juga, katanya sangat pengen susu cokelat, setelah di buatkan malah bilang baunya aneh dan minta susu vanila “.
Aisakha terus melangkah, segelas susu hangat berwarna putih ada dalam gelas di genggamannya. Wajah heran masih kentara, tetapi senyum lucu juga tersimpul di sana.
“Apapun itu jawabannya, yang jelas aku sangat mencintai istri dan anakku, selagi itu keinginan mereka akan selalu aku penuhi “. Meskipun semua membuat dirinya pusing, tetapi Aisakha menikmati jalan cerita baru dalam hidupnya ini. Sebuah keseruan baru dalam tahap baru untuk menjadi sosok Ayah terbaik.
__ADS_1