
Prolog
_______
Aisakha Elang Britana, dalam keseharian aku lebih di kenal dengan panggilan Sakha, yah..lebih seperti nama kecil yang terasa akrab di teligaku. Nama itu adalah nama pemberian dari Papa dan Mamaku. Nama yang menurut orang tua tercintaku memiliki sarat makna terbaik, terkandung di dalamnya. Bukankankah nama adalah doa, maka Papa dan Mama menitip doa indah di setiap penggalan namaku. Papa dan Mama adalah orang tua terbaik di dunia ini yang Tuhan anugerahkan padaku. Meskipun Papa harus pergi selamanya di saat usiaku masih sangat muda, tetapi Papa telah membesarkanku menjadi lelaki tangguh. Papa menjadikan aku lelaki sejati yang di kemudian hari bertugas menjaga Mama, Mama yang membuat aku bangkit dari duka kehilangan Papa. Mama yang selalu melimpahkan aku kasih sayang berharga.
Sekarang aku sedang berbahagia, sangat bahagia. Bahkan menurut siapa saja yang berpapasan denganku, mereka bisa merasakan aura kebahagian itu terpancar dari ujung kaki hingga kepala, terlihat sangat jelas katanya. Ah, begitu mudah tertebaknya ? Tapi tak apalah, karena benar aku memang sedang berbahagia. Aku tidak akan menutupi itu semua dari siapapun, malah aku ingin membaginya kepada siapapun.
Sebuah perjalanan yang ku tempuh 3 tahun yang lalu, pada sebuah penerbangan di kelas ekonomi. Sungguh bagi orang-orang yang mengenal latar belakangku akan bertanya, bagaimana mungkin aku menaiki pernerbangan biasa, kemana fasilitas nomor satu yang aku punya ? Yah, itulah hidup. Semua telah diatur oleh Sang Maha Kuasa, begitu mudah bagi-Nya untuk membuat yang tidak mungkin menjadi menjadi mungkin, bahkan masuk akal bagi kita manusia fana ini.
Sebuah kejadian yang di sebabkan oleh Wakil Kepala Divisi Bidang Promosi membuat aku harus berangkat secepat yang aku bisa ke Kota Bengkulu, cabang perusahaanku di sana mengalami masalah karena ulah seorang lelaki bernama Bagas yang percaya atau tidak dalam hitungan tahun kedepan, lelaki ini juga menjadi masalah dalam kisah cintaku, penyebab duka dalam rumah tanggaku. Seharusnya aku tidak berbaik hatinya padanya dulu, karena aku tahu penyesalan selalu datang belakangan, dan sekarang, aku bersumpah akan memastikan Bagas tidak akan pernah muncul dalam hidupku dan isteri tercintaku lagi. Tidak akan ada penyesalan lagi karena lelaki sialan itu.
Otoritas bandara tidak memberi izin pada pesawat pribadiku untuk berangkat, mungkin karena lalu lintas bandara yang cukup sibuk pagi itu, sehingga aku di minta menunggu hampir 2 jam untuk bisa terbang dengan fasilitas pribadiku. Sayangnya aku tidak bisa menunggu, aku harus sampai di cabang Bengkulu secepat yang aku bisa. Untung ada Kristo, sekretaris pribadi yang umurnya beberapa tahun di bawahku ini benar-benar cekatan, dia punya solusi untukku. Sudah beberapa tahun ini Kristo bekerja bersamaku, anaknya cerdas dan selalu tahu solusi terbaik untuk setiap situasi yang aku hadapi. Yah, walaupun setelah penerbanganku dari Jakarta menuju Bengkulu, akhirnya membuatku kesal juga padanya. Kristo menjadi sosok pelampiasan emosiku karena 3 tahun lamanya waktu berlalu dan dirinya tidak bisa menemukan gadis cantik bermata sembab yang membuat hidupku jungkir balik mengharapkan bisa berjumpa dengannya lagi. Mungkin terdengar konyo, tetapi aku telah jatuh cinta pada gadis bermata sembab yang duduk di sebelahku saat di pesawat. Entah sejak kapan, tapi aku sungguh-sungguh mencintainya.
__ADS_1
Akhirnya Kristo mencarikan maskapai penerbangan yang akan berangkat dalam waktu dekat, aku beruntung. Sebuah pesawat tujuan Bengkulu akan berangkat 30 menit lagi. Tuhan berpihak padaku, akhirnya akupun duduk di kursi ekonomi yang seumur-umur belum pernah aku coba. Kristo terlihat sangat bersalah, karena membiarkan semua ini terjadi. Tapi bagiku justru bukan masalah, kapan lagi aku mencoba merasakan terbang sebagai orang biasa, toh aku juga tidak akan kenapa-kenapa dengan duduk di kelas ekonomi. Bahkan kalau boleh jujur, aku malah sangat bersyukur. Karena terbang dengan duduk di bangku biasa ini, membuat aku berjumpa dengannya. Gadis cantik dengan mata sembab yang terlihat sangat berduka. Raut wajahnya sangat lelah, seakan ada beban berat yang tengah di pikulnya. Padahal dia cantik, sangat cantik malah menurut penglihatanku. Namun, kenapa dia begitu bersedih ? Hingga pesawat tinggal landaspun, dia terlihat meneteskan air mata. Aku memegang tangannya, begitu dingin. Ah, dia begitu terluka. Itu yang aku rasakan, hingga sepanjang penerbangan Jakarta-Bengkulu aku habiskan dengan menenangkannya, berjanji akan membuat semua baik-baik saja dan akan menjaganya. Aku terus mengenggam jemari lentiknya hingga dia tertidur pulas.
Nia, hanya itu nama yang aku tahu dari si cantik yang membuat jantungku berdetak begitu kuat. Hanya sepenggal nama yang parahnya aku sendiri tidak tahu, itu nama panggilankah atau penggalan namanya. Aku mencari Nia, terus kesana kemari bagai orang gila yang begitu merindu sebagian jiwanya yang hilang entah kemana. Sayang, tahun berganti, waktu berlalu, 3 tahun terlewatkan dan aku masih belum menemukannya.
Dan selama itu, Mama terus memaksa aku untuk berkenalan dengan anak dari teman-temannya. Aku sudah lupa, entah sudah berapa banyak wanita yang Mama siapkan untukku. Hingga wanita cantik dengan kelakuan anehpun masuk dalam daftar calon yang Mama siapkan untukku. Julia, wanita yang konon berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga berada ini, amat sangat terobsesi padaku. Sungguh aku merasa sangat aneh dengan kelakuannya, aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ada wanita seperti itu di dunia ini. Sanggup merubah penampilannya sedemikian rupa demi mencapai sebuah tujuan, yaitu menaklukan diriku. Cih, wanita yang aneh bukan ?
Pencarianku sampai pada titik mendampa yang luar biasa, aku tidak bisa menahan rindu yang membuncah pada gadis cantik bermata sembab, sungguh aku merindukan Nia. Dan lagi, perjalananku ke cabang perusahaan di Kota Bengkulu membuat aku bertemu dengannya. Cara Tuhan memang tidak bisa di terka, rumit walau sebenarnya mudah. Nia ternyata adalah karyawanku sendiri. Dia adalah seorang peneliti di Lembaga Penelitian dan Holtikulturan milikku di Cabang perusahaan Kota Bengkulu. Tiga tahun aku mencari, entah sudah berapa banyak sumpah serapah kulontarkan pasa Kristo sebagai wujud kekesalanku atas gagalnya pencariannya terhadap Nia. Dan ternyata, lihatlah. Nia berdiri dihadapanku, cantik sekali dengan balutan jas labnya dan hebatnya, Nia tidak mengenalku apa lagi tahu betapa besar rasa rinduku untuknya. Aku hampir saja kehilangan akal sehatku, aku hampir saja menariknya dan memeluk erat tubuhnya. Aku ingin melepaskan beban rindu ini, dan aku di buat takjub. Nia tidak mengingat siapa aku sedikitpun. Hahaha, betapa kasihannya aku yang merindu pada sosok yang tidak mengingatku.
Sekarang aku telah mengikat Nia dalam cincin bermata putih yang kusematkan di jari manisnya. Cincin yang merupakan warisan keluargaku ini aku berikan saat aku melamarnya di depan keluarganya dan Mamaku. Awalnya aku ingin menjadikan hari bersejarah itu sebagai kencan pertama kami, tapi aku rasa kencan kami bisa menunggu kapan saja. Yang terpenting sekarang membuat Nia terikat dulu padaku. Hingga Bibi Ros sehat kembali, aku akan segera menikahinya.
Aku sangat menanti hari bahagia itu tiba, hari dimana aku akan mensahkan Nia menjadi wanitaku menjadi isteriku. Aku sungguh berharap waktu cepat berlalu dan Syania Fira Sujoko akan segeraku persunting. Semoga semua bisa berjalan lancar, aku hanya mampu bermohon pada-Nya, jangan pisahkan lagi aku dari kekasih hatiku.
__ADS_1
Syania, aku cinta padamu.
***************
Hai...hallo kaka-kaka readers budiman dimanapun berada.
Salam, jumpa lagi sama author pada season 2 kisah Syania dan Aisakha. Sengaja author buka season 2 ini dengan sudut pandang Aisakha, tujuannya untuk membantu mengingatkan kaka-kaka semua pada kisah-kisah di season 1 yang telah lalu.
Semoga kaka-kaka readers suka dengan jalan cerita terbaru author ini.
Selamat membaca ya kak, mohon dukungan kaka-kaka semua untuk season 2.
Sehat selalu dan jangan lupa berbahagia🙏
__ADS_1