SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
71


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


"Apa acara kita sekarang ?" Tanya Angga pada Toni, Dafi dan Ardi. Saat 4 orang sahabat ini sudah sampai di parkiran mobil masing-masing.


 


"Aku juga enggak tahu. Tapi yang jelas aku free hari ini, aku udah bilang izin di kantor ". Ucap Toni yang di iyakan oleh yang lainnya dengan cepat.


 


"Ya udah..ke apartemen aku saja !" Ajak Ardi pada semua.


 


"Mau ngapain Di ?" Tanya Angga malas.


 


"Mau buat sedikit kejutan untuk Nia nanti, biar Nia merasa senang banget karena bisa kumpul lagi sama kita !" Ucap Ardi bersemangat.


 


"Wihhh..menarik tuh isi kepalamu Di ". Dafi sepertinya setuju dengan ide Ardi.


 


"Eh..ide apaan dulu ? Jangan aneh-aneh deh ! Entar si calon suami Nia ngamuk loh ". Cepat Toni mengerakkan kedua tangannya tanda menolak usulan Ardi.


 


"Ya..yang sederhana aja Ton, pokoknya ungkapan tulus dari kita-kita menyambut sahabat kita itu kembali dalam kebersamaan seperti dulu lagi ". Dafi terlihat mencoba membantu Ardi menjelaskan.


 


"Tapi kok aku ragu ya ? Kalian sih belum lihat gimana protektifnya tuan Aisakha sama Nia. Ihhhh ". Toni mengerakkan bahu dan lehernya berbarengan.


 


"Percaya deh, kita hanya buat sesuatu yang menyenangkan dan sederhana. Bukan pesta atau apalah gituh yang aneh-aneh ". Bujuk Angga kemudian. "Misalnya dengan memberikan dia bunga dan cokelat mungkin. Simpelkan tapi tulus ".


 


"Yaa..kalau kalian berkeras aku mau gimana lagi. Ayo deh ". Angguk Toni pasrah.


 


"Tunggu ". Mendadak Angga membuat langkah kaki 4 sahabatnya ini menjadi berhenti.


 


"Hemm...apa lagi ?" Tanya Ardi yang nyaris sampai ke parkiran mobilnya yang kebetulan sangat dekat posisinya dengan Ardi.


 


"Bagaimana dengan Edo ? Apa kita enggak keterlaluan ? " ada keraguan di mata Ardi


 


"Kita, keterlaluan Ardi ? Yang benar saja kamu !" Guman Dafi ketus.


 

__ADS_1


"Kau lihat sendirikan gimana caranya bersikap. Lagi pula dirinya sendiri yang membuat dia terjebak dalam penderitaan ini. Dia yang buat ya, silahkan dia rasakan. Tanggung jawab dong !" Suara Dafi berapi-api.


 


"Sudahlah..jangan pikirkan kejadian tadi ! Lupakan semua ! Aku sedang malas membahas itu !"  Tolak Toni singkat.


 


"Ya..sama aku juga ". Angga juga memasang wajah enggannya ke arah Ardi.


 


Ardi hanya bisa menghela nafas pelan, lambat dan berulang. Entahlah, sejujurnya Ardi juga malas membahas cara Edo bersikap kepada mereka tadi. Tetapi kalau di tanya hati nurani, sesungguhnya Ardi sedang bingung saat ini. Antara rasa kasihan dan marah bercampur aduk. Dan Ardi pun mencoba melupakan sesaat perasaannya yang tak menentu ini.


 


 


**************


 


"Itukah calon nyonya muda kita ?" Para pegawai yang sengaja di barisakan Kristo di koridor tiap lantai dalam rangka menyambut kedatangan Nia, sedang berbisik bergunjing satu sama lain.


 


"Aku rasa iya deh, liat saja cara tuan menuntunnya !" Balas yang lain juga berbisik.


 


"Eh..nona kita itu model ya ?" Tanya yang lain dengan mata berbinar-binar.


 


 


"Lihat deh cara tuan memandang nona !" Bisik yang lain sambil memaksa teman-temannya memandang ke arah Nia. "Kayaknya tuan cinta banget ya sama nona kita itu ".


 


"Aku jadi iriiiiiiiii ", rengek iba salah satu pekerja Aisakha yang terlihat masih cukup muda.


 


"Kamu masih kecil dodol, kerja aja yang benar ! Jangan mikirkan yang lain, apa lagi cinta-cintaan !" Terdengar suara sok dewasa yang lain menasehati.


 


"Issshhh, namanya juga iri. Memang pake batasan usia apa ?" Terdengar kalau yang di nasehati tidak mau terimap


 


Kasak-kusuk pun tetap berlanjut. Suara bisik-bisik penasaran terus saja mengikuti langkah Aisakha dan Nia menuju ruang utama Presdir Sunjaya Company. Sebenarnya suara bisik-bisik itu tidaklah sepelan yang di bayangkan, karena pada beberapa poin justru sang Presdir tampan ini bisa mendengarnya dengan jelas, tetapi Aisakha membiarkan saja semua. Karena diam-diam hatinya merasa senang karena keberadaan Nia di sisinya sukses menjadi bahan pergunjingan pagi ini, para karyawannya terkagu-kagum dengan sosok Nia. Sedangkan para karyawatinya melonggo iri dengan rasa cinta dirinya pada Nia.


 


Dengan senyum bangga, Aisakha mengacuhkan semua dan terus saja berjalan mengandeng Nia hingga ke ruang kerja utama miliknya.


 


"Masuklah ". Ucap Aisakha pada Nia, saat Kristo telah membukakan pintu ruang kerjanya.


 


Nia menganguk patuh. Berjalan terlebih dahulu di depan Aisakha.

__ADS_1


 


Wah...furniture di ruangan ini lebih berkelas di bandingkan dengan yang di Bengkulu. Benar-benar sangat mencerminkan jiwa seorang penguasa. Luar biasa banget.


Puji Nia dalam hati.


 


"Sebentar lagi aku ada rapat. Kamu akan di temani Kristo dulu ya ". Ucap Aisakha dari belakang bahu Nia.


 


"Nanti Kristo akan bawa kamu keliling perusahaan, mereka semua harus tahu seperti apa wajah calon nyonya muda Britana ". Suara Aisakha terdengar senang. "Setelah aku selesai rapat. Kita baru ke gedung sebelah, tempat laboratorium baru kamu nanti ".


 


"Sekalian kita bahas gimana cara terbaik bagi Ibu Kepala Laboratorium buat merekrut calon penelitinya nanti ". Secercah senyum manis terkembang di wajah Nia saat dirinya selesai mendengarkan semua penuturan Aisakha padanya.


 


Nia berbalik badan, menghadap ke arah Aisakha. Terlihat jelas rona senang di wajah cantik itu, "terima kasih sayang ". Ucap Nia sambil berjinjit mendekatkan bibirnya ke pipi Aisakha.


 


Menjadi Kepala Laboratorium saja, aku bisa dapat hadiah di pipi kanan. Berarti kalau jadi nyonya muda Sunjaya Company, aku bakal dapat............? Heheheeh...


Daya khayal Aisakha sedang melayang tanpa bisa di terka.


 


 


***************


 


"Ada apa Edo..kamu kenapa ha ? Mau buat Mama malu ya ?" Tanya Mama kesal setelah berhasil mendekati tempat Edo berdiri diantara para tamu yang sedang bingung mengelilinggi dirinya.


 


Kelakuan aneh Edo sukses mencuri perhatian semua mata di pesta meriah itu, semua sedang berbisik membicarakan dan mencemeeh dirinya.


 


"Apa, ha ? Kalian mau apa ?" Tanya Edo pada semua mata yang menatap heran tidak habis pikir padanya.


 


"Edo, ikutlah dengan Papa !" Suara iba Papa sambil menarik tangan Edo menjauh dari acara pesta meriah untuk dirinya sendiri. Acara yang seharusnya membuat sosok Edi bagai raja yang dilimpahkan cinta, tapi realitanya sungguh mengenaskan.


 


Sang Papa membawa Edo menjauh kearah pintu, menarik sang anak ke luar dari aula ke arah lift terdekat. Papa berencana membawa Edo ke kamar yang telah di pesankan khusus untuk Edo dan Kemala setelah acara pesta ini selesai.


 


"Duduk !" Perintah Papa yang sudah tidak tahan lagi melihat sikap Edo.


 


"Ada apa ini ?" Tanya Papa sambil duduk di sebelah Edo.


 


 

__ADS_1


__ADS_2