
🌈🌈🌈🌈🌈
Nia memakan sarapan paginya dengan sangat lahap, satu porsi bubur ayam sudah selesai sejak tadi. Selanjutnya semangkuk sayur bening daun kelor lengkap dengan jagung manis, Nia berdecap beberapa kali, jelas Nia sangat menikmati sayuran hijau di depannya itu.
Setelah butuh waktu lama, akhirnya Aisakha bisa menenangkan Nia. Membuat Nia yakin pada keberadaan dirinya di tempat teraman saat ini, jauh dari lelaki yang menurut Nia masuk kategori gila. Aisakha telah menumbuhkan kembali kepercayaan diri Nia, bahwa sampai kapanpun Bagas tidak akan pernah muncul lagi, menyakiti dirinya ataupun keluarga kecil mereka.
Dan kesuksesaan Aisakha ini berbuah manis pada nafsu makan Nia. Nia kembali tersenyum, dukanya telah hilang. Dia kembali bahagia, bahagia bersama suami tercintanya.
“Enak ?” Aisakha mengelus rambut Nia.
“Seger banget sayang, mau ?” mengangkat satu suap ke arah bibir Aisakha. Aisakha menerima itu, mengunyah pelan mencoba meresapi rasa yang dinikmati sang istri.
“Emm, memang seger “. Menelan makanan di dalam mulutnya.
“Ini juga enak sayang “, kali ini mendekatkan sendok berisi cumi saos asam ke bibir Aisakha. Aisakha kembali menerimanya, mengunyah pelan untuk menikmati rasanya.
“Bagaimana ?” Nia melihat Aisakha mengerutkan keningnya.
“Enak “, jawab Aisakha sambil tersenyum.
“Kan, apa aku bilang sayang “. Bangga dengan apa yang diyakininya benar.
“Mau lagi ?” menyendok isi piring.
“Sudah, kamu saja lagi. Aku sudah kenyang “. Menggeleng pelan.
“Baiklah “. Tertawa pelan sangat senang bisa menghabiskan semua isi piringnya sendiri.
Nia tidak butuh waktu lama. Semua isi piringnya sudah selesai, sudah tandas, bersih sempurna. Perutnya sudah aman, kenyang sekali rasanya.
“Mau apa lagi sayangku ?” mengelus pipi Nia.
“Aku mauuuu “, kegirangan sambil meletakkan kedua tangan di bahu Aisakha.
__ADS_1
Tetapi tidak butuh waktu lama. Nia mendadak menutup mulutnya dengan tangan kanan.
“Nia ?” Aisakha mengekori Nia yang berjalan cepat ke arah kamar mandi.
Serta merta, Nia mengeluarkan isi perutnya. Mengeluarkan sarapan pagi lezatnya tadi begitu saja. Wajahnya pucat, air matanya menetes. Aisakha mengusap punggung Nia sambil membantu Nia memegang sambut panjangnya.
“Nia ?” kembali bersuara setelah yakin Nia selesai dengan isi perutnya.
“Enggak enak “. Menatap Aisakha dengan wajah lelahnya.
“Aku gendong ya ?” Nia mengangguk pelan dan membiarkan Aisakha membawa dirinya kembali ke kasur.
“Aku kenapa ya ?” bertanya sambil menyembunyikan wajah lelahnya di dada Aisakha. “Apa ini efek makan mangga mentah tengah malam ?”
“Nia... “, menarik nafas dalam. “Menurut dokter, apa yang kamu alami ini masuk kategori wajar kok. Dan katanya, hal seperti ini akan berlangsung selama 3 bulan awal “. Mengecup puncak kepala Nia.
“Ooo, jadi dokter sudah jelaskan ya sayang ?” Heran dan tidak mengerti.
“Iya, dokter bilang pada umumnya memang seperti itu. Sampai nanti lewat 3 bulan pertamamu, semua akan lebih baik !” Mencoba menjelaskan sebaik mungkin.
“Semoga saja, tetapi kalau menurut teori dokter si belum “. Aisakha menyadari kalau Nia belum tahu arah pembicaraan mereka kemana. Dalam hatinya, Aisakha sudah mulai gemas sendiri.
“Masa iya, efek makan mangga mentah bisa selama itu sih ?” mendongakkan kepala, memasang tampang bingung.
“Ya...mau gimana lagi. Mungkin Sakha Junior maunya gituh “, Aisakha melihat Nia semakin bingung.
“Siapa itu Sakha Junior, sayang ?” Nia masih melongo heran menatap wajah Aisakha.
“Ini...”, mengelus perut Nia penuh kasih.
“Maksudnya ?” mengerutkan kening dalam.
Aisakha hanya tersenyum, senyum bahagia sehangat mentari.
__ADS_1
“Tunggu dulu “, Nia merasa ingat sesuatu. “Sekarang tanggal berapa ?” memilih duduk dan mulai memasang wajah serius.
Aisakha masih saja tersenyum senang, tingkah serius Nia semakin membuat dirinya ingin segera memberitahu Nia.
“Sa, sayang “. Menyentuh tangan Aisakha yang masih berada di perutnya.
“A, apakah ?” tidak berani melanjutkan pertanyaan, mata Nia sudah berkaca-kaca.
“Iya istriku. Ada anak kita di sini “, mengelus pelan perut Nia. “Ada buah cinta kita, Sakha Junior “.
“Yaaaaaa....Tuhan “, bersuara keras. “Yaaaaa....Tuhan “, menatap mata biru Aisakha masih tidak percaya. Dam tanpa sadar, Nia membiarkan air matanya jatuh menetes begitu saja.
“Aku, aku ?” mengharap sebuah kepastian lebih lagi.
“Selamat nyonya Aisakha, kamu sedang mengandung anak kita “. Mengelus pipi Nia. Menghapus air mata bahagia yang menetes di pipi Nia.
“Aku hamil “, berteriak keras kegirangan. Saking kerasnya membuat Kristo yang terduduk di luar kamar rawatan Nia berlari secepat yang dia bisa, masuk ke dalam kamar rawatan Nia.
“Tuan “, Kristo mengamati keadaan sekitar.
“Sayang, aku hamil ?” masih berteriak keras, membuat Aisakha tertawa bahagia dan Kristo memandang terpesona.
“Aku, kita...akan menjadi orang tua ?” Aisakha menganggukkan kepalannya merespon kegirangan Nia.
“Aku akan jadi Ibu ?” menatap perut ratanya.
“Ya Tuhan....bisa dengar Bunda sayang ? Ini Bunda, nak ?” Air mata Nia menetes semakin banyak. Aisakha mengecup kening Nia berkali-kali. Keharuan dalam nuansa kebahagiaan berkali-kali lipat terpancar di dalam kamar rawatan Nia.
Aisakha kehilangan kata-kata, dirinya hanya bisa memeluk Nia lama dalam perasaan kasih yang lebih besar dari sebelumnya. Sungguh indah perasaan yang merasuk jiwanya saat ini, kabar kehamilan Nia adalah sebuah karunia indah untuknya.
Sepasang suami istri itupun berpelukan lama, saling membagi suka mereka. Saling bersyukur atas karunia Sang Maha Kuasa. Nia masih saja menereskan air mata suka cita, rasa haru dan tidak percaya masih kentara di wajahnya.
Sedang Kristo, si sekretaris Aisakha ini hanya memandang takjub pada realita di depan matanya. Sejujurnya Kristo sangat senang, kenyataan bahwa dirinya akan segera menjadi seorang Paman membuat hatinya berbangga diri. Kristo diam-diam berdoa, bermohon pada Sang Maha Pemilik Segala, agar selalu menjaga tuan dan nona mudanya. Memastikan mereka selalu hidup bahagia, dan memiliki keturunan yang sempurna.
__ADS_1