SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 60


__ADS_3

Laporan


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Nia duduk manis di ruang makan, menunggu Bibi yang sedang membuatkan segelas susu putih hangat untuknya. Selang beberapa saat kemudian, Bibi pun datang membawakan segelas susu yang dijanjikannya buat Nia, Nia menerima gelasnya dari tangan Bibi dan mulai menyeruput sedekit demi.


 


"Terima kasih Bi". Ucap Nia pada si Bibi sambil melanjutkan menyeruput minuman hangatnya.


 


"Gimana, udah mulai enakan non?" Tanya Bibi yang saat ini sudah duduk di samping Nia.


 


Nia menganggukan kepalanya, hangatnya susu putih buatan Bibi telah menjalar tenang ke dalam tubuhnya. Rasanya sangat nyaman, hilang sudah hawa dingin yang sedari tadi membuat bulu kunduknya berdiri. Senangnya, terasa hangat.


 


"Non tadi mimpi apa?" Bibi sebenarnya sangat penasaran dengan mimpi si majikan.


 


Nia menatap gelas yang saat ini isinya tinggal beberapa teguk lagi, memorinya kembali ke alam mimpinya. Suara dentuman keras, asap hitam, gelap, menutupi pandang Nia. Matanya tidak bisa melihat apa pun, hitam, nafasnya sesak, semua sangat gelap. Suara teriakan silih berganti, suara-suara yang memerintahkan agar dia dan Bibi menjauh. Anehnya, suara teriakan tersebut tidaklah jelas berasal dari mana, siapa dan dimana sosok yang berteriak.

__ADS_1


 


Nia merapatkan tangannya di dada, entah karena dingin atau karena hal lain, tetapi untuk sekarang tingkat kenyamanan Nia mulai terganggu.


 


"Aku mimpi buruk Bi" Nia pun menceritakan semua isi mimpinya kepada Bibi, pikirannya melayang penuh ketakutan saat cerita demi cerita terlontar dari bibir tipisnya.


 


"Ya Tuhan non, kok ngeri amat ya". Ucap Bibi sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi itu semua cuma mimpi kok non, bunga tidur. Kadang ada kalanya indah, tapi kadang ada kalanya sedikit menakutkan. Jangan masukin ke hati ya non". Hibur Bibi pada Nia.


 


"Aku kepikiran Bi". Aku Nia pada si Bibi.


 


 


"Semoga Bi". Nia hanya bisa berharap.


 


Sementara itu, lebih kurang satu jam yang lalu, Aisakha terjaga dari tidur lelapnya. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja matanya terbuka lebar. Aisakha melihat ke atas, ke arah plafon kamarnya mencari tahu apa yang telah menganggu tidurnya di tengah malam. Melihat sisi kanan, melihat sisi kiri, Aisakha duduk menyandarkan tubuhnya bersandar ke kepala ranjangnya, memijat pelan pelipisnya. Merasa heran, timbul tanda tanya, mencari tahu ada apa? Tetapi Aisakha tidak menemukan jawabnnya.


 

__ADS_1


Suhu udara stabil, tadi juga tidurnya enak banget setelah dengar suara Nia. Lantas kenapa tiba-tiba mata ini kebuka  sendiri ya?


 


Aisakha beranjak dari ranjang empuknya, berniat menuju sofa di depan ranjang. Karena rasa kantuk yang sudah terbang entah kemana, sekarang terpikir olehnya untuk menyalakan televisi yang berada di ujung sofa.


 


Baru saja televisi hidup, pilihan siaran belum tampil, handphonenya ternyata berbunyi. Siapa tengah malam begini? Tanya Aisakha sambil berusaha mengapai handphonenya. Pakde? Niaaa..


 


"Hallo, Pakde". Cepat Aisakha menerima panggilan masuk dari Pakde.


 


"Maaf tuan, saya ganggu istiraht tuan. Maaf benar tuan". Sebenarnya sedari tadi Pakde sangat ragu, memilih melaporkan tentang kejadian Nia yang terbangun karena mimpi buruknya tadi atau tidak.


 


Tidak cerita, takutnya nanti kenapa-napa. Apa lagi kata tuan Aisakha, aku harus ceritakan semua tentang non, apa pun itu. Diceritakan, berarti ganggu jam istirahatnya tuan. Begitulah dilema yang berkecamuk di hati Pakde, hingga akhirnya Pakde memberanikan diri menelepon Aisakha. Pasti gak masalah aku telepon tengah malam, lah si tuan inikan sangat sayang sama non Nia.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2