
πππππ
γ
γ
"Bernafaslah secara perlahan !" Aisakha sedang mengajarkan Nia cara terbaik saat penyatuan bibir mereka sedang berlangsung. Nia tertunduk malu, hilang sudah kesalnya, entah kemana sikap mencebeknya. Tiba-tiba selang detik jam berjalan Nia hanya mampu munutup wajahnya sambil menarik nafas perlahan.
γ
Aisakha melihat ada pergerakan pelan di dada Nia, jelas terlihat kalau Nia sedang mengatur ulang nafasnya agar kembali normal. "Malu ?" Tanya Aiskaha sambil menurunkan kedua tangan Nia yang menutupi wajah cantik dengan semu merah cerah.
γ
Sambil mengigit bibir bawahnya, Nia hanya mampu mengangukkan kepala pelan. Mendadak Nia menjadi kehilangan suaranya, dia memang sangat malu.
γ
"Bahkan hingga hari ini pun masih malu ?" Aisakha kembali memegang dagu Nia, mengangkat wajah yang sibuk menatap ke bawah agar beradu pandang dengannya.
γ
Nia kembali mengangukkan kepalanya, sepertinya Nia memang hanya memiliki kemampuan berkomunikasi sebatas menganguk saja untuk saat ini.
γ
"Malu sama siapa ?" Tanya Aisakha menatap lekat mata Nia.
γ
"Sama Mas ", jawab Nia sangat pelan.
γ
"Kenapa harus malu sayang ? Mas aja suka banget kalau kita mengulang adegan tadi ". Sekarang senyum jahil kembali terkembang, menghiasi wajah Aisakha. Mata birunya pun terus menatap lekat pada Nia.
γ
Nia melepaskan tangan Aisakha dari dagunya dan secepat yang dia bisa, gadis cantik ini malah memilih menyembunyikan wajahnya di dada Aisakha. Dengan tangan memeluk erat pinggang Aisakha, Nia malah mengelengkan kepalanya di dada bidang itu. "Udah jangan lagi ?" Ucap Nia malu.
γ
"Yahh, padahal aku masih mau lagi ". Suara Aisakha di buat mengiba. 'Sekaliiiiii lagi ". Pinta Aisakha sambil memeluk Nia.
γ
"Udah Mas...besok aja lagi ". Jawab Nia dengan polosnya.
γ
"Serius ? Janji !" Aisakha merasa mendapat angin surga hanya dengan mendengar kata-kata Nia barusan.
γ
"Iya, serius. Janji deh, tapi saat kita udah nikah ". Selesai berbicara Nia kembali mengigit bibir bawahnya. Hanya mengucapkan kata sesederhana itu saja, pipi Nia bisa berubah merah.
γ
"Lama dong ", jawab Aisakha tidak rela.
γ
"Ya...Masnya sabar dong !" Nia mencoba membujuk.
γ
"Gimana kalau satu kali lagi, habis itu setelah kita menikah kita lanjutkan?" Dan Aisakha bisa merasakan kalau saat ini kepala Nia sedang bergerak ke kanan dan ke kiri tepat di bagian dadanya. Nia sedang menolak permintaannya.
γ
__ADS_1
"Kalau Mas paksa ?" Nah, kalau ini Aisakha sengaja mengisengi Nia, sikap malu Nia memang berhasil membuat ide jahil Aisakha muncul.
γ
"Jangan dong Massssss !" Tolak Nia pasti.
γ
"Alasannya ?" Aisakha pura-pura lugu.
γ
"Ya...jangan aja ". Nia malah sulit memberi penjelasan. "Nanti kalau kita sudah Nikah boleh kok ".
γ
"Boleh apa ?" Aisakha masih bertanya dengan sikap sok lugunya.
γ
"Ya itu...boleh kayak tadi ". Jawab Nia ragu.
γ
"Iyaaaa, Syania. Kayak tadi itu, apa ? Coba deh gomong ya yang nyampe ! Mau buat Mas bingung ya ?" Aisakha semakin berpura-pura saja.
γ
"Ihhhhhh...", Ni ngemes sendiri. "Kayak yang mas lakuin tadi itu, di bibir aku ". Nia malah semakin dalam menyembunykan wajahnya di antara otot bidang sang kekasih.
γ
"Maaf...tapi Mas memang gak ngerti ". Aisakha membuat suaranya terdengar pasrah dan kecewa.
γ
"Aduh Mas ini..ituloh Mas, cium bibir itu loh ". Jawab Nia pelan dan perlahan.
γ
γ
"Hanya cium bibir saja ?" Aisakh masih melanjutkan keinginannya mengoda Nia. Meskipun dirinya mulai sulit membendung tawanya dengan kepolosan Nia, tetapi Aisakha masih belum berencana mengakhiri ulahnya.
γ
"Loh, memang Mas mau apa lagi ?" Benar tebakan Aisakha. Nia pasti akan bertanya balik padanya.Β Kepolosanmu buat gemes deh...
γ
"Ya mau kamu dong "
γ
"Loh....bukannya kalau kita menikah Mas memang memiliki aku ?" Saking bingungnya, Nia melepaskan dirinya dari pelukan Aisakha. Dengan tampang polos, Nia menatap mata Aisakha silih berganti.
γ
"Maksud Mas, pengen makan kamu sayang, di atas ranjang yang habis kamu ganti seprainya itu ". Kepala Aisakha sedikit bergerak ke arah kanan, memberi tanda ke arah ranjang Nia yang sekarang beralaskan kain berwarna hijau lembut.
γ
Emmmmm...?
Kening Nia sedikit mengkerut. Sesaat Nia mengalihkan pandangannya dari mata biru Aisakha ke arah hijau seprai ranjangnya.
Ehhh....
Sepertinya Nia bisa mengerti sekarang arah pembicaraan Aisakha, arti tiap susunan kata Aisakha barusan.
__ADS_1
γ
"Mas ini, genit....", ucap Nia sambil mencubit lengan Aisakha. Aisakha bukannya merasa sakit atas perlakuan Nia padanya, yang ada malah dia malah tertawa keras, tertawa puas.
γ
"Hahahahahahaha ". Aisakha mengecup sekilas kening Nia yang tadi terlihat sedang berpikir keras di antara derai tawanya.
γ
"Hahahaahhahaha......... ", ternyata Aisakha belum bisa menghentikan tawanya sambil terus memeluk Nia.
γ
Hingga sesaat kemudian.
"Aku cinta padamu ". Ucap Aisakha setelah benar-benar puas melepaskan kelucuannya pada sosok wanita cantik pemilik hatinya itu. Sebuah penuturan jujur, ungkapan terdalam jiwanya setelah merasa lelah mengoda Nia dengan sikap polos dan bersahajanya.
γ
"Jangan tinggalkan aku ya !" Ucap romantis Aisakha yang di tuturkannya dengan lembut di telinga Nia.
γ
γ
***************
γ
Mama baru saja selesai membeli beberapa jenis oleh-oleh yang sengaja ingin di bawanya sebagai buah tangan ke rumah Paman dan Bibi Nia, calon besannya itu. Sekilas Mama menatap barang-barang yang di belinya di sebuah Mall di kawasan Pantai Panjang.
γ
Sepertinya masih ada yang kurang deh ?
Mama masih sibuk memandangi barang belanjaannya dengan seksama. Menatap satu persatu untuk mencari kepastian
Apa lagi ya ?
Mama belum menemukan apa gerangan jenis barang yang menurutnya Masih kurang itu. Padahal jangan di tanya seberapa banyaknya belanjaan Mama pagi ini. Sangat banyak, sampai-sampai memenuhi bagasi mobil yang mengawal sang Mama di belakang.
γ
Mobil terus melaju pasti, memecah keramaian lalu lintas Kota Bengkulu. Ternyata si sopir sudah hafal benar letak rumah yang menjadi tujuan sang nyonya besarnya. Dengan tetap mementingkan keselamatan sang nyonya, si sopir terus memastikan batas kecepatan kendaraan yang di bawanya akan segera mengantar sang nyonya ke alamat di tuju.
γ
Semoga berhasil...
Doa Mama sambil memandang keluar jendela mobil.
Bila perlu aku pake adegan nangis segala. Nangisnya harus dari hati supaya Paman dan Bibi Nia yakin, terus harus tersedu-sedu gituh, air matanya juga harus banyakΒ !
Mama mengunguk-anguk mengiyakan isi kepalanya sendiri.
Pokoknya harus dari hati, jadi mereka bisa lekas percaya.
Mama terlihat sangat yakin. Ternyata diam-diam Mama sedang menyusun sebuah ide cemerlang untuk memuluskan keinginannya agar segera bisa mempersunting Nia untuk sang anak lelaki kesayangannya. Sekarang, seulas senyum memenuhi wajah yang masih memiliki sisa kecantikan, meskipun Mama sudah berusia paruh baya. Kali ini Mama terlihat sangat percaya diri.
Mobil terus melaju, Mama sudah sangat siap. Sebuah ide, sebuah rencana. Intinya Mama ingin pulang dengan berkantongkan izin dari Paman dan Bibi Nia, izin untuk sesegera mungkin menjadikan Nia sebagai menantu kesayangannya, isteri sah anak tunggalnya.
γ
Mama menarik nafas panjang, sekali, dua kali dan menghembuskannya perlahan.
γ
"Baiklah..... ". Guman Mama penuh semangat.
__ADS_1
γ
γ