
Siapa Dia?
πππππ
γ
γ
Setelah Pakde sampai dengan membawa satu paper bag berisi baju ganti dan baju hangat sesuai permintaan Aisakha untuk Nia. Nia segera ke kamar mandi, rasanya badannya memang sudah sangat tidak nyaman. Dan ternyata selama Nia di kamar mandi tadi, Aisakha memerintahkan pada Pakde agar pulang saja. Pakde lebih dibutuhkan di rumah karena ada Bi Kartik isterinya yang sedirian. Kalau Pakde bertahan di Rumah Sakit, rasanya tenaganya sedang tidak dibutuhkan saat ini.
γ
"Giliran Mas lagi". Nia menyentuh pelan bahu kanan Aisakha yang tengah bersandar di single sofa.
γ
"Sudah?" Tanya Aisakha sambil memegang tangan Nia yang tepat berada dibahunya.
γ
"Iya". Jawab Nia sambil tersenyum.
γ
"Baiklah". Sekarang Aisakha berdiri, berencana hendak membersihkan diri dan menganti baju yang telah disiapkan Kristo untuknya.
γ
Saat hendak melalui Nia menuju kamar mandi di ujung lain ruangan besar tempat Bibi Ros di rawat, sesaat pandangan matanya mengamati sang kekasih. Nia terlihat lebih segar, lebih baik dari siang tadi saat pertama dia menjumpai Nia di depan kamar operasi Bibi Ros. Memang, wajah duka masih jelas terpancar pada aura diri Nia. Tetapi setidak-tidaknya Nia terlihat lebih tenang sekarang.
γ
Kemudian, langkah Aisakha dihentikan oleh pertanyaan Nia.
γ
"Mas, Pakde mana?" Tanya Nia setelah gagal menemukan sopir pribadinya itu.
γ
"Sudah aku suruh pulang. Kasihan Bi Kartik sendirian". Jawab Aisakha lembut. "Kenapa, kamu mau aku ambilkan apa? Kan ada Kristo". Tanya Aisakha pada Nia.
γ
"Enggak Mas, enggak ada kok. Ya udah Mas bersihin diri gih". Jawab Nia kemudian.
γ
Aisakha pun berlalu dari hadapan Nia, segera masuk ke kamar mandi.
γ
γ
***************
γ
"Alika, Pandu". Paman ternyata sudah berdiri di dekat sofa tempat Alika dan Pandu duduk.
γ
"Paman Makan dulu". Nia langsung menawarkan makanan pada sang Paman.
γ
"Iya, sebentar". Jawab Paman pelan.
γ
"Ada apa Pa?" Tanya Alika menjawab panggilan Papanya tadi.
γ
__ADS_1
"Kamu dan Pandu, pulanglah nak. Hari sudah malam, kasihan Alex". Perintah Paman.
γ
"Enggak. Aku mau di sini". Jawab Alika tegas.
γ
"Nak, kamu harus pulang. Pandu bawa isterimu pulang". Lagi Paman memberi perintah.
γ
""Paaaa, aku mau di sini, jaga Mama". Alika mulai melunak, berusaha membujuk sang Papa.
γ
"Papa tau nak, tapi kasihan Alex. Alex butuh kalian, orang tuanya". Paman mulai menasehati Alika. "Uruslah Alex, kasihan dia. Dia belum pernah mencoba tidur tanpa ada nenek dan kedua orang tuanya. Besok pagi setelah kalian memastikan Alex tenang, baru ke sini".
γ
"Bagaimana kalau Mas Pandu aja yang pulang. Aku di sini". Alika memberi opsi pada sang Papa.
γ
"Alika, kamu itu Ibunya Alex. Dimana perasaan kamu?". Paman terlihat mengeleng tidak percaya. "Papa tau kamu dan Pandu sangat kawatir sama Mama. Tapi jangan lupa, kalian punya anak bayi. Alex butuh kalian, jangan egois. Pulanglah, urus Alex. Besok kaliankan bisa ke sini lagi". Paman berusaha membujuk Alika lagi.
γ
"Benar apa yang Papa bilang. Kasihan Alex". Pandu memegang jemari sang Isteri. "Besok pagi kita kesini lagi ya. Sekarangkan ada Papa, Nia, tuan dan dokter-dokter terbaik sudah ada di sekitar Mama. Kita jaga Alex malam ini". Pandu pun mencoba membujuk Alika.
γ
"Ba-baiklah". Alika akhirnya menyerah dan bersedia untuk pulang, walaupun hatinya sangat berat, tetapi mau bagaimana lagi. Alex, anak semata wayang mereka sangat butuh kedua orang tuanya. Ini sudah sangat malam.
γ
"Pa, ada apa-apa bilang aku ya". Alika pamit sambil mencium pipi kanan sang Papa.
γ
γ
"Paman mau pake lauk apa?" Tanya Nia saat sang Paman sudah duduk di sofa.
γ
"Apa saja nak". Jawab Paman tidak berselera.
γ
Nia menyendok nasi ke piring untuk sang Paman dan, "cukup, cukup". Ucap Paman sambil mengerahkan tangan memberi tanda pada Nia.
γ
Tapi ini hanya sedikit, paling empat sendok kecil. Pikir Nia memandangi butiran nasi di piring.Β Tidak apalah, yang penting perut Paman terisi.
γ
Nia menata piring makan dan segelas jus mangga segar tepat dihadapan Paman. Paman menatap piring, tidak berselera. Akhirnya Paman memilih meneguk isi gelas jusnya, tidak di sangka. Hanya beberapa tegukan saja isi gelas itu sudah bersih. Ahhh, aku baru sadar kalau ternyata aku sangat haus.
γ
"Paman suka, mau tambah". Nia kembali menawarkan untuk mengisi ulang gelas sang Paman.
γ
"Iya, boleh. Ternyata Paman sangat haus". Jawab Paman sambil memberikan gelasnya pada Nia.
γ
Nia pun mengisi ulang gelas Paman, serta menyodorkan piring makan Paman. Walaupun terlihat jelas Paman sangat tidak berselera, tetapi Paman tetap memaksakan diri mengunyah makan yang telah disiapakan Nia untuknya.
γ
__ADS_1
Kristo hanya diam, dari sudut tempat dia duduk, dirinya hanya diam memperhatikan semua yang dilakukan oleh Nia dan Paman. Tanpa berkomentar apa lagi bertanya, Kristo hanya memandangi saja semuanya.
γ
"Dimana lelaki yang bersamamu tadi nak?" Tanya Paman pada Nia.
γ
"Sedang di kamar mandi Paman, sedang membersihkan diri dan ganti baju". Jawab Nia..
γ
"Kamu enggak pulang saja?" Paman terlihat memainkan sendok dipiringnya.
γ
"Aku di sini ya Paman, sama Paman". Nia menatap penuh permohonan pada Paman.
γ
"Tapi besok kamu kerja?"
γ
"Aku minta sudah dapat izin Paman". Jawab Nia yakin.
γ
"Benarkah? Apa tidak apa-apa?" Paman sedikit ragu.
γ
"Tidak Paman, percayalah". Jawab Nia sambil tersenyum.
γ
"Lantas siapa lelaki yang bersamamu itu?". Tanya Paman sambil menyuap suapan kedua kedalam mulutnya.
γ
"Dia, dia adalah Presiden direkturku, Paman". Jawab Nia yang tampak sedikit ragu.Β Dan....
γ
"Maksudmu, dia adalah pemilik Sunjaya Company? Tu-tuan Aisakha Elang Britana?" Paman terlihat tidak percaya.
γ
"Be-benar Paman". Jawab Nia tanpa berani menatap kearah Paman.
γ
"Paman tidak menyangka, seorang tuan Aisakha itu baik sekali pada kamu, pada kita. Padahal kamukan hanya pegawai biasaΒ di perusahaannya". Paman merasa betapa baiknnya Aisakha pada Nia.
γ
"Paman". Ucap Nia pelan masih tanpa menatap wajah sang Paman
γ
"Hemmm". Jawab Paman singkat.
γ
"Dia, dia tidak cuma sebagai Presdirku saja". Dan Nia terlihat sangat takut untuk melanjutkan kalimatnya.
γ
γ
γ
γ
__ADS_1