
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Aneh...", Toni menatap handphonenya.
 
"Jelas terakhir sebelum Nia menikah, dia bilang kalau dia tidak pernah bertemu Edo ". Toni sedang berpikir. Ternyata tentang pertemua Nia dan Edo yang di dampingi oleh Aisakha tidak di ketahui oleh Toni atau pun yang lainnya.
 
"Tapi kamu bilang ada kemungkinan Edo yang telah menemukan Nia ?" Angga terlihat berhasil mengingat sesuatu.
 
"Benar, tetapi merekakan tidak pernah bertatap muka ". Sanggah Toni.
 
"Jadi, kalau begitu dimana Edo ?" Ardi sedang berpikir.
 
Semua diam, pertanyaaan Ardi membuat semua bingung.
 
Hingga....
"Om Rendra !" Suara Toni, Ardi, Dafi dan Angga berbarengan.
 
"Ton ". Angga memberi kode agar Toni yang menghubungi papanya Edo itu.
 
"Hemmm ", Tonipun menyanggupi. Segera saja Toni menekan panggilan keluar.
 
Panggilan berlalu, menandakan tidak ada yang berniat menerima.
 
"Coba lagi !" Perintah Dafi.
 
"Mungkin Om Rendra sudah tidur ". Toni tampak ragu untuk mencoba lagi.
 
__ADS_1
"Coba lagi Ton !" Semua sahabat Toni itu tidak perduli dengan keraguan Toni.
 
Terpaksa, meskipun berat Tonipun mengiyakan permintaan para sahabatnya itu. Panggilan keluar kedua, mereka sama-sama menunggu.
 
"Hallo ", akhirnya panggilan telepon Toni di terima.
 
"Om...maaf aku ganggu malam-malam. Om sudah tidur ?" Toni memulai pembicaraan.
 
"Tidak apa-apa Ton, maaf ya Om lama angkatnya. Om belum tidur kok ". Jawab Papanya Edo ini dengar suara sedikit serak.
 
"Om sakit ?" Tanya Toni heran.
 
"Tidak, Om baik-baik saja ". Bohong Papanya Edo. "Ada apa Ton ?"
 
"Om...kami sedang mencari Edo. Edo tidak bisa di hubungi. Apa Om tahu dimana Edo ?"
 
 
Toni menatap mata sahabatnya satu persatu, meminta jawaban.
 
"Jujur saja ". Angga mewakila yang lain bersuara.
 
"Om, ini tentang Kemala ". Akhirnya Toni kembali ke spaker teleponnya.
 
"Ah, kasihan anak itu. Edo pasti telah menbuatnya sangat kecewa ". Suara Papanya Edo tidak berdaya.
 
"Om...Kemala harus bertemu Edo. Ada masalah penting yang harus mereka bicarakan ! Dimana Edo, Om ?" Toni segera bertanya.
 
"Andai Om bisa memutar waktu Ton, dari pada melihat Kemala menderita seperti sekarang. Bagus dia tidak usah menikahi dengan Edo !" Ada hembusan nafas berat.
__ADS_1
 
"Om...semua sudah terjadi. Sekarang bagaimana semua kedepannya, agar baik-baik saja ". Toni berusaha bijak.
 
"Sudah terlambat Ton. Sekarang tidak ada lagi kedepannya !" Suara Papanya Edo sangat putus asa.
 
"Om ini bicara apa ? Om..dimana Edo ? Kami harus bicara dengannya !" Toni harus terus mendesak.
 
Hanya ada hembusan nafas di ujung telepon. Papanya Edo hanya terdiam.
 
"Om, om akan segera menjadi kakek. Kemala hamil, Edo akan menjadi ayah ". Tidak punya cara, Toni memilih jujur. "Dan Kemala berencana mengugurkan kandungannya. Kemala yakin Edo tidak akan menginginkan anak itu ".
 
"Ya Tuhan ". Ada suara senang terdengar di telinga Toni. Suara Papanya Edo berubah bersemangat.
 
"Toni..bawa Kemala kemari. Ini bisa jadi kabar baik untuk Edo !"
 
"Ya..kemana Om ?" Tanya Toni cepat. "Kami akan berangkat sekarang ".
 
"Ke Rumah Sakit di Bengkulu, Edo koma di sini, sudah 2 minggu ". Mendadak suara bersemangat dari Papanya Edo ini berubah jadi lesu. "Edo kecelakaan mobil di sini Ton ".
 
"Astaga Om, bagaimana bisa ? Om juga, kenapa tidak cerita pada aku ? Sudah 2 minggu ? Itu lama sekali Om ?" Toni memijat keningnya, membuat semua heran dan penasaran.
 
"Toni, kamu dan yang lainnya harus cegah Kemala melakukan hal nekat itu ! Anak itu tidak bersalah ! Bawalah kemari Kemala, dan biarkan dia lihat kondisi Edo !" Ada suara penuh pengharapan.
 
"Semoga ada mukzijat buat Edo ". Suara Papanya Edo penuh harap.
 
"Baik Om, baik. Om jangan khawatir ! Besok kami semua kesana membawa Kemala ! Sekarang cobalah untuk istirahat Om ! Bagaimana pun Om harus tetap sehat demi Edo !"
 
 
__ADS_1