
Sampai Duluan
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Berhenti bicara yang tidak-tidak, memohonlah yang baik pada Tuhan, Kakak tidak mau mendengar kamu bicara seperti itu lagi. Kamu dengar!" Suara Nia terdengar tegas di telinga Tomi. Tetapi sayang, suara itu tidak juga berhasil meredam isak tangis Tomi.
 
"Dengar, dengarkan aku Tom. Ucapan adalah doa, kamu taukan? Jadi, tolong berhentilah bicara yang tidak-tidak. Sekarang siapakan semua keperluanmu untuk berangkat besok, setelah itu berdoa yang baik, yang indah buat Bibi. Minta pada Tuhan agar Bibi segera pulih, sehat seperti sedia kala, kumpul bersama kita. Melihat kita berhasil, hingga akhirnya Bibi akan bilang bahwa kita telah membuat dirinya bahagia. Kamu dengar Kakak?" Sekarang Nia semakin tegas dalam menasehati Tomi.
 
"I-iya Kak. Maaf, aku tadi sangat takut". Walaupun sudah tidak terdengar suara tangisnya, tetapi Tomi masih berbicara terbata-bata. "Aku akan berdoa Kak, aku akan memohon pada-Nya untuk kesembuhan Mama. Kak, jaga Kak Alika ya". Pinta Tomi sebelum mematikan teleponnya.
 
Nia memandang handphonennya yang sekarang digenggamnya kuat di dada. Betapa berat rasanya, Nia ingin menyerah. Berpura-pura menjadi kuat bukanlah hal yang mudah ternyata, dia juga ingin dikuatkan, dia juga ingin di peluk, dia sangat ingin menangis, berteriak kalau dirinya sangat takut saat ini. Sama seperti Alika, sama seperti Tomi tadi.
 
Pandu memegang bahu Nia, Nia menatap mata merah Pandu. Tersadar, Nia harus kembali kuat. Topeng kepura-puraannya bahwa dia bisa menghibur semua orang harus kembali dipasangnya. "Aku gak papah Mas". Nia mencoba tersenyum pada Pandu, senyum kaku yang hanya menjadi hiasaan wajah cemasnya.
 
*****
 
Sementara itu, Bagas segera berlari keruang kerjanya. Informasi yang sukses di curi dengarnya tadi sangat berharga, dengan penuh rasa senang Bagas merapikan semua berkas di meja kerjanya, mengambil kunci mobil dan segera berlalu keparkiran.
__ADS_1
 
Profesor Yandi memanggil Wulan, Resya dan Anita, meminta mereka untuk bersiap. Tinggal beberapa menit lagi, jam kantor akan berakhir. Sesuai janjinya, Profesor akan membawa rekan kerja Nia yang sekaligus sahabat-sahabatnya itu untuk pergi ke Rumah Sakit.
 
"Sudah siap semua?" Tanya Profesor kepada tiga penelitinya yang sangat senang melihat kehadirannya di ruangan mereka.
 
"Sudah Prof, kami sudah siap". Resya mewakili dua temannya menjawab.
 
"Baik, kita berangkat pake mobil saya saja". Ajak Profesor.
 
 
Wulan gagal membuka pintu mobil Profesor. Protes, dia meminta Profesor untuk segera berangkat. "Prof, ayoooo". Desak Wulan.
 
"Sebentar, coba lihat itu". Tunjuk Profesor ke arah Bagas yang telah selesai memundurkan mobilnya, siap keluar dari area parkir.
 
"Itu Bagaskan?" Tanya Wulan tidak percaya.
 
__ADS_1
"Iya benar, benar". Anita menjawab pertanyaan Wulan.
 
"Kenapa dia sangat terburu-buru?" Kembali Wulan mengajukan pertanyaan.
 
"Sesaat sebelum saya masuk ke ruangan kalian, apakah Bagas datang menemui kalian?" Tanya Profesor Yandi curiga.
 
"Tidak Prof, kalau berpapasan dengan kami, iya. Saat kami selesai membereskan laboratorium, kami berpapasan dengannya. Dia mau ke laboratorium mencari Nia". Jelas Resya.
 
"Dan saya baru saja bertemu dia beberapa saat sebelum masuk keruangan kalian tadi. Saya menemuikan dia tengah berdiri di depan pintu. Saat saya tanya apa kepeluannya, dia bilang mencari Nia". Profesor mulai mengingat tingkah Bagas yang mencurigakan tadi.
 
GAWAT.. Profesor Yandi.
 
"Jangan-jangan.....". Resya menatap Profesor Yandi. Profesor menganggukkan kepalanya seakan membenarkan praduga Resya saat ini.
 
"Cepat, naik!" Perintah Profesor pada Wulan, Resya dan Anita. "Kita harus sampai duluan ke Rumah Sakit sebelum Bagas".
 
__ADS_1