
πππππ
γ
Jam sudah menunjukkan lewat angka 12 malam, mungkin separuh atau lebih penduduk di Kota Bengkulu sudah tertidur lelap. Sama halnya dengan penghuni Villa milik keluarga Aisakha di Kota Bengkulu ini, mereka juga sudah tertidur, hanyut dalam dunia mimpi masing-masing dengan perasaan masing-masing. Nia terlelap, tangannya memeluk erat batal yang menurut sang calon Mama mertua biasa di pakai oleh anak semata wayangnya saat tidur. Nia menghirup dalam wangi mask, mint dan rempah yang sangat di kenalnya. Sepertinya malam ini Nia tertidur dengan sangat nyenyak di ranjang Aisakha.
γ
Saat semua orang di dalam Villa besar itu sudah berada di posisi ternyaman di ranjang mereka, Damar dan Satriyo, pengawal Nia justru sedang asyik menyeruput kopi hitam di temani bala-bala di teras depan kamar mereka, di bagian belakang Villa.
γ
Sepertinya 2 orang pemuda yang seumuran ini masih belum mengantuk, mereka masih terlihat bercerita ke sana kemari, berbagai hal.
γ
"Kalau boleh jujur, aku iri padamu ". Satriyo meletakkan gelas kopinya di atas meja.
γ
"Iri ? Kenapa ?" Damar tidak bisa memahami arah pembicaraan Satriyo.
γ
"Bukan kenapa, tapi buat apa ?" Satriyo meralat bahasa Damar.
γ
"Iya, buat apa ?" Damar mengambil bala-bala dari dalam piring, berencana memakannya.
γ
"Ya, buat tugasmu ". Jawaban Satriyo masih mengantung.
γ
"Gomong itu langsung aja, jangan sepengal trus muter-muter. Buat selera makanku hilang saja ". Sepertinya memang benar, selera makan Damar jadi hilang. Buktinya, bala-bala yang tadi sudah diambilnya, diletakkan kembali di dalam piring.
γ
"Kan ceritanya iri, jadi wajar dong cara penyampaiannya suka-suka aku ". Satriyo melirik Damar. Sepertinya Damar sedang kesal.
γ
"Kamu iri apaan si Yo ? Apa gak aneh kamu pake acara iri sama aku ?" Damar akhirnya memperbaiki pola duduknya, sekarang Damar bersikap serius menghadap ke arah Satriyo.
γ
"Aku iri, kamu tugas kita, kamu jadi bisa selalu dekat sama nona Nia. Kamu bisa terus ada di sisi nona kita yang sangat cantik itu, bisa memandangi nona sesuka hatimu. Sedang aku ? Aku malah berdiri sangat jauh dari nona ". Satriyo menarik sudut bibir kirinya kebelakang sambil menaikan kedua bahunya. "Memang sih, terkadang sesekali aku bisa beruntung memandangi nona, tapi intensitas waktunya gak bisa di samain sama kamu yang durasinya berjam-jam. Ah, kamu enak banget ya ". Sudut bibir kiri Satriyo semakin tertarik kebelakang.
γ
"Kau ini ". Damar melihat ke sekeliling, memperhatikan suasana sekitar. "Jaga bicaramu, jaga mulutmu itu !" Ucap Damar setengah berbisik. "Ada yang dengar, habis kita ". Damar membesarkan bola matanya memandang Satriyo.
γ
"Tenang, kan cuma kita berdua ". Satriyo sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Damar tadi.
γ
"Dinding saja bisa bicara, kau mau besok pagi gak bangun lagi ?" Damar kesal dengan sikap santai Satriyo.
__ADS_1
γ
Damar melihat ke sekeliling sekali lagi. "Hati-hati dalam membahas nona, apa lagi tentang menyebut kecantikan nona dan memandangi nona. Ada yang lapor sama tuan, tamat riwayatmu ". Damar memperingati Satriyo dengan serius.
γ
"Tuan itu tipe pasangan yang sangat pencemburu kalau wanitanya di pandangi orang lain. Walaupun itu tidak sengaja, tapi menurut tuan, itu tetap suatu kesalahan. Jadi, jangan sembarangan kamu ". Kali ini Damar berbicara pelan, takut ada yang mendengar.
γ
"Tentang tugas kita, kamu enggak perlu iri sama aku. Kalau kamu mau, dengan senang hati aku akan berganti posisi dengan kamu. Silahkan deh kamu bagian tugas dekat nona, biar aku yang di posisi jauh. Bila perlu besok kita tukarannya ". Tanpa ragu Damar mengucapkan semua pada Satriyo.
γ
"Loh, kok gituh ? Kenapa gampang banget kamu mau tukaran sama aku ?" Satriyo malah jadi bingung.
γ
"Karena aku masih sayang masa depanku, bahkan nyawaku ". Ucap Damar sambil bergidik ngeri.
γ
"Eh, kok kayaknya serem amat ?" Satriyo malah jadi penasaran.
γ
"Hari pertama kita tugas menjadi pengawal nona, aku tertangkap oleh tuan sedang memandangi nona. Padahal aku mandangi nona juga enggak sengaja. Aku cuma kagum saja, wanita secantik nona yang punya kekasih sekaya raya tuan. Tapi, tampilannya sederhana, bersahaja dan sangat ramah. Wanita secantik itu bisa memiliki sikap anggun dan baik. Wajarkan aku mengagumi nona, apa lagi mendapati pekerjaan kekasihnya tuan itu adalah seorang peneliti. Di luar ekspektasiku sejujurnya. Jadi aku tambah kagum sama nona ".Β Damar membayangkan awal mula hari naasnya kala itu.
γ
"Kalau itu aku juga setuju sama kamu, itulah dasar aku iri sama kamu, Dam ". Satriyo membuyarkan lamunan Damar.
γ
γ
"Se, serius ?" Sartriyo seakan bisa merasakan aura seram Aisakha hanya mendengar cerita Damar barusan.
γ
Damar menganguk cepat.
γ
"Wah..kalau gituh gak jadi deh kita tukaran tugas ngawalnya. Kamu tetap ngawal nona dari dekat, sedang aku biar di posisi sekarang, dari jauh ". Satriyo memasang wajah serius.
γ
"Gak bisa gituh dong, kan kita udah sepakat tadi buat tukeran. Kamu gimana sih ?" Jawab Damar kesal.
γ
"Siapa yang sepakat, aku gak ngerasa mengiyakan ?" Dengan kening berkerut Satriyo mengerakkan tangan kirinya tanda menolak
γ
"Wah..nggak bener ini ". Damar tidak terima.
γ
"Kamu pikir aku bisa menjaga nona dari dekat tanpa mengakumi kecantikannya ? Impossibel tahu. Dan aku masih sayang karirku, bahkan nyawaku ". Jawab Satriyo kencang.
__ADS_1
γ
"Heh, jaga suaramu. Ada yang dengar habis kita !". Damar mencoba mengamati situasi di sekitar mereka. Sambil kembali mengingatkan Satriyo.
γ
"Itu juga alasan aku pengen kita tukaran. Kamu pikir kamu saja yang sayang nyawamu ? Akutuh beban hidup banyak, kredit rumah sama biasa sekolah adikku. Kalau kamukan enggak ada ? Sudah kamu ngawal nona dari dekat deh ".
γ
"Hohohoho, no, no, no.Β Aku memang gak ada tanggungan, tapi nyawaku cuma satu. Udah, batal...batal...", Satriyo mengapai gelas kopinya dan menyeruput pelan isinya.
γ
"Ah, beratnya siksaan hidupku ". Damar mengeleng pelan.
γ
"Setelah kejadian itu, kamu masih berani memandangi nona dengan tujuan mengagumi kecantikannya ?" Satriyo kembali meletakkan gelas kopinya di atas meja.
γ
"Kalau posisi aman sih iya, hehehehe. Tapi gak berani lama-lama, trauma sama kejadian waktu itu ". Damar memandang ke arah Satriyo. Satriyo pun melihat kearah Damar. Melihat ekspresi Damar yang cengegesan sambil mengelus tengkuknya, spontan Satriyo tertawa.
γ
"Hahahaha, enggak ada kapoknya kamu, hahahaha ".
γ
"Hahahaha", Damarpun ikut tertawa.
γ
***************
γ
Di sebuah ruang kerja pada lantai 2 sebuah rumah besar di Kota Jakarta. Edo masih terlihat serius menghadapi laptop dan tumpukan kertas-kertas yang memenuhi meja kerjanya .
γ
Kadang Edo membolak-balik bundelan map gobby tebal di tepi mejanya, kadang dia sibuk memainkan krusor laptopnya. Sepertinya jam yang telah menunjukkan waktu tengah malam, tidak membuat semangat kerjanya memudar. Belakangan ini Edo memang terlihat lebih sibuk dari biasanya.
γ
Sebelum turun ke bawah, ke dapur. Mama sempat melihat kalau lampu di ruang kerja Edo masih menyala terang, Mama yakin Edo pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Ah, anak itu. Padahal ini sudah lewat tengah malam. Tapi masih saja mengurusi pekerjaan. Sudah mau berumah tangga, tapi masih juga sulit jaga diri ". Guman Mama pelan sambil mengelengkan kepalanya.
γ
Mama melanjutkan niat awalnya keluar dari kamar, wanita paruh baya ini merasa haus dan parahnya dia memang lupa membawa teko air minum ke kamarnyaΒ jadilah dengan terpaksa Mama turun ke lantai satu, kemudian kembali ke kamarnya setelah membawa segelas air putih.
γ
Awal, Mama ingin langsung masuk kembali ke kamar. Tapi langkah kakinya malah terus saja berjalan ke ruang kerja Edo. Dulu semasa Edo masih SMA, ruang kerja itu adalah tempat koleksi buku-buku bacaan Edo. Berbagai jenis bacaan, cukup banyak dan Edo tergolong orang yang gemar membaca, meskipun kegemaran membacanya itu baru digeluti Edo setelah dia mengenal Nia. Hingga kejadian 3 tahun yang lalu terjadi, musibah kelam yang membuat Mama sampai detik ini masih membenci wanita pembawa sial yang menurut Mama menjadi penyebab anak semata wayangnya bisa terjatuh ke dasar jurang dari tebing sebuah gunung.
γ
Semenjak kejadian itu, Edo berubah, dia tidak gemar lagi membaca apa lagi mengoleksi aneka jenis buku bacaan. Menurut Mama, kepergian wanita pembawa sial di masa lalu Edo, juga membawa pergi sisi Edo yang ceria entah kemana. Alhasil, sekarang ruangan tersebut berubah menjadi ruang kerja Edo saat dia terpaksa membawa pekerjaannya pulang kerumah. Semenjak Edo di percaya sang Papa menjadi penerus bisnis keluarga mereka, Edo memang sangat giat bekerja, kadang terlalu keras malah kalau pendapat sang Mama. Sehingga membuat Edo tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
γ
__ADS_1
γ