
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Putaran waktu cepat berlalu, malam ternyata telah beranjak pergi, rembulan telah kembali keperaduannya memberi kesempatan pada mentari pagi untuk menyapa dunia, menyapa separuh penduduk bumi yang mulai membuka mata, menikmati rasa syukur atas kebaikan yang sang Maha Kuasa untuk tarikan nafas kebahagiaan pagi cerah ini.
 
Nia sudah terjaga, bahkan sudah selesai dengan rutinitas mandinya. Meskipun hanya memakai baju rumahan santai tanpa make up dan riasan lengkap, tetapi aura cantik si gadis rambut panjang ini sudah terpancar jelas menyejukkan mata bagi yang memandang.
 
Dengan semangat pagi, Nia berjalan keluar kamar tidurnya. Nia ingin segera menemui Pakde dan bibi. Mendadak Nia merindukan pasangan suami isteri yang sudah menganggapnya bagai anak sendiri itu.
 
"Emmmm....wanginya ". Aroma wangi bawang goreng langsung menyerebak mengelitik hidung mancung Nia tepat di saat Nia membuka pintu kamarnya. "Kayaknya enak deh...bibi masak apa ya ?" Nia menjadi penasaran.
 
Sambil berpegangan di tepian tangga, Nia berjalan turun.
 
"Pagi nona ". Sapa seorang lelaki muda, yang mungkin usianya beberapa tahun di atas Nia, terlihat kalau lelaki ini telah lama menunggu Nia turun di ujung tangga lantai satu. Si lelaki terlihat berdiri tegap.
 
"Ehhhh....?" Nia mengerutkan kening sambil memandang sekeliling.
 
"Pagi nona ", si lelaki kembali mengulang sapaannya plus dengan sikap menunduk hormat pada Nia.
 
"Pagi ", jawab Nia cepat. "Tapi kamu siapa ? Kok bisa ada di sini ?" Nia menatap bingung ke sosok lelaki tersebut.
 
"Maafkan saya kalau saya membuat nona bingung ", si lelaki masih terlihat menunduk hormat. "Saya Bayu, nona. Saya adalah pengawal nona yang baru ". Ucap Bayu memperkenalkan diri.
 
"Pengawal baru saya ?" Kebingungan Nia malah semakin bertambah. "Kenapa saya perlu pengawal baru ya ? Kan saya sudah punya 2 orang pengawal, Damar dan Satriyo. Kenapa harus di tambah lagi ?" Tanya Nia pada Bayu.
 
"Damar dan Satriyo sudah bukan pengawal nona lagi. Sekarang saya", Bayu memegang dada kirinya dengan tangan kanannya. "Dan masih ada satu lagi, Dani namanya nona. Sekarang Dani sedang berdiri di depan pintu apartemen nona, berjaga di sana ". Bayu menunjuk sebuah pintu yang jaraknya tidak beberapa jauh dari posisinya berdiri saat ini.
 
"Jadi, saya punya 2 orang pengawal baru ?" Gumam Nia pelan, masih bingung pada dirinya sendiri.
 
"Iya nona ", jawab Bayu cepat. Sepertinya gumaman Nia barusan mendorong Bayu untuk memberi jawaban.
 
"Apa, kenapa saya harus punya pengawal baru ? Lantas kemana Damar dan Satriyo, kenapa mereka nggak tugas ngawal saya lagi ?" Nia menatap Bayu.
 
"Saya dan Dani mendapat perintah langsung dari tuan Aisakha, nona. Tetapi untuk alasan Damar dan Satriyo yang sudah tidak bertugas mengawal nona lagi, saya minta maaf nona. Saya tidak tahu ". Bayu hanya mampu menjawab sebagian kecil pertanyaan Nia.
 
"Terus dimana Damar dan Satriyo ditugaskan sekarang ? Apa mereka kembali ke kantor pusat, mengawal tuan Aisakha di sana ?" Nia masih saja mengajukan pertanyaan pada Bayu.
 
"Sekali lagi saya minta maaf pada nona. Saya tidak tahu masalah itu ". Ternyata Bayu memang jujur tidak mengetahui keberadaan Damar dan Satriyo saat ini.
__ADS_1
 
"Ya sudahlah, nanti saya tanyakan pada tuan langsung ". Nia menganguk-anguk pelan sambil berbicara. Nia pun melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga terakhir apartemennya.
 
"Ooo..iya, tadi kamu bilang ada Dani yang berdiri di depan pintu luarkan ?" Nia berbalik badan ke arah Bayu, kakinya terhenti sesaat.
 
"Iya benar nona ", jawab Bayu cepat.
 
"Kenapa dia berdiri di luar pintu ? Apa enggak capek ya ?" Nia heran sendiri.
 
"Sudah menjadi tugasnya nona ". Jawab Bayu sungguh-sungguh.
 
"Sudah berapa lama dia berdiri di sana ?" Kening Nia berkerut.
 
"Dari jam 5 pagi nona ". Jawab Bayu santai.
 
"Apaaah, jam 5 ?" Nia menatap jam besar di sudut dinding ruang tamunya.
Hampir satu setengah jam berdiri ? Ya Ampun...ngapain coba berdiri selama itu di luar ? Apa nggak jadi tanda tanya sama tetangga di sekitar ya ?
 
"Kenapa pagi-pagi sekali kalian sudah ada di sini ? Apa kalian gak tidur ?" Nia melonggo tidak percaya.
 
 
"Di sebelah ? Sejak kapan ?" Nia bertanya penasaran.
 
"Sejak semalam nona, dan apartemen di sebelah sudah di kontrak tuan buat kami. Jadi kami benar-benar akan mengawal nona full 24 jam ". Nia tertegu.
 
Du, dua puluh empat jam ? Ini kenapa ya ? Kok Mas jadi rada aneh ya ? Aku...di kawal 24 jam full ?
Nia terdiam sambil berpikir.
 
"Kamu, Bayu. Tolong panggil Dani masuk ke dalam ! Mulai sekarang tidak boleh pake acara berdiri di luar !" Bayu bersiap membuka mulutnya, sepertinya dia ingin menyangga semua permintaan Nia.
 
"Tarik kursi manapun yang dia suka, bawa ke dekat pintu bagian dalam ! Dani bertugas menjaga saya di dalam, di dekat pintu !" Nia menyempatkan diri menunjuk sudut apartemennya. "Bukan di luar !" Perintah Nia pada Bayu.
 
Bayu kembali terlihat membuka mulutnya, sepertinya dia memang sangat ingin menyanggah semua perkataan Nia. Tetapi, "tolong kerjakan saja ya Bay, tolong jangan di bantah !" Nia tersenyum sesaat dan membalikkan badannya, melangkah kembali ke dapur tempat asal muasal aroma semerbak wangi makanan yang membuat perutnya meronta minta di isi, meninggalkan Bayu yang mengeleng pelan. Bingung berpikir, mematuhi perintah sang tuan dengan aturan main cara menjaga calon nyonya mereka, atau mematuhi sang calon nyonya dengan aturan terbaru soal protokol keamanan buat dirinya sendiri, sesaat Bayu mengaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal.
 
***************
 
Bagas sudah sangat rapi dengan baju kemeja hijau terbaiknya, bahkan dirinya sengaja menyempatkan diri bercukur segala pagi ini. Jelas Bagas ingin menampilkan kesan terbaiknya pada seluruh tim pengacaranya yang akan ditemuinya pagi ini. Walaupun sebenarnya ini masih terlalu pagi, tetapi Bagas tidak menghiraukan hal tersebut. Seluruh pengharapannya akan terjawab sebentar lagi, jadi biarkan saja Bagas bersiap menerima nasibnya tidak lama lagi.
__ADS_1
 
"Kalian sudah berjanji, jadi hari ini aku tidak akan segan-segan memohon pada kalian. Tologlah aku, aku masih sangat mencintai jabatanku di perusahaan cabang Sunjaya Company ". Guman Bagas sambil menatap wajahny yang mulai tirus di depan kaca.
 
***************
 
Setelah perdebatan kecil akhirnya Edo berhasil meloloskan diri dari sang Mama tentu saja dengan bantuan Papa di sisinya. Bukan perkara mudah, tetapi Edo tetap memaksa diri untuk mengacuhkan Mamanya dan Edo sangat kesal dengan keinginan Mama hingga harus membuatnya menjadi sosok anak yang suka membantah. Sebenarnya sang Mama tidak bisa disalahkan begitu saja menurut cara pandang Mama, jelas saja Mama jadi hobi mendebat Edo setiap pagi dalam beberapa hari belakangan ini. Coba saja bayangkan, ibu mana yang tidak kesal. Jelas-jelas 3 hari lagi Edo akan segera melangsungkan pernikahannya bersama Kemala. Wanita cantik yang sengaja dipilihkannya untuk sang anak. Eh, ini Edo malah selalu saja mencari seribu satu alasan untuk melupakan tentang moment paling bersejarah dalam hidupnya itu.
 
Seperti pagi ini, sang Mama sudah meminta Edo agar tidak usah masuk kantor. Toh dia adalah pewaris perusahaan tersebut, yang tidak lain sekarang berstatus sebagai pemilik perusahaan mereka itu. Jadi ya libur sajalah barang beberapa hari, itu mau sang Mama. Pernikahan bukan hal sepele, butuh fokus Edo sebagai sang mempelai prianya besok. Di tambah, kalau Mama perhatikan semakin dekat hari legalnya hubungan Edo dan kemala, Edo malah semakin menjadi membiarkan Kemala sendiri. Semakin mengacuhkan Kelama, begitu hasil sudut pandang sang Mama.
 
"Mau sampai kapan kamu seperti itu ? Kamu itu sudah akan resmi menjadi suaminya 3 hari lagi ". Bentak Mama saat Edo berjalan tanpa dosa menuruni anak tangga. Satu kecupan di pipi kiri sang Mama dan Papa, dan kemudian Edo melangkah menuju teras. Jelas Edo tidak memgubris rasa marah Mama padanya.
 
"Edo, berhenti !" Kali ini Mama tidak akan melepaskan Edo begitu saja. Tekat Mama sudah bulat.
 
"Apa lagi Ma ?" Meskipun kesal tetapi Edo memilih menghentikan langkahnya di ujung teras.
 
"Kamu kenapa tega banget nak sama Kemala. Semua dia yang urus, semua dia yang siapin. Sebenarnya kamu itu niat gak sih nikahi Kemala ?" Mama berbicara sambil mengerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri.
 
"Kalau itu Mama pasti tahu jawabannya !" Khusus pagi ini Papa memilih untuk bersuara. Papa mulai jengah dengan teriakan marah sang isteri beberapa hari ini terhadap anak lelaki kebanggaannya. Sang isteri terlalu memaksa Edo, papa kasihan melihat kondisi Edo.
 
"Papa, plissss...tolong jangan bela anak manja ini !" Dan kedua tangan Mama masih juga bergerak ke kanan dan ke kiri saat dirinya berbicara.
 
"Dia bukan cuma anakmu Ma, dia anak Papa juga. Jadi Papa berhak membela Edo !" Papa sekarang sudah berdiri di sebelah Edo.
 
"Papa heran sama Mama, mau Mama itu apa ya ? Kenapa tidak juga bisa membiarkan Edo melakukan apapun sesuai kemauan dia ? Edo ini sudah dewasa Ma, dia anak tunggal kita. Mama jangan sampai menyesal Ma !" Edo tidak mengerti arti kata-kata terakhir sang Papa. Tapi dari sudut pandang Edo. Jelas ada nada ancaman di dalam ucapan Papa pada Mama.
 
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk Edo ". Mendadak emosi Mama mereda setelah mendengar sang suami berbicara, tentu Mama tahu arti kata-kata sang suami barusan. Arti kata yang mengarah pada rahasianya dan wanita yang di cintai Edo di masa lalunya.
 
"Dan apakah Mama pernah mendengar apa yang terbaik untuk Edo versi Edo sendiri ?" Sang suami sukses membuat sang isteri terpojok. Edo masih memilih diam, dalam hatinya dia mulai merasa senang karena pagi ini ada Papa yang membantu menyelamatkannya dari suara ribut Mamanya.
 
"Nak...kamu sudah janji sama Mama. Kamu sudah setuju menikahi Kemala ". Suara Mama terdengar serak, bisa di tebak Mama pasti sedang mempersiapkan senjata terakhirnya, air matanya.
 
"Ma ", akhirnya Edo bersuara. Dia ingin segera menyudahi drama pagi ini antara dirinya dan sang Mama. "Aku akan memehuni janjiku sama Mama, aku akan menikahi Kemala seperti keinginan Mama. Tapi, hanya menikahi saja Ma ! Jangan harap aku mencintainya apa lagi akan menjadikan dia isteri yang sempurna !" Mama melotot kaget sambil mengeleng pelan.
 
"Tega kamu Do ?" Mama mengiba.
 
"Mama yang tega ". Suara Papa mendadak keras. "Cukup. Edo sudah mau menuruti Mama, bukan ? Sekarang biarkan dia berangkat bekerja !" Papa mengajak Edo berjalan bersamanya menuju mobil mewah sang putra yang sudah terparkir sedari tadi. Meninggalkan isteri tercintanya dalam. Perasaan sedih dan kesal, sedih mendapati sikap anak tunggalnya dan kesal dengan kalimat terakhir sang suami padanya. Lengkap sudah pagi Mama Sandara hari ini.......
 
__ADS_1