
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Pagi ". Sapa Nia hangat pada seisi rumah sang Bibi. Formasi lengkap, semua sedang duduk sambil menikmati sarapan pagi.
 
"Pagi Nia ". Jawab Bibi sambil menepuk kursi kosong persis disebelahnya.
 
"Bagaimana tidurmu ?" Tanya Bibi kemudian.
 
"Itu...ya enak Bi..nyenyak ". Nia tersenyum pada Bibi.
 
"Jadi hari ini masih milih libur nih Bunda ?" Tanya Alika yang sedang menyuapi Alex dalam pangkuannya.
 
"Iya, hari ini Bunda masih libur Alex sayang, besok bunda baru ngantor lagi ". Nia memperhatikan Alex yang sibuk mengunyah sarapan versi bocah kecil itu.
 
"Kalau gituh kita main yuk Bunda...jalan-jalan ". Alex yang sudah mengerti arti kata jalan-jalanpun langsung bertepuk riang.
 
"Boleh ". Jawab Nia semangat. Dan Alex semakin mengeraskan tepukan tangannya mendengar kata pamungkas Nia itu.
 
Semua tertawa, Paman, Bibi, Alika dan Pandu, tertawa melihat kegirangan lelaki kecil yang sangat tampan itu. Nia memandangi wajah bahagia itu satu persatu, membuat kehangatan melebar di relung jiwanya. Kehangatan yang sama, yang Nia rasakan semalam, yang berasal dari lelaki yang begitu mencintainya.
 
"Ada apa ?" Tanya Aisakha setelah sekian lama Nia menangis di dalam pelukannya. "Jujurlah padaku, ada aku di sisimu, Nia. Jangan takut, ceritakan semua padaku !"
 
"Jangan tinggalkan aku ". Ucap Nia di sela sesegukan suaranya.
 
"Maafkan aku sayang, tapi ini semua adalah syarat dari keluargamu. Aku sangat ingin membantah syarat aneh ini, tapi aku juga sangat menghormati para walimu. Maafkan aku ya ". Aisakha melepas pelukannya sesaat dari Nia. Memandang wajah cantik yang terlihat sedikit pucat itu.
 
Nia mengeleng dan kembali masuk ke dalam pelukan Aisakha.
 
Aaahhhh...ada apa sebenarnya ?
__ADS_1
Aisakha masih belum mengerti dengan arti sikap Nia.
 
"Udara di sini sangat dingin, aku takut kamu kenapa-napa. Kita masuk ya !" Suara Aisakha terdengar lembut di puncak kepala Nia.
 
"Jangan tinggakan aku ". Sekali lagi Nia merengek sambil berusaha keras menahan air matanya kembali jatuh.
 
Aaahhh...persetan dengan perjanjian.Â
Aisakha sudah kehilangan cara berpikir logisnya.
 
"Aku akan menemanimu di kamar sampai kamu tertidur ya ?" Ucap Aisakha sambil mencium wangi aroma shampo di rambut Nia. "Aku tidak akan meninggalkanmu ".
 
Dengan terampil, penuh kelembutan dan sangat berhati-hati Aisakha membopong Nia kembali ke dalam rumah. Membawa Nia naik ke kamar tidurnya. Aisakha membaringkan Nia perlahan di atas ranjang berwarna biru muda itu. Nia terlihat mulai tenang, air matanya telah berhenti berjatuhan.
 
"Pejamkan matamu, tidurlah !" Aisakha mengusap-usap kepala Nia yang berada persis di atas pahanya. Nia berdiam di sana dengan menjadikan paha Aisakha sebagai bantalnya.
 
"Aku belum gantuk ". Jelas Nia baru saja menguap lelah, matanya sudah bermohon di tutup segera. Tetapi hatinya masih angkuh untuk sekedar memejamkan mata.
 
 
"Maukah kamu ceritakan apa saja kegiatanmu 10 hari kedepan ?" Tanya Nia dengan mata yang mulai menyipit lelah.
 
"Emmm, besok aku harus ke cabang di sini ". Aisakha memulai penjelasannya sambil terus mengusap-usap rambut Nia. "Aku harus bertemu Profesor Yandi, ada beberapa hal yang harus kami diskusikan ". Nia terlihat kembali menguap.
 
"Apa, diskusi apa ?" Tanya Nia sambil berjuang keras menahan kantuknya.
 
"Diskusi tentang perkembangan laboratorium pasca di tinggal seorang peneliti terbaiknya ". Jelas Aisakha.
 
"Hemmmmm ". Nia mulai terpejam secara perlahan.
 
"Lalu di hari kedua sampai keempat, aku akan berada di Samarinda. Ada kegiatan di cabang sana yang tidak bisa aku wakilkan ". Mendadak Nia membuka matanya.
__ADS_1
 
"Samarinda itukan jauh ". Nia berusaha mencegah matanya terpejam lagi.
 
"Kalau jalan kaki, yaaa...sangat jauh ". Canda Aisakha yang hanya di tanggapi datar oleh Nia. Sepertinya rasa kantuk Nia sudah membuat kesadaran dirinya semakin hilang saja.
 
"Lalu ?" Tanya Nia dengan mata kembali terpejam.
 
"Hari kelima sampai kedelapan, aku akan di kantor pusat. Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan sambil mempersiapkan diri ". Nia terdiam, suara nafasnya terlihat tenang.
 
"Hari kesembilan aku akan datang ke sini. Aku akan terbang kembali padamu sayang dan mengsahkan dirimu di hari kesepuluh ". Senyum Aisakha pada wajah teduh yang terlihat damai itu.
 
Huffffttttt...Aisakha menghembuskan nafas dalam. "Ada apa sebenarnya Nia, kenapa hari ini kamu begitu aneh ? Apa yang terjadi ? Apakah aku telah membuatmu bersedih ?"
 
Aisakha meletakkan kepala Nia perlahan di atas bantal, menutupi tubuh Nia dalam balutan selimut tebal. Mengelus pipi cantik itu dan tersenyum penuh kasih. "Aku sangat mencintaimu, aku mohon apapun yang terjadi, ingatlah kalau aku sangat mencintaimu ".
 
Sebuah kecupan dalam tertinggal di kening Nia, Aisakha berjalan menuju pintu kamar Nia yang terbuka lebar sedari awal. Tanpa menimbulkan suara, tangan Aisakha telaten menutup kembali pintu itu. Membiarkan Nia tertidur pulas dalam mimpi indahnya.
 
"Sudah selesai ?" Suara Paman membuat Aisakha tertunduk diam. Rasa takut dan bersalah, membuat Aisakha tidak berani menatap wajah lelaki yang sekarang berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
 
"Maafkan saya Paman, saya tahu saya salah. Hanya saja, mendapati Nia begitu rapuh. Saya tidak bisa menahan diri ". Aku Aisakha.
 
"Saya tidak melakukan apapun Paman ". Suara tegas Aisakha. "Saya hanya menemani Nia sampai tertidur saja "
 
"Hemmm ", jawab Paman santai. Tentu saja Paman tahu apa saja yang di lakukan calon menantunya itu. Dan mungkin saja, kalau ada yang lalu lalang di depan kamar Nia tadi, orang tersebut juga bisa tahu apa saja yang dilakukan sepasang kekasih itu. Ya, bagaimana tidak. Aisakha membiarkan saja pintu kamar Nia terbuka selebar-lebarnya, hingga membuat semua mata bisa menebak apa kegiatan si empunya kamar di sana.
 
"Maafkan saya, Paman ", Aisakha menuduk hormat penuh sesal.
 
Dan Nia mendadak terjaga, hanya bisa tersenyum saat menyadari kalau Aisakha sedang berusaha menjelaskan semua pada Pamannnya. Diam-diam perasaan hangat memenuhi seluruh relung hati Nia. Nia menarik selimutnya hingga ke dada, memilih mengarahkan badannya ke sisi kanan. Nia kembali terlelap, terlelap dalam kata-kata cinta Aisakha yang terekam memorinya. Perasaan damai melindungi Nia, Aisakha sangat mencintainya.
 
__ADS_1