SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
81


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Lihat, nih orang perasaan beruntung banget deh. Masa sebanyak ini koleksi foto kita sama-sama, dia mulu yang berdiri di sebelah Nia ". Suara kesal Angga sambil memperlihatkan layar handphonenya yang sudah di perbesar ke arah Dafi dan Ardi. Angga sedang duduk santai di sofa ruang kerja Toni bersama Dafi dan Ardi sambil memperhatikan kumpulan gambar foto-foto mereka, saat mereka makan malam bersama Nia. Sebuah acara sederhana untuk menyambut kembalinya Nia ke tengah persahabatan mereka seperti dulu.


γ€€


"Kalau orang baik mah gitu, berdirinya ya dekat orang baik juga, itu sudah kodrat ". Jawab Toni santai. Toni tahu kalau suara kesal Angga barusan itu di tujukan padanya. Karena memang benar, sebanyak petikan foto di ambil saat acara kumpul-kumpul semalam, sebanyak itu pula Toni berdiri di sebelah kiri Nia.


γ€€


"Iya...orang baik. Saking baiknya kulitmu di larang menyentuh kulit Nia, walaupun tidak sengaja, hahaha ". Tawa keras Dafi yang diikuti oleh yang lainnya.


γ€€


"Sialan kau Fi ". Toni melempar pena yang sedang di gengamnya ke arah Dafi. Cepat Dafi menghindar.


γ€€


"Jujur, aku gak pernah menyangka kalau tuan Aisakha itu tipe orang pencemburu. Mana akut lagi kadar cemburunya. Ihhhhhh ". Angga mengangkat bahunya bergidik ngeri.


γ€€


"Kalau dari sepak terjangnya di dunia bisnis, aku pikir tuan Aisakha itu bakal dingin dan kaku sama cewek. Lah ini, kalian ingatkan gimana perubahan wajahnya saat kita mengerumuni Nia untuk memberikan bunga dan bingkisan kecil selamat datang dari kita semua ? Udah kayak kita ini pelaku kejahatan saja, langsung menarik Nia dan menyembunyikannya dari kita ". Angga mengulang memori kejadian kumpul bersama mereka.


γ€€


"Yaa....kalau aku sih anggap itu wajar, itulah yang namanya cinta tulus ". Toni memberi pendapat berbeda.


γ€€


"Iya..sakin tulus, kita yang jauh lebih dulu kenal Nia dianggap kayak saingan saja. Padahal mana mungkin coba kita-kita ini mau merebut Nia !" Suara Ardi tidak terima.


γ€€


"Kalian tahu ? Aku senang sekali, setelah beberapa tahun ini aku hidup dalam rasa bersalah atas peristiwa saat itu, tapi saat kemaren melihat Nia betapa bahagiannya bersama lelaki yang begitu memujanya. Aku sudah tenang sekarang. Tuan Aisakha memang yang paling terbaik buat Nia ". Toni menghembuskan nafas pelan.


γ€€


"Benar Ton...setelah semua duka itu. Nia memang layak dicintai sebesar cara tuan Aisakha memuja-muja dirinya ". Sebuah anggukan kepala terlihat di akhir kalimat Ardi.


γ€€


"Tapi apa cuma aku yang menyadari, kalau Nia sekarang cantik banget ? Ya, dulu Nia memang cantik sih. Tapi kali ini sangat-sangat cantik ". Seulas senyum menghiasi wajah Angga.


γ€€


"Hati-hati memuji Nia, dengar tuan Aisakha, habis kau Ngga ". Nasehat Toni sambil berjalan ke arah sofa tempat para teman-temannya itu duduk bersama.


γ€€

__ADS_1


"Heheheeh ", cekikik Angga sambil memegang tengkuknya. "Ya, jangan cerita juga kali ".


γ€€


"Hahahahahahaha ". Tawa membahana memenuhi ruang kerja Toni, semua sedang menertawakan piasnya wajah Angga saat berhasil menyerap semua ucapan Toni barusan.


γ€€


Sementara itu...


γ€€


Perjalanan menuju kantor Toni tidak sesulit biasanya, EdoΒ  bisa melaluinya dengan cepat, bebas macet dan bebas hambatan. Waktu tempuh Edo lebih baik dari biasanya, mungkin karena jam keberangkatan Edo tadi bukanlah di waktu lalu lintas sibuk atau jam pulang kerja, jadi dirinya bisa melenggang bebas.


γ€€


Sebenarnya Edo sudah membawa mobilnya ke arah rumah Toni, untungnya ingatkan Edo pulih seketika. Dia ingat kalau hari ini mungkin hanya dirinya saja yang sedang libur. Sedang yang lain, pasti masuk kantor seperti biasa, beraktivitas layaknya manusia kantoran pada umunya. Inilah yang menjadi dasar Edo segera merubah rute tujuannya. Bukan ke rumah Toni, tetapi ke kantor sahabatnya itu.


γ€€


Cukup terburu-buru, hingga Edo sedikit berteriak pada seseorang yang baru saja memasuki lift di lantai satu gedung perusahaan milik Toni, Edo meminta agar orang tersebut menunggunya, membantu memencet tombol berhenti agar pintu lift tidak tertutup. Hingga akhirnya, sampailah Edo di lantai 8, lantai tempat ruang kerja Toni berada. Toni si penerus tahta perusahaan sang ayah yang ternyata cukup sukses mengerakkan roda ekonomi perusahaan keluarga mereka dalam beberapa tahun ini.


γ€€


"Ehhh..Pak Edo ". Saya Trista, sekretaris Toni. Trista sangat hafal dengan wajah-wajah para sahabat tuannya itu, jadi mendapati keberadaan mereka di kantor Tonipun bukan hal aneh baginya, sudah biasa. "Sudah janjian ya Pak ?"


γ€€


γ€€


"Pasti sama seperti yang lain ya Pak ?" Trista tersenyum.


γ€€


Yang lain ? Siapa ? Edo.


γ€€


"Kalau begitu silahkan Pak ". Trista berniat mengantarkan Edo ke ruang kerja Toni.


γ€€


"Gak usah, biar saya sendiri saja. Kamu udah mau balikkan ?" Tolak Edo.


γ€€


"Oooo, Iya Pak..kebetulan teman-teman Bapak yang lain juga sudah datang duluan. Pak Angga, Pak Dafi, dan Pak Ardi juga sudah ada di dalam. Jadi kata tuan saya boleh pulang sekarang, sepertinya mereka sama seperti Bapak. Sudah ada janjiΒ  ". Jelas Trista singkat.


γ€€


Tuhan berpihak padaku. Ternyata yang lainpun ada di sini. Jadi aku bisa langsung saja meminta maaf pada mereka semua. Syukurlah......

__ADS_1


"Ya udah..kamu pulang saja sana ! Saya mau langsung ke ruang Toni !" Trista menunduk hormat dan berjalan meninggalkan Edo yang ternyata tidak lama kemudian melangkah ke arah ruang kerja Toni.


γ€€


Aku harus memulai dengan kata-kata apa ya biar mereka tidak memasang wajah permusuhan sama aku ?


Edo berhenti sejenak di depan pintu ruang kerja Edo. Sedikit berpikir dan sesekali menarik nafas panjang.


γ€€


"Aku di minta jadi pendamping pegantin lelaki loh besok ". Edo tahu itu adalah suara Ardi. Meskipun Edo berdiri di depan pintu, tetapi dirinya bisa mendengar dengan jelas.


γ€€


"Hey...kau pikir kau saja apa ". Edo masih memilih bertahan di depan pintu ruang kerja Toni.


γ€€


"Aku dan yang lain juga ". Edo mendengar kalau Dafi sedang melanjutkan kalimatnya.


γ€€


Sepertinya mereka sedang senang, baguslah. Aku bisa memanfaatkan situasi perasaan mereka ini untuk minta maaf.Β 


Edo tersenyum dan bersiap mendorong pintu ruang kerja Toni.


γ€€


"Ehh, siapa diantara kalian yang pernah ke Bengkulu ?" Pertanyaan Ardi ini tercetus tepat di saat Edo berhasil membuka pintu secara perlahan, sedikit terbuka.


γ€€


Tidak ada yang menyadari baik, Toni, Ardi, Angga dan Dafi ternyata tidak menyadari kalau sosok Edo sedang berdiri di pintu masuk.


γ€€


Edo sedikit kaget, kata Bengkulu terasa menganggu hatinya.


γ€€


"Ee-ee ", jawab Dafi sambil menatap wajah sahabatnya satu persatu.


γ€€


"Ya udah....kita ke Bengkulu 2 hari sebelum Nia menikah. Jadi kita bisa refresing sekalian cari jodoh. Mana tahu kita seberuntung tuan Aisakha. Kabarnya gadis-gadis dari Kota Bengkulu itu cakep dan baik hati ". Suara Toni bersemangat yang langsung di sambut kata iya bersahutan dari Ardi, Dafi dan Angga. Mereka saling tertawa lucu menanggapi ide brilian Toni.


γ€€


Sayang, tidak ada satu pun yang sadar kalau gelak tawa senang mereka itu terasa sangat menyakitkan bagi Edo. Edo mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Edo siap menghajar semua orang di ruangan itu, dia sangat marah, amarahnya berkobar hingga ke puncak kepala.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2