SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 92


__ADS_3

Memindahkan Peralatan


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Pandangan Aisakha teralihkan dari Nia kearah handphonenya yang berbunyi, tertulis nama Kristo di layar.


γ€€


"Aku angkat telepon dulu ya". Ucap Aisakha sambil memperbaiki rambut Nia kembali kebelakang telinganya.


γ€€


Nia menganggukkan kepala dan melihat Aisakha maju berjalan tiga langkah kedepan. Sementara itu Nia kembali lagi disibukkan dengan berbagi cerita bersama ke tiga sahabat wanitannya.


γ€€


"Ya". Jawab Aisakha begitu menerima telepon Kristo.


γ€€


"Tuan, saya sudah menghubungi pihak Kepolisian". Kristo langsung memberitahukan tujuannya menghubungi sang tuan.


γ€€


"Lantas?" Tanya Aisakha kemudian.


γ€€


"Pelaku telah tertangkap, kurang lebih satu jam setelah kejadian. Dia menyerahkan diri tuan". Kristo mulai memberi penjelasan. "Sementara ini, pelaku mengaku berkendaraan dalam kondisi ngantuk dan capek. Dia baru saja kembali mengantar barang ke Lubuk linggau. Dan berencana pulang, hingga kejadian tersebut terjadi".


γ€€


"Kenapa dia lari?"Β  Aisakha tidak mau percaya begitu saja.


γ€€


"Takut amukan massa tuan. Dia lari dari tempat kejadian, tapi langsung ke kantor polisi terdekat. Menyerahkan diri". Jawab Kristo.


γ€€


"Berbagai kemungkinan sudah kamu tanya? Tidak suka pada salah seorang anggota keluarga Bibi? Atau dendam lama?" Aisakha memberi alternatif kemungkinan.


γ€€


"Sudah tuan. Dan pelaku mengaku tidak kenal korban. Tetapi pihak kepolisian tidak percaya begitu saja, mereka berjanji akan terus mendalami kasus ini. Begitu tuan". Semua yang Kristo tahu tentang peristiwa kecelakaan Bibi dari hasil penyelidikan sementara pihak Kepolisian telah disampaikan kepada Aisakha.


γ€€


"Pantau terus perkembangan kasus ini !" Perintah Aisakha pada Kristo.


γ€€


"Baik tuan". Jawab kristo cepat. "Masih ada lagi tuan".


γ€€


"Apa?" Tanya Aisakha singkat.


γ€€


"Tuan, saya sudah menemui manajem Rumah Sakit. Saya di pertemukan dengan dokter yang pertama memberi pertolongan pada Nyonya Ros. Tuan, keadaan Nyonya tidaklah baik. Ada luka robek di dahi dan paha, patah tangan dan betis. Terjadi pembengkakan pada paru-paru dan tingkat kesadaran yang menurun. Tadi sesaat sebelum tuan sampai, terjadi gagal pernafasan karena paru-paru yang membesar tersebut, sehingga dipanggilah dokter spesialis tambahan untuk membantu".


γ€€


"Apa kemungkinannya?" Tanya Aisakha pelan sambil memijat kepalanya.


γ€€


"Perlu penyokong pernafasan tuan". Jawab Kristo sedikit ragu.


γ€€


"Mereka punya?" Aisakha langsung merasa ada pertanda buruk.


γ€€


"Tidak tuan. Yang mereka punya hanya alat standar, sementara untuk Nyonya Ros yang telah dilobangi tenggorokonnya, maka diperlukan alat yang lebih canggih". Jelas Kristo.

__ADS_1


γ€€


"Astaga". Aisakha kembali memijat kepalanya.


γ€€


"Maafkan saya tuan". Kristo merasa tidak sampai hati menyampaikan semua ini pada Aisakha.


γ€€


"Dimana kamu?" Tanya Aisakha kemudian.


γ€€


"Masih di ruang manajemen tuan". Jawab Kristo cepat.


γ€€


"Kembalilah kemari. Cepat !" Perintah Aisakha sebelum mematikan teleponnya.


γ€€


Aisakha berbalik, melihat Nia yang sedang duduk bersama tiga sahabat wanitanya. Wajahnya bersedih, tidak mampu membayangkan berapa hancurnya Nia andai terjadi hal buruk pada sang Bibi.Β Tuhan, berikanlah mukzijat-Mu. Sembuhkanlah Bibi Ros kembali, aku mohon.


γ€€


Pintu kamar operasi terbuka, keluarlah seorang lelaki dengan pakaian khusus dokter operasi lengkap dengan masker bedah dan penutup kepala.


γ€€


"Keluarga Ibu Ros?"


γ€€


Nia berdiri, memandang cemas ke arah Aisakh, Aisakha menghampirinya, menjabat tangannya dan membawa Nia berjalan ke arah pintu kamar operasi.


γ€€


Pandu mencoba membangunkan sang istri, Alika dan mengajaknya mendekat ke arah suara yang memanggil tadi. Sementara Pakde dan Bi Kartik berdiri,Β  berusaha mendengar pembicaraan sebaik mungkin, sedang Wulan, Resya dan Anita kembali mendekat ke Profesor Yandi, meningalkan Bowo bertahan pada posisinya di awal.


γ€€


γ€€


"Operasi baru saja selesai. Ada yang perlu saya sampaikan. Saya bersama beberapa dokter adalah dokter-dokter yang melaksanakan operasi terhadap Ibu Ros. Keluarga pasti sudah tau kondisi beliau saat di bawa kemari. Jadi untuk luka robek dan patah tulang sudah kami tangani". Jelas si dokter.


γ€€


"Bagaimana hasilnya dok?" Aisakha mengajukan pertanyaan.


γ€€


"Untuk luka dan patah tulang telah selesai. Seiring waktu kita lihat perkembangannya. Tetapi ada sedikit kabar kurang baik". Jawab dokter pelan.


γ€€


"APA, KENAPA?" Alika maju kedepan dengan panik.


γ€€


"Akibat benturan keras, Ibu Ros mengalami pembengkakan paru-paru dan tadi sempat mengalami gagal nafas", jawab dokter pelan.


γ€€


Nia menguatkan genggaman tangannya pada Aisakha, kepalanya terasa sedikit pusing. Refleks, Aisakha langsung memeluk Nia cepat.


γ€€


Alika terlihat diam, sedang berusaha mencerna semua pemberitahuan dokter barusan. Pandu pun memeluk Alika dan berbisik, "kuat ya".


γ€€


"Apa yang harus kami lakukan dok?" Tanya Aisakha kemudian.


γ€€


"Ibu Ros memerlukan alat bantu nafas yang cangih sementara paru-parunya saat ini tidak bisa bekerja. Inilah masalahnya, kami hanya memiliki alat standar saja". Dokter mencoba menjelaskan situasi saat ini


γ€€

__ADS_1


"Jadi?" Aisakha mendesak dokter.


γ€€


"Ibu Ros harus kita pindahkan ke Rumah Sakit yang memiliki alat tersebut!" Perintah dokter.


γ€€


"Ke-kemana?" Tanya Alika yang terlihat mulai panik.


γ€€


"Usul saya ke Jakarta". Dokter menjawab pertanyaan Alika.


γ€€


"Apa dok, Jakarta?" Nia merasa tidak percaya dengan pendengarannya barusan.


γ€€


"Iya, di sana peralatannya lengkap dan cangih. Itu yang terbaik menurut saya". Tegas dokter.


γ€€


Nia menggeleng dalam pelukan Aisakha. Jakarta, kembali ke Jakarta pada saat ini? Nia yakin, meskipun telah tiga tahun berlalu, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya Nia merasa belum siap.Β Bagaimana ini?


γ€€


"Lakukan yang terbaik dok". Pandu memberi izin pada dokter.


γ€€


"Ta-tapi?" Terdengar suara pelan Nia.


γ€€


Merasa ada yang tidak beres dengan kekasih hatinya, Aisakha pun meminta solusi lain dari dokter. "Harus pasien yang di bawa kesana?"


γ€€


"Benar, kecuali pihak keluarga mampu memindahkan peralatan tersebut kesini. Itu malah lebih baik, jadi Ibu Ros dengan kondisi seperti ini tidak perlu menempuh resiko perjalanan jauh". Dokter memberi solusi lain.


γ€€


"Baik, saya akan pindahkan peralatan tersebut kesini, tetapi ke Rumah Sakit saya. Saya mau Ibu Ros di pindahkan ke Rumah Sakit Bunga Jaya. Bisa dok?" Tanya Aisakha.


γ€€


"Maksudnya, apakah tuan ini adalah tuan Aisakha?" Tanya dokter tidak percaya.


γ€€


Aisakha hanya mengangguk pelan, Pandu melonggo heran dan Alika merasa pernah mendengar nama tersebut.


γ€€


"Maaf tuan, saya benar-benar tidak mengenal tuan. Padahal tuan adalah donatur besar Rumah Sakit ini. Terima kasih tuan untuk semua kebaikan tuan". Dokter terlihat terbawa suasanan keterkejutannya.


γ€€


"Jadi". Aisakha mengembalikan topik pembicaraan ke awal.


γ€€


"Oh, iya, iya. Bisa tuan. Kalau memang alat tersebut bisa di datangkan ke sini, itu adalah opsi paling baik. Kita bisa meminimalkan resiko yang tidak diinginkan dari perjalan jauh. Dan mengenai pemindahan Ibu Ros ke Rumah Sakit tuan, tidak ada masalah. Semua demi kebaikan pasien". Jelas dokter.


γ€€


"Bagus". Aisakha tersenyum pada dokter. "Kristo". Panggil Aisakha kemudian.


γ€€


"Dok, ini Kristo sekretaris saya. Dia yang akan membantu menyiapkan peralatan tersebut. Koordinasikan semua pada dia, apa yang dokter perlukan dan mekanisme pemindahan Ibu Ros!" Aisakha pun memperkenalkan Kristo pada dokter.


γ€€


"Baik-baik. Mari tuan Kristo. Ikut saya, kita harus bergerak cepat!". Sang dokter langsung mengajak Kristo melangkah menyusuri lorong-lorong sepi.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2