SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
127


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


Dokter telah meninggalkan kamar rawatan Edo penuh rasa takjub. Pasien dengan luka parah akibat kecelakaan mobil, telah koma selama nyaris 1 bulan ini, entah bagaimana bisa tersadar begitu saja. Seakan ada jiwa memberontak dalam dirinya, tidak ingin mati begitu saja, tidak ingin pergi selamanya.


 


Dan inilah Edo sekarang, sedang memandang Kemala lama dari atas hingga bawah. Melihat jelas ke arah perut rata Kemala, seperti sedang bertanya-tanya.


 


Kemala diam, tidak ingin bersuara. Keyakinannya masih sama, rasa tidak suka Edo padanya pasti masih sama. Maka Kemala lebih memilih menunggu, kata pedas apa yang akan Edo susun untuk dirinya.


 


“Papa mau beli minum dulu !” ucap sang Papa sambil berdiri. Lama dirinya dan anak kesayangannya ini saling bercerita. Saling membagi rindu dalam pelukan sayang. Semangat hidup Papa telah kembali, Edo sudah sadar. Edo baik-baik saja, tinggal pemulihan beberapa minggu lagi.


 


“Mala mau Papa belikan minum apa ?” tanya lelaki paruh baya itu, dirinya sangat tahu kalau sang anak dan sang menantunya itu sedang bersitatap dalam diam mereka.


 


“Boleh minta tolong susu dengan rasa yougert Pa ? Aku pengen banget minum itu “. Senyum Kemala.


 


“Iya, tentu saja. Pasti cucu Papa yang mau ya “. Ada gelak kecil pertanda hati orang tua ini sedang senang. “Papa titip Edo dulu ya ! Papa hanya sebentar kok “. Ucap Papa menyakinkan.


 


Setelah memastikan sang Papa telah jauh melangkah, Edo mulai bersuara. “Duduklah “. Edo berusaha memberi sedikit ruang di sisi ranjangnya untuk Kemala. Tubuhnya sangat lemah. Dia baru beberapa jam tersadar dari koma.


 


Kemala diam, tetapi dirinya cukup patuh. Mendudukkan dirinya di tepi ranjang, tempat yanh disediakan Edo untuknya.


 


“Apa dia baik-baik saja ?” Edo memandang ke arah perut Kemala.


 

__ADS_1


“Iya “, jawab kemala singkat sambil mengusap-usap perutnya.


 


“Apa, apa aku boleh menyentuh perutmu ?” Edo sedikit ragu, sedang Kemala serasa tidak percaya. Dalam mimpinya pun Kemala tidak pernah berpikir Edo akan mengajukan pertanyaan barusan.


 


Kemala diam, tidak menjawab. Wajahnya agak ragu, tetapi tangannya terlihat bergerak, hanya saja, hanya sesaat.


 


“Aku, aku tidak akan menyakitinya !” Entah apa yang dipikir Edo saat melihat tangan Kemala bergerak. Mungkin Edo mengira Kemala sedang berniat melindungi diri. “Aku hanya ingin merasakan dirinya saja, sungguh “. Edo mencoba meyakinkan Kemala.


 


Kemala masih tidak bersuara, tetapi tangannya telah bergerak lagi.


 


Tangan Kemala bergerak mendekati tangan Edo, mengapai tangan itu meskipun sangat ragu. Hingga akhirnya meletakkan tangan Edo persis di perutnya.


 


 


“Maaf “. Ucap Edo pelan, tetapi terdengar tulus. Membuat Kemala menatap mata Edo lama.


 


“Maaf telah menyakitimu malam itu. Maaf telah membuatmu ada dalam situasi ini “, Edo mengusap-usap perut Kemala. “Maafkan Papa nak, sudah membuat kamu dan Mamamu susah “. Kemala makin diam, air matanya mengalir. Perasaannya kacau.


 


“Istirahatlah !” Kemala cepat menghapus air matanya dan menjauhkan tangan Edo dari perutnya.


 


“Mala, aku “. Edo ingin mengajak Kemala berbicara. Tetapi tangan Kemala terangkat, menutup mulutnya dan segera berjalan ke arah kamar mandi. Isi perut Kemala bergejolak lagi dan dirinya berakhir di atas wastafel seperti biasa. Hingga perutnya merasa lega.


 


“Mala...Mala... “, terdengar Edo memanggil Kemala dengan suara pelan, “Mala...jawab aku !” Edo berusaha menggeser tubuhnya. Dia ingin bangun, ingin melihat kondisi Kemala. Sayangnya Edo gagal. Jangankan untuk bangun, berjalan ke kamar mandi melihat Kemala. Untuk sukses menggeser tubuhnya saja, Edo tidak bisa walaupun barang beberapa centi saja. Tubuhnya masih sangat lemah.


 

__ADS_1


“Mala, demi Tuhan jawab aku !” Edo berusaha mengeraskan suaranya. Meskipun tetap saja yang keluar sekeras sebelumnya.


 


“Aku baik-baik saja “. Kemala berdiri di dekat ranjang Edo. Urusannya di kamar mandi telah selesai. Perutnya sudah mulai berdamai lagi.


 


“Apakah, apakah sering seperti itu ?” Edo memandangi Kemala yang sangat lelah.


 


Kemala tersenyum, “kadang dan lebih sering saat aku mulai bereaksi tidak suka padamu. Sepertinya anak ini tidak senang kalau aku bersikap seperti itu “. Kemala mengusap perutnya.


 


“Maafkan aku Mala “. Edo menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Masih adakah celah bagiku untuk sekedar kata maaf saja. Tidak usah tulus, hanya kata saja ?” Bahu Edo mulai terguncang. “Aku mohon Mala, hanya kata saja “.


 


Kemala ragu, segenap jiwanya ingin mengapai Edo yang sedang menangisi kesalahan masa itu, yang telah menyakiti dirinya dan hatinya begitu dalam. Isteri terbuang, ditinggalkan demi cinta masa lalu. Tetapi, apa bisa semua semudah itu ? Hanya menjawab iya saja, apakah mulutnya bisa.


 


Bahu Edo terus terguncang, Kemala memandangi Edo yang terlihat sangat ringkih. Hati dan pikiran tidak sejalan, kaki kemala mulai melangkah. Mendekati ranjang Edo, duduk di sisi Edo, melepaskan kedua tangan Edo dari wajahnya dan memeluk Edo dalam cinta sucinya.


 


“Shuutttt, sudah... sudah...”, Kamala berusaha membuat Edo berhenti menangis.


 


“Sepertinya aku tidak usah masuk saja “, Papa Rendra, Papanya Edo ini ternyata cukup lama berdiri di pintu masuk kamar rawatan Edo, hingga nyaris semua cerita di dalam kamar itu, antara anak dan menantunya. Dirinya bisa dengar dengan jelas. “Sebaiknya aku titipkan saja minuman permintaan Kemala ini sama perawat “. Akhirnya lelaki paruh baya ini memutuskan menjauh, memberi ruang pada anak dan menantunya untuk saling menenangkan diri, berbicara dari hati ke hati.


 


Sang Papa senang, teramat sangat senang. Anaknya sadar dari tidur panjangnya, menantunya berhasil menuntun Edo pulang, dan tidak cuka itu, Kemala berhasil membuat Edo menangis memohon maaf.


 


Cinta, Papa yakin semua mukjizat ini terjadi karena cinta.


 


 

__ADS_1


__ADS_2