
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Malam ini Nia memilih kembali kekamar tidurnya setelah selesai makan malam bersama, Bibi Ros sedikit heran. Tetapi Nia cukup pandai berkilah. Dengan alasan letih akibat baru kembali bekerja setelah terlalu lama liburan, Nia pamit dan menjauh dari keramaian.
 
Sebuah notifikasi masuk, Nia melihat. Ternyata Aisakha mengiriminya pesan.
"Lagi apa nyonya Aisakha ". Nia membaca isi pesan tersebut.
 
"Lagi mikirin tuan Aisakha ?" Nia mengetik jawabannya.
 
"Apakah nyonya Aisakha baik-baik saja di sana ? Merindukanku ?" Nia tertegu membaca isi pesannya.
 
"Aku baik-baik saja sayang. Bagaimana dengan dirimu, tuan Aisakha, gak nakalkan di sana ?" Nia mengirim jawabnnya tanya menjawab pertanyaan kedua Aisakha.
 
"Aku kurang baik di sini, isi kepalaku hanya kamu. Dan Kristo kesal karena aku selalu memarahinya, sebab melarangku meneleponmu ". Ada emoji menangis di ujung susunan kata-kata. "Tapi aku gak nakal kok, karena aku cuma bisa nakal saat sama nyonya Aisakha saja ".
 
"Jam berapa kamu akan meneleponku ?" Tanpa mengomentari isi pesan Aisakha sebelumnya, Nia malah mengajukan pertanyaan baru.
 
"Apakah nyonya Aisakha sudah mengantuk ?"Â Pesan baru masuk ke handphone Nia.
 
"Sedikit ". Jawab Nia singkat.
 
"Baiklah..15 menit lagi ya. Aku usir Kristo dulu, supaya gak nguping aku yang pengen menelepon mesra isteriku. Hahahaha ". Nia hanya tersenyum melihat isi pesannya.
 
"Oke ". Dan acara pengiriman pesan sepasang kekasih inipun selesai.
 
__ADS_1
Nia kembali memilih melanjutkan lamunannya, duduk berdiam bersandar pada kepala ranjang. Detik demi detik berlalu, Nia hanya bertahan dalam segala pikiran. Dirinya terlalu hanyut dengan segala rasa yang campur aduk, 2 hari ini semua terasa aneh, membuat Nia bingung dan kadang menangis sedih.
 
Nia menekuk lutut, memeluk erat dengan kedua tangan. Meletakkan kepala di atas lutut. "Aku mencintaimu ". Kata itu terdengar jelas di telinga Nia, kata yang selalu di ucapkan tulus oleh seseorang di sana. Cepat Nia melepaskan tangannya, menganti letak di telinga, menutup kuat dari suara yang terus berdengung di dalam indra pendengarnya.
 
"Ya...Tuhan ". Kembali Nia berusaha mengingat Sang Maha Pencipta. Dan rasa lelah pun menghimpit batin Nia
Kemudian sebuah ketukan di pintu kamar Nia, memaksa dirinya bergerak ke arah sumber suara.
 
"Nona, maaf saya menganggu ". Bayu menunduk pernuh hormat saat Nia membuka pintu kamarnya.
 
"Ada apa Bayu ?" Nia merasa heran.
 
"Ada kiriman bunga untuk nona ". Bayu mengangkat tangan kanannya yang berisi 2 kuntum bunga mawar pink segar.
 
"Bunga ?" Nia terlihat tidak pecaya. "Malam-malam begini ?"
 
Ulah tuan, nona...harap maklum saja.Â
 
"Siapa yang antar ?" Nia masih terus bertanya.
 
"Delivery ojol nona ". Bayu masih berusaha menahan senyum.
Wah tuan, nona sampe bingung loh.
 
"Dari siapa Bayu ?" Akhirnya Nia harus menanyakan hal itu. Mawar pink, 2 kuntum ? Nia sedikit terganggu.
 
"Dari tuan dong nona ". Jawab Bayu bangga. "Memangnya siapa lagi yang akan sebucin itu nona ?" Tanya Bayu geli.
__ADS_1
 
"Tu, tuan ? Benarkah ?" Nia sangat tidak percaya.
 
"Ya sudah..makasih ya Bayu ". Nia segera menutup pintu kamarnya tanpa memberi kesempatan Bayu untuk menjawab.
 
Bersandar pada pintu kamar, Nia memandang tidak percaya pada 2 kuntum mawar pink yang terkembang sempurna. Bunga mawar tapi bukan warna favoritnya, benarkan Aisakha yang telah mengirimkannya ? Nia terus bertanya di dalam hatinya sambil membolak balik bunga dalam buket cantik dengan warna senada.
 
Sebuah kartu ucapan kecil terlihat, terselip jauh di bagian dalam, membuat Nia merogohkan jemarinya untuk mengambil. Kartu mungil berbentuk hati dengan warna pink lagi, Nia mengeryit. Benarkan ini Mas ? Itu isi pikirannya.
 
Sedikit ragu, Nia akhirnya membuka lembar kartu itu.
 
"Pipi cantikmu itu akan merona seindah mawar ini, karena itu aku ingin membelikan mawar pink ini untukmu. Agar kamu bisa melihat, secantik inilah dirimu sayang ". Nia terduduk lemas. Isi kartu ucapan itu menguncang malamnya. Dengan sisa tenaga, Nia melempar jauh bunga mawar itu, dan Nia segera memejamkan mata.
 
"Tidakkkkk ". Nia mengeleng keras, memaksa otaknya agar berhenti memutar memori di masa itu. Tetapi gagal, ingatan Nia telah kembali di saat yang hanya membuatnya menangis pilu.
 
"Gak cantik ". Tolak Nia saat sosok lelaki tampan itu berjalan ke arahnya dengan tangan mengengam 2 kuntuk mawar berwarna pink.
 
"Aku suka putih, bukan pink ". Tolak Nia.
 
"Sayang, putih itu bunga favoritmu. Tapi ini, aku suka warna ini ". Ucap lelaki itu sambil membelai rambut Nia.
 
"Coba lihat warna pinknya sama seperti warna pipimu. Merona indah, sangat cantik ". Lelaki itu meletakkan satu kuntum bunga di sisi kanan pipi Nia dan satu lagi di sisi kiri pipi Nia. "Wanita cantik yang merona seindah mawar, aku akan selalu ingat itu ".
 
"Tidakkkkk ". Nia hanya bisa menagis, semua terulang lagi, Nia mengigit bibir bawahnya, hatinya ingat semua cerita di masa itu. Begitu kuat putaran memorinya pada kisah mawar pink, hingga membuat Nia tidak menyadari bahwa handphonenya mulai lelah berbunyi, memberi tahu si empunya kalau kekasih hatinya sedang menunggu jawab dirinya di seberang sana.
 
__ADS_1