SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
2


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Sore telah datang, lalu lalang manusia masih sangat ramai di setiap sudut salah satu gedung tinggi pencakar langit yang berada pada area strategis pusat perkantoran Kota Jakarta.


Sepertinya semua orang sedang bersiap-siap untuk pulang, jam kerja telah berlalu lebih dari 5 menit yang lalu.


γ€€


"Sudah kelar semuanya ". Tanpa mengetuk pintu Toni langsung masuk ke ruang kerja Edo.


γ€€


"Sudah, tinggal membereskan ini saja ". Edo menunjuk beberapa kertas yang sudah keluar dari map file masing-masingnya.


γ€€


"Langsung berangkat atau mau pulang dulu ?" Meski tidak dipersilahkan duduk, Toni sudah terduduk nyaman di singel sofa yang menghadap kearah Edo. Begitulah Toni, eratnya persahaban yang terjalin antara dirinya dan Edo sejak mereka masih kuliah, tidak membuat dia merasa canggung pada Edo. Mungkin eratnya persahaban mereka ini sudah mendekati level saudara. Ada ikatan emosi khusus diantara mereka berdua.


γ€€


"Mau kamu gimana ?" Edo balik bertanya pada Toni.


γ€€


"Rumahmu lebih dekat dari sini, kita ke rumahmu saja. Aku pinjam bajumu ya ?" Toni terlihat sedang bermain dengan handphonennya.


γ€€


"Terserah kamu saja. Pulang dan mandi dulu juga lebih baik, biar lebih rileks !" Dan lembar kertas terakhir yang berserakan di atas meja kerja Edo telah tersusun rapi ke map file masing-masing.


γ€€


"Santai bro, santai ". Toni berusaha menahan tawanya.


γ€€


"Berani ketawa, aku timpuk kamu ". Edo mengangkat map gobby yang terlihat cukup berat.


γ€€


"Hahahaha ". Bukannya takut mendengar ancaman Edo, Toni malah benar-benar tertawa. "Kau ini seperti bocah remaja saja. Memalukan, hahaha".


γ€€


"Tahu apa kau tentang itu. Kamu itu jomblo ". Edo mengejek Toni, sepertinya pilihan kata Edo sangat pas. Toni langsung terdiam.


γ€€


"Iya, kau menang ". Toni memilih mengalah dari Edo. Karena kalau di teruskan, Toni tahu Edo akan terus menertawakan status jomblonya. Dan dia bisa terpojok menjadi bulan-bulanan Edo, kau pikir aku doyan jadi jomblo. Cih, aku juga lagi usaha buat mencari. Memang aku mau abadi seperti ini.


γ€€


Meja kerja Edo telah rapi kembali, susunan filenyapun sudah seperti seharusnya. Edo memakai jas kerjanya dan mengambil kunci mobil mewahnya. "Ayo !" Edo telah berdiri di depan Toni


γ€€


"Do, kamu yakin ?" Toni belum beranjak dari tempat duduknya. "Duduklah dulu ". Toni menunjuk sofa kosong yang tepat berada di depannya.


γ€€


"Apa lagi Ton, aku bosan membahas ini ". Meskipun kesal, Edo menurut, duduk di sofa yang di tunjuk Toni padanya


γ€€

__ADS_1


"Baiklah, ini kali terakhir aku bertanya ". Toni memasang wajah serius. "Kamu yakin ?"


γ€€


"Jawabanku masih sama. Kenapa aku harus ragu ?" Edo menjawab santai.


γ€€


"Itu bukan jawaban Do. Ayolah...!" Toni memandang Edo, menatap mata hitam itu agar mau menjawab serius.


γ€€


"Kau ". Edo terlihat agak kesal. "Ah ". Edo mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangan, sepertinya Edo memang kesal saat ini.


γ€€


"Jujurlah !" Toni terus mendesak Edo.


γ€€


"Apa yang sebenarnya kau mau Ton. Aku yakin. Itu, itu yang mau kau dengar ?" Edo menatap marah pada Toni.


γ€€


"Do, kamu enggak kenal Kemala. Kalian dijodohkan. Apa kamu yakin bisa mencintainya, tulus ?" Toni melihat Edo menghembus nafas panjang. "Do, pernikahan kalian kurang dari 2 minggu lagi. Pernikahan bukan mainan Do, apa kamu yakin bakal menghabiskan hari tuamu dengan Mala ?"


γ€€


"Menurut Mama, Kemala wanita baik-baik ". Edo memejamkan matanya.


γ€€


Menikahlah dengan Kemala, nak. Dia wanita cantik, berasal dari keluarga baik-baik. Mereka selevel dengan kita. Mama yakin kamu akan bahagia bersama wanita yang sederajat. Edo sangat ingat kata-kata Mamanya saat terbaring lemah di Rumah Sakit karena komplikasi diabetesnya kambuh. Kondisi Mama sangat lemah, Edo merasa tidak berdaya. Bayangan akan kehilangan wanita yang sangat menyayanginya itu, membuat dia menganguk setuju dengan keinginan Mama. Siapa Kemala, bagaimana latar belakangannya, Edo tidak tahu sedikitpun. Tapi demi membuat Mama bahagia, Mama yang telah merawatnya dari kecil, Mama yang selalu ada buatnya. Bahkan di saat paling buruk hidupnya 3 tahun yang lalu, Mama tidak pernah meninggalkannya sedetikpun.Β Tidak seperti wanita sialan itu, dia memilih pergi meninggalkan aku saat tahu aku tidak berdaya. Dia memilih meinggalkan aku dan mencari lelaki lain.


γ€€


γ€€


"Kemala jauh lebih baik dari wanita sialan itu ". Edo terdengar sangat ketus.


γ€€


"Nia, namanya Syania ". Toni menyela Edo.


γ€€


"Aku sudah bilang, jangan sebut nama wanita sialan itu di depanku !" Edo mengepal tangan kanannya, dia sangat marah.


γ€€


"Kenapa hah? Ada yang salah kalau aku menyebut nama Nia ? Kau tidak suka ?" Suara Toni tidak kalah besarnya dari Edo. Dia juga marah.Β Kau, kau tidak tahu apapun. Mama tercintamu sudah mencuci otakmu Do. Bodohnya kamu membenci wanita yang sangat kamu cintai itu. Kamu akan menyesal.


γ€€


"Ini terakhir kali aku ingatkan, jangan pernah sebut nama wanita sialan itu di depanku ! Aku serius !" Edo terlihat sedang mengancam Toni.


γ€€


"Do ". Toni berusaha berbicara pelan, dia tengah berusaha berbicara lebih santai pada Edo. "Pikirkanlah lagi, kau lebih dari sekedar sahabat bagiku. Kau sudah seperti saudara bagiku, aku hanya tidak ingin kamu menyesal. Penyesalan itu selalu di akhir. Saat kamu sampai di titik itu, semua tidak bisa di rubah lagi ". Toni berusaha menasehati Edo.


γ€€


"Benar, penyesalan selalu di akhir. Dan kau yang paling tahu Ton, bagaimana aku sangat menyesal pernah mengenal wanita sial itu, parahnya lagi aku pernah mencintainya sepenuh jiwa ". Edo memijat pelan keningnya.


γ€€

__ADS_1


"Wajah polos dan sangat bersahaja. Dia sederhana, tetapi dia sangat cantik. Aku mencintainya Ton, sangat mencintainya. Meskipun Mama menolak hubungan kami, aku selalu membelanya mati-matian di depan Mama. Apa yang tidak aku berikan padanya Ton. Bahkan nyawaku, ku berikan untuknya. Aku selalu ingin membuat dia bahagia ". Ada sebentuk butiran hangat jatuh di sudut mata Edo.


γ€€


"Aku mencintainya Ton. Kau tahu itu ! Cintaku juga yang membuat aku begitu konyol ingin mengambilkan bunga liar di tepi jurang saat kita mendaki gunung 3 tahun yang lalu. Hingga akhirnya semua terjadi ". Suara Edo mendadak pelan. Ada lirih pedih di dalam getar suaranya.


γ€€


"Saat aku terbaring kritis, saat aku tidak berdaya Ton. Saat aku berjuang melawan maut, kemana dia Ha ? Kemana wanita sial itu Ton ?" Satu lagi, butiran hangat jatuh di sudut mata Edo.


γ€€


"Dalam komaku, aku berusaha bertahan. Bayangan melihat dia menangis ketakutan memaksa aku untuk bangun, aku menolak mati. Kau tahu, aku menolak mati Ton ! Aku melihat dia sangat bersedih, menangis ketakutan dan bersimpuh memohon. Aku melihat dia sangat hancur. Entah kenapa bayangan menyakitkan itu memenuhi kepalaku saat aku koma ". Edo menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.


γ€€


Karena memang itulah yang di alami Nia, Do. Mamamu menghina dan memakinya, membuat Nia bersimpuh memohon-mohon, dan Mamamu hanya memaki dia. Toni terdiam.


γ€€


"Saat aku sadar, dengan luka berat dan kaki patah. Apa yang aku dapat ? Kau tahu semuanya Ton, kau tidak pernah meninggalkan aku ". Edo masih menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


γ€€


"Dia pergi, wanita sial itu meninggalkan aku yang tidak berdaya. Dia memilih mencari lelaki lain yang lebih mapan, yang bisa menunjang hidupnya. Bukan lelaki cacat yang penuh luka seperti aku. Dia membuangku Ton, dia membuangku ". Betapa pedih luka yang tertinggal diΒ  hati Edo. Edo memegang dadanya, rasanya sangat sakit di bagian itu.


γ€€


Ah, tidak Do. Dia tidak meninggalkanmu. Sial, aku terikat sumpah. Bagaimana caraku meluruskan semua ini.


"Do ?"


γ€€


"Tanpa sedikit kata perpisahan, dia pergi meninggalkan aku. Tanpa sekalipun dia berniat melihatku, 6 bulan Ton. Enam bulan aku terkapar tidak berdaya di Rumah Sakit, dimana wanita itu ? Enam bulan aku meratapi diri, apa salahku sampai dia tega meninggalkan aku Ton ? Hingga aku keluar Rumah Sakitpun, dia tetap tidak muncul. Fisioterapiku selesai dan aku bisa kembali berjalan normal, wanita itu tetap memilih pergi. Kau tahu semuanya Ton, kau selalu ada di sampingku, bahkan Angga, Dafi fan Ardi selalu menyempatkan diri melihatku. Kalian tidak pernah meninggakan aku". Toni melihat betapa kacau keadaan sahabatnya saat ini.


γ€€


"Sementara dia, wanita itu menghilang. Andai saja, andai saja dia muncul di saat aku sudah sehat. Aku akan memaafkannya. Kau tahu aku sangat mencintainya. Aku akan melupakan semua duka yang dia berikan selama aku terkapar tidak berdaya. Aku akan membela dia Ton, meskipun aku tahu apa yang dikatakan Mama benar bahwa dia hanya ingin kekayaan keluarga kami. Aku tetap memilih dia, aku tetap memilih dia ". Toni meletakkan tangan kirinya di lutut Edo.


γ€€


"Dia tidak muncul, dia benar-benar menghilang. Bahkan dimana rimbanya aku tidak bisa mencari tahu. Dia pasti telah merencakan semuanya, sehingga aku tidak bisa menemukannya. Wanita sialan itu sangar cerdas ternyata, bersembunyi dengan baik. Mungkin sekarang dia sedang berada di atas ranjang lelaki hidung belang kaya raya. Ya, untuk wanita yang gila harta. Pasti itulah yang akan dilakukannya ". Edo menganguk pelan atas argumennya sendiri.


γ€€


"Cabut kata-katamu Do, kau sungguh keterlaluan !" Toni tidak suka dengan kata-kata terakhir Edo tadi.


γ€€


"Kenapa, kenapa hah ? Kau tidak suka ? Jangan-jangan dia pernah mengodamu ya, pernah menawarkan diri naik keranjangmu juga ? "


γ€€


"Kau......", Amarah Toni terpancing, tangannya telah terkepal tinggi.


γ€€


"Apa, kau mau meninjuku ? Iya ?" Edo menantang Toni. "Tinju, tinju aku. Ayoooo tinju !" Edo mendekatkan wajahnya pada Toni.


γ€€


Perlahan Toni menurunkan kepalan tangannya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Berkali-kali sampai dirinya bisa mengontrol emosi yang sempat ingin diluapkannya tadi.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2