
Penolakan Paman
πππππ
γ
γ
"Dia, dia tidak cuma Presdirku saja Paman". Dan Nia terlihat takut untuk melanjutkan kalimatnya.
γ
Nia hanya mampu menunduk, betapa berat baginya untuk berbicara sambil menatap wajah sang Paman.Β Bagaimana cara aku memberitahu Paman?
γ
Sementara itu, Aisakha telah selesai bebersih dan menganti bajunya tepat di saat Nia menyebut bahwa dirinya bukan hanya sebagai Presdir bagi Nia.Β Apa yang akan diakui Nia pada Paman? Semoga dia mau bilang kalau dia mencintaiku. Semoga...
γ
Kristo berniat berdiri saat tahu sang tuan telah keluar dari kamar mandi, tetapi cepat Aisakha mencegah itu. Dengan satu gerakan jarinya ke arah Kristo yang seakan berarti, diamlah duduk saja. Kristo pun membatalkan niatnya dan kembali duduk, diam.
γ
"Apa yang ingin kamu bicarakan nak?" Tanya Paman setelah menelan isi sendoknya untuk kali ketiga.
γ
"Paman, tuan Aisakha bukan hanya sebagai Presdirku". Nia kembali mengulang kalimatnya tadi.
γ
"Iya, itu yang kamu bilang tadi. Lantas?" Tanya Paman kembali.
γ
"Paman, dia lelaki yang baik". Nia mencoba memberitahukan sesuatu pada sang Paman.
γ
"Ya Paman tau. Apa yang dilakukannya pada keluarga kita sangat luar biasa". Puji Paman. "Bagi seorang yang super kaya raya. Dia memang sangat baik nak, apa lagi kamu hanya pegawai biasa".
γ
"Paman". Nia sangat bingung harus memulai dari mana untuk memberitahu sang Paman tentang perasaannya pada Aisakha.
γ
"Apa, apa yang ingin kamu sampaikan pada Paman?" Paman tahu kalau Nia hanya berputar-putar saja dalam berbicara, mengulur waktu. "Bicaralah". Ucap Paman sambil meletakkan piring makanannya, sepertinya Paman hanya mampu menghabisi tiga sendok nasi beserta lauk pauknya.
γ
"Ada yang Paman butuhkan lagi?" Tanya Nia saat tahu Pamannya telah selesai dengan makanannya.
γ
__ADS_1
"Tidak, tidak. Paman sudah tidak bisa memaksa makanan itu masuk". Tolak Paman sambil meneguk habis jus mangga yang tadi disiapkan Nia.
γ
Nia hanya diam.
γ
Aisakha terus berdiri, bertahan di tempat semula. Dia masih ingin mendengar semua kejujuran isi hati Nia yang berasal dari mulut wanita yang dicintainya itu.
γ
Kristo pun masih sama seperti tadi, duduk diam.
γ
Paman memijat pelan kepalanya. Mengulang beberapa kali dan berhenti, menatap Nia. "Apa yang ingin kamu sampaikan pada Paman. Bicaralah Nak!"
γ
"Pa-Paman". Nia menarik nafas dalam.Β Jujur, jujur, jujur...lah Nia.
γ
"Paman, aku, Presdir". Nia terdiam, kembali menarik nafas panjang.
γ
Bilang sayang, bilang kamu cinta padaku. Aisakha.
γ
γ
Ba-bagaimana ini. Nia sibuk mengelap tangannya yang mulai terasa lembab ke baju hangat yang dikenakannya.
γ
Baiklah, aku akan jujur. Nia.
γ
Nia menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Lagi, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
γ
"Paman, tuan Aisakha adalah lelaki yang baik, sangat baik. Dia bahhkan melalukan segalanya untuk aku, sejak...". Nia menatap wajah sang Paman yang terlihat tengah serius menyimak pembicaraan Nia. "Bahkan sejak tiga tahun yang lalu".
γ
Paman mengeryitkan dahinya, pertanda dirinya sama sekali tidak paham arah pembicaraan Nia.
γ
"Paman, tuan Aisakha bukan hanya pemilik perusahaan tempat aku bekerja, tetapi dia..dia juga". Nia terlihat sedikit ragu.
__ADS_1
γ
Bilang sayang, beritahu Paman perasaanmu padaku. Aisakha.
γ
Paman masih bersabar, tanpa berniat menginstruksi Nia. Tetap bertahan mendengarkan Nia yang terlihat sedikit ragu untuk melanjutkan pembicaraannya.
γ
"Dia..tuan Aisakha, dia juga adalah, adalah.....". Nia menatap Paman. Ayolah Nia, beranikan dirimu. Jujurlah pada Paman.
γ
Paman menangat dua tangannya ke atas pertanda mulai tidak sabar menghadapai Nia yang terlihat sangat sulit menyelesaikan kalimatnya.
γ
Di belakang Nia dan Paman, Aisakha terus menyemangati Nia di dalam hatinya. Betapa sabar dirinya bertahan pada posisi dia berdiri saat ini. Sejujurnya, sedari tadi kakinya sudah sangat ingin melangkah, mendekati Nia dan memperkenalkan dirinya pada Paman. Aisakha sangat ingin memproklamirkan dirinya sebagai calon suami Nia pada lelaki paruh baya yang tidak lain adalah wali Nia itu.
γ
Tetapi, dia harus bertahan. Kalau dia maju sekarang, maka kesempatan emasnya untuk mengetahui isi hati Nia yang sebenarnya akan berlalu. Dirinya butuh kejujuran dari Nia, dirinya butuh balasan dari semua rasa cintanya selama ini pada Nia. Maka, Aisakha kembali mematung, bertahan menunggu Nia jujur pada sang Paman.Β Ungkapkan rasa itu sayang. Bilang kalau kau telah menerima aku di hidupmu.
γ
"Paman". Nia kembali memanggil Paman, dengan tangan yang di tata rapi di atas pahannya. "Ada sesuatu antara aku dan tuan Aisakha". Ucapa Nia pelan. "Aku, akuuuuu....aku mencintainya". Akhirnya Nia dapat bernafas normal kembali setelah berhasil mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya tentang Aisakha pada Paman.
γ
Paman terlihat diam, memandangi Nia selama sepersekian detik. Rasanya dia tadi salah dengar, Paman menatap serius pada Nia. Dan kembali berusaha menyakinkan diri kalau dia telah salah dengar dengan apa yang diucapkan oleh Nia barusan. Tetapi...Tunggu, kenapa, kenapa mata itu terlihat sangat bercahaya? Apa ini berarti? Jadi, jadi Nia...aku tidak salah dengar?
γ
Terima kasih sayang, aku tau pada akhirnya kamu akan menerima aku dan segenap cintaku. Aku cinta kamu Syania, aku sangat mencintaimu. Bagai seorang kesatria yang telah memenangkan sebuah peperangan maha dasyat, Aisakha tersenyum sangat bahagia. Aura kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya, seakan-akan banyak bintang bertaburan menyempurnakan ketampanannya.
γ
Sayang, itu hanya sementara. Tiba-tiba, "Tidak". Terdengar suara tegas Paman.
γ
Nia terlonjak kaget, jari-jemarinya sibuk ditaukan antara saru dan lain di atas pangkuannya.
γ
Aisakha segera melangkah maju, tahu bahwa dia harus menyelesaikan semua ini.
γ
Kristo berdiri, menatap kesal pada suara tegas Paman.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ