
Restu Mama
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Nia". Suara Mama sangat tenang. "Lelaki yang sangat mencintai kamu ini adalah anak semata wayang Mama. Aisakha Elang Britana, nak. Dialah yang Mama harapkan bisa memiliki kamu agar kamu menjadi menantu Mama". Mama tersenyum kearah Nia. "Selama 3 tahun anak kesayangan Mama ini mencari kamu kesana kemari, sudah seperti kehilangan akal saja". Mama membelai sayang rambut Aisakha.
 
"Jujur Mama marah sama dia". Sekarang Mama menganti gerakkan tangannya, dari membelai rambut Aisakha menjadi mengacak-acak asal rambut hitam itu. "Sampai detik ini dia tidak pernah memberitahu Mama kalau dia sudah menemukanmu. Bahkan kalian sudah resmi pacaranpun Mama tidak pernah tahu. Anak nakal". Mama tersenyum pada Aisakha. "Kalau kamu bilang dari awal, tidak akan seperti ini jadinya".
 
Nia hanya duduk memperhatikan setiap gerakan antara Mama dan anak itu. Hatinya mendadak terasa hangat, Nia tersentuh dengan kasih sayang Mama pada Aisakha
 
"Waktu kamu menolong Mama di Mall dulu, jujur Mama memang langsung jatuh hati sama kamu. Mama suka kepribadian kamu, Nia. Wanita sepertimulah yang menurut naluri Mama bisa membahagiakan Aisakha". Sekarang Mama memegang tangan Nia yang diletakkannya di atas meja. "Sakha tidak tahu itu, sama seperti halnya Mama tidak tahu tentang kalian yang ternyata sudah bersama sekarang". Nia melihat langsung kearah mata Mama. "Mama sengaja merahasiakan ini dari Sakha. Soalnya dulu Mama suka memperkenalkan Sakha sama anak-anak teman Mama. Mama suka maksa dia". Nia menatap Aisakha. Aisakha hanya mengangkat kedua bahunya santai.
 
"Jadi, Mama ingin memenangkan hati kamu dulu baru setelah itu Mama akan mempertemukan kalian. Itu rencana awal yang sudah Mama susun. Tapi, siapa sangka kalau kamu begitu sulit diluluhkan. Kamu terlalu keras mempertahankan lelaki yang kamu cintai, sama sekali tidak memberi Mama kesempatan mempromosikan anak Mama sendiri, hahaha".
 
"Lantas kenapa pake sandiwara gak saling kenal tadi ? Mama kenapa enggak langsung gomong kalau dia anak Mama ?" Mata Nia tertuju pada Aisakha.
 
"Kamu juga Mas, saat melihat Mama kenapa tidak langsung menyapa Mama? Kenapa malah ikut-ikutan pura-pura enggak kenal segala?" Nia merasa masih ada sesuatu yang perlu diluruskan..
__ADS_1
 
"Waktu Sakha datang, saat Mama dengar suaranya Mama gak percaya kalau itu adalah anak Mama". Mama tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Saat Mama lihat dia meluk kamu, Mama sibuk mengucek mata. Yah, Mama masih sulit percaya sih. Kenapa ? Karena tega sekali dia menutupi tentang kamu dari Mama. Heh". Mama membesarkan bola matanya pada Aisakha.
 
"Maaaaa", Aisakha memasang wajah memelas.
 
"Apa, Ma..Ma? Kamu itu kalau dari awal cerita sama Mama, kan Mama bisa segera menikahkan kalian. Nggak perlu Mama pake acara merayu-rayu Nia agar mau sama kamu". Suara Mama berubah sewot, Mama kesal pada Aisakha.
 
Nia merasa malu, kata-kata Mama barusan sukses membuat wajahnya bersemu merah. Bodohnya aku, entah apa yang aku takutkan selama ini. Ternyata wanita baik yang sangat penyayang ini adalah calon Ibu mertuaku. Andai aku bisa tahu saat pertama bertemu Mama, hehehehe. Pasti aku langsung mau saat Mas mengajak aku nikah.
 
 
"Awalnya aku cuma ingin membuat siapapun si Ibu yang ditemui Nia menyadari kalau dia tidak punya peluang untuk mendapatkan Nia, Ma. Aku hanya ingin pamer kemesraan demi membuat si Ibu itu jera. Tapi saat Mama manggil aku, jujur aku kaget Ma. Aku bisa tebak Mama pasti bakalan marah besar karena aku belum cerita tentang Nia ke Mama". Aisakha terlihat serius. "Cuma seiring waktu kok Mama kayak sengaja gituh, mau mengorek sesuatu. Jadi aku ikuti saja alur yang Mama buat. Toh, niat awal aku untuk membuat semua orang tahu kalau aku sangat cinta sama Nia".
 
"Hahahaha". Kamu hebat nak, puji Mama pada Aisakha. "Pantang mundur, nggak ada takutnya".
 
"Hahaha, demi apa dulu dong Ma". Aisakha melirik kearah Nia.
 
__ADS_1
Nia tersenyum melihat kedekatan Ibu dan anak itu, perasaan sangat damai. Entah apa kebaikan yang pernah aku lakukan dikehidupan sebelumnya, hingga sekarang Tuhan memberikan aku kekasih dan calon mertua yang sangat baik, sangat menyayangiku. Begitu kira-kira isi pikiran Nia saat memperhatikan Mama dan Aisakha saling tertawa.
 
"Jangan salahkan Sakha ya Nak, kerena dia begitu sombongnya memperkenalkan kamu sebagai calon isterinya. Mama sangat tahu seberapa cinta dia sama kamu". Mama mengusap-usap lembut punggung Nia. "Dia tadi itu bukan mau ngetes kamu, tapi mau pamer sama Mama". Mama tersenyum jahil.
 
"Aku hanya ingin membuat kamu yakin kalau Mama meresrui kita. Aku berharap setelah melihat semuanya tadi, kamu mau percaya sepenuhnya sama aku, Nia. Percayakan cinta kamu seutuhnya sama aku, sama-sama kita mengarungi bahtera rumah tangga kita esok". Aisakha berjalan kearah Nia.
 
Mama terlihat sangat terharu, matanya mulai berkaca-kaca, hatinya sangat bahagia. Akhirnya nak, pencarianmu berbuah manis. Wajar saja kamu sabar mencari dia selama ini, Nia memang sangat pantas bersamamu. Mama percaya kalian akan hidup bahagia selamanya.
 
Aisakha membimbing Nia untuk berdiri, hilang sudah semua pikiran buruk dari kepala Nia. Entah terhempas kemana semua ketakutan Nia tentang sosok Ibu dari seorang Aisakha. Sekarang Nia hanya mampu mengucap syukur yang tidak terhingga. Dia sangat bahagia, semua terasa berbunga-bunga. Sangat manis sangat menenangkan.
 
"Ma", Aisakha mengenggam jemari Nia dan mereka sama-sama berdiri menghadap kearah Mama. "Sakha mencintai Nia, Sakha ingin memberikan seluruh dunia Sakha buat Nia. Karena itu Sakha mohon Mama restui kami".
 
Mama cepat-cepat menghapus air mata yang jatuh di sudut matanya tuanya. Mama berdiri memegang wajah Aisakha, mendekatkan wajah anak kesayangannya itu ke bibirnya. Satu kecupan sayang Mama hadiahkan tepat di kening Aisakha. Lalu, Mama beralih ke Nia. Menatapa dalam mata coklat yang ternyata juga telah berkaca-kaca itu. Sepertnya hanya dengan sekali Nia mengerakkan kelopak matanya. Maka bulir hangat itu akan tumpah kesudut matanya.
 
Mama, memeluk Nia lama. Mengusap punggung gadis cantik itu sambil berbisik, "selamat datang di keluarga besar Britana, Nia. Kedepannya Mama titip Aisakha sama kamu ya nak. Kalian akur-akur berumah tangga dan harus saling menjaga". Mama melepas pelukannya dari Nia, mengangkat wajah Nia, membantu Nia mengelap air mata yang dirinya sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu mudahnya berjatuhan. Hingga akhirnya Mama mencium kening Nia, lama.
 
__ADS_1