
Pekerjaan Yang Sangat Mendesak
πππππ
γ
Tim dokter yang Aisakha siapakan untuk bibi telah undur diri beberapa saat tadi. Setelah memberi penjelasan tentang kondisi terbaru bibi dan segala solusi terbaik mereka untuk memastikan proses kesembuhan bibi, mereka pun meninggalkan kamar rawatan bibi dan meninggalkan paman yang masih setia duduk di samping ranjang bibi, sambil sesekali membelai sayang rambut hitam bibi yang mulai memutih. Alika dan Pandu yang duduk di salah satu sisi sofa empuk yang telah di siapkan Rumah Sakit, serta Nia dan Aisakha yang sedang tertawa bahagia saat mendengar celotehan Nia.
γ
Sedang Kristo, dia memilih duduk di luar kamar. Tepat pada bangku kosong yang memang di sediakan di sana bagi para pengunjung. Sepertinya Kristo sangat serius dengan handphonenya. Biarlah ku tunggu bebarapa saat lagi.
γ
"Berarti mulai dari sekarang tuan harus bersiap menjadi sodara iparku". Alika sedang mengoda Aisakha.
γ
"Kakak atau abang atau Mas. Bukan tuan". Aisakha meralat cara panggil Alika padanya.
γ
"Heheheheh". Alika cengar-cengir sambil memandang Pandu suaminya. "Belum boleh, tunggu sampai tuan resmi menjadi iparku. Baru aku panggil.....apa ya?" Alika kembali menatap sang suami.
γ
"Panggil abang saja". Usul Pandun pada Alika.
γ
"Emmm......iya, iya..abang ipar, hahahaha". Alika memberi persetujuan.
γ
"Alikaaa, kamu ini". Nia terlihat senyum-senyum kearah Alika.
γ
"Berarti, aku panggil tuan, adik ipar". Pandu tidak mau kalah mencari sebutan untuk Aisakha kedepannya nanti, saat Aisakha telah resmi menikahi Nia.
γ
"Hahahaha". Aisakha tertawa mendengar penuturan Alika dan Pandu. "Abang ipar dan adik ipar ya? Wah, perlu di biasakan dari sekarang tuh Mas. Biar kedepan nggak canggung lagi".
γ
"Hahahahaha". Alika dan Pandu tertawa bersamaan.
γ
"Benar-benar kata tu...eh, adik ipar. Kami harus membiasakannya". Pandu setuju dengan ide Aisakha.
γ
"Nia, adik iparku ini memiliki sisi humoris yang bagus. Sepertinya kamu harus segera mengikat dia. Aku kawatir akan ada wanita lain yang mencoba mengoda dia". Pandu mengedipkan sebelah matanya pada Nia.
γ
"Mas Pandu ini sama saja seperti Alika". Nia hanya tersenyum menanggapi candaan Pandu.
γ
"Lihat mereka suamiku, anak-anak kita sangat bahagia. Mereka tertawa lepas". Bibi tersenyum melihat anak, menantu, keponakan dan calon suami keponakannya saling bercanda satu sama lain. "Aisakha itu pandai menempatkan diri dalam keluarga kita, kamu lihatkan? Dia langsung bisa membaur bersama Alika dan Pandu".
γ
"Benar isteriku. Nia memang tidak salah pilih. Dia memang lelaki yang bertanggung jawab dan mencintai keluarga. Semoga Tuhan memanjangkan jodoh mereka". Ucap paman sambil mencium kening bibi.
γ
"Sekarang kamu jangan risau lagi. Nia sudah menemukan pendampingnya ! Pikirkanlah kesehatanmu, kamu harus segera sembuh. Kita harus segera menyempurnakan kebahagiaan Nia, sudah terlalu lama anak itu merasakan pahitnya dunia ini. Kita harus segera menikahkannya pada Aisakha, agar Nia bisa merasakan keseimbangan dari manisnya dunia ini". Paman menatap serius pada bibi.
γ
"Iya, iya suamiku. Aku sudah tidak sabar". Bibi terlihat antusias. "Pasti Nia kita sangat cantik di dalam balutan gaun pernikahan".
__ADS_1
γ
"Pasti sayang, pasti. Anak baik itu pasti akan sangat cantik". Jawab paman setuju pada bibi.
γ
Di luar pintu kamar rawatan bibi.
γ
Kristo masih setia pada handphonenya. Sudah lima notifikasi masuk yang di baca dan di pilahnya. Mana yang menjadi prioritas agar segera mendapat perhatian sang tuan dan mana yang bisa menunggu setelah semua hal penting selesai.
γ
"Wanita ini lagi". Kristo terlihat geram saat membaca notifikasi baru yang berasal dari orang kepercayaannya pada cabang perusahaan Aisakha di Bandung. "Sepertinya harus segera di laporkan pada tuan".
γ
Akhirnya setelah memohon izin, Kristo pun masuk ke kamar rawatan bibi Ros. Berjalan mendekat kearah Aisakha.
γ
"Tuan". Pelan Kristo memanggil Aisakha yang duduk membelakanginya.
γ
"Hemmm". Jawab Aisakha singkat.
γ
Alika dan Pandu beralih menatap Kristo, Kristo pun membalas dengan sedikit membungkuk pada sepupu dan saudara ipar Nia itu.
γ
"Maaf saya menganggu. Ada beberapa pekerjaan yang sangat mendesak dan perlu perhatian tuan". Masih dengan suara pelan Kristo menyampaikan situasi yang dihadapinya pada Aisakha.
γ
"Apa?" Tanya Aisakha dengan sedikit berbalik badan menghadap Kristo.
γ
γ
Kristo diam, dia hanya sibuk memandangi handphonenya.
γ
Nia menyadari kediaman Kristo.Β Mungkin ada unsur rahasia perusahaan di dalamnya, atau mungkin telah terjadi sesuatu? Sepertinya Kristo hanya ingin berbicara berdua saja dengan Mas.
γ
"Mas, bagaimana kalau Mas berbicara berdua saja dengan Kristo. Sepertinya apa yang ingin di sampaikan Kristo sangat mendesak". Nia meletakkan tangan kanannya tepat diatas tangan kiri Aisakha.
γ
"Ahhh, dia itu hanya menganggu kita saja". Jawab Aisakha kesal sambil berdiri.
γ
"Sebaiknya ini memang sangat penting!" Ancam Aisakha pada Kristo. Sedang Kristo, dia memilih diam dan mengikuti sang tuan berjalan ke sudut lain ruangan rawatan bibi.
γ
"Apa?" Tanya Aisakha cepat setelah memastikan jarak mereka berbicara mereka sudah cukup jauh dari pendengaran siapapun.
γ
"Tuan". Kristo menyerahkan handphonenya pada Aisakha. "Pada poin satu, dua, tiga, empat, lima dan terakhir. Sangat mendesak".
γ
Aisakha menerima telepon genggam milik Kristo, membuka satu persatu file yang nomor urutnya telah di sebutkan Kristo tadi. Membaca dengan cermat dan terlihat sangat teliti, meski sesekali ada kerutan di keningnya. Tetapi Aisakha tetap membaca semua.
γ
__ADS_1
"Apa kau yakin itu dia?" Aisakha langsung menatap serius pada Kristo.
γ
Benar dugaanku. Wanita itu langsung menjadi prioritas tuan, mengalahkan masalah di Jakarta dan Lombok. "Sudah tuan, di urutan terakhir juga masuk satu lagi laporan tentang dia". Jawab Kristo cepat.
γ
"Iyaaaa, saya tau. Tapi foto yang di lampirkan ini hanya punggung saja. Bagaimana mungkin kamu seyakin itu?" Aisakha terlihat masih tidak bisa percaya pada Kristo.
γ
"Awalnya saya juga ragu tuan, karena itu saya minta pada orang kepercayaan di sana untuk merekam kesaksian pihak lobby. Sebentar tuan". Kristo menganti tampilan layar handphonenya ke bagian rekaman suara. "Silahkan tuan dengar".
γ
Aisakha mendekatkan sedikit handphone Kristo ke arah telinganya, sengaja dirinya melakukan itu. Aisakha tidak ingin apa yang sedang di dengarnya itu terdengar pula oleh orang lain. Terutama oleh Nia, wanita pujaannya.
γ
Begitu serius Aisakha mendengar suara yang terekam di handphone Kristo. Sesekali dia mengepalkan tangan bentuk usaha mempertahankan emosinya, sesekali dia menatap kearah Kristo dengan tatapan murka.
γ
"Kita ke kantor sekarang". Aisakha menyerahkan handphone Kristo langsung ke arah dada pemuda yang sangat setia padanya itu. Terlihat Aisakha sedang menahan luapan marahnya.
γ
"Baik tuan". Hanya itu jawaban Kristo. Dia bisa merasakan aura amarah dari seorang Aisakha saat ini.
γ
"Sayang". Aisakha kembali duduk di samping Nia. "Ada urusan pekerjaan yang sangat mendesak. Aku harus menyelesaikan itu". Aisakha memegang tangan kanan Nia.
γ
"Iya Mas, gak apah. Mas pergi kerja gih". Nia Tersenyum pada Aisakha. Pekerjaan mendesak apa ya? Jelas-jelas tadi aku lihat Mas sangat marah. Apa kira-kira yang telah terjadi di kantor? Nia merasa penasaran. Sebenarnya tadi dia tidak sengaja melihat ke arah Aisakha yang tengah menatap serius ke arah handphone yang di berikan Kristo. Awal Nia merasa biasa saja, tetapi beberapa detik kemudian. Nia bisa merasakan ada aura kemarahan di wajah kekasihnya itu. Jadi wajar saja bukan kalau Nia sangat penasaran tentang masalah penting yang di maksud Aisakha?
γ
"Baiklah, aku tinggal kamu dulu ya. Nanti jangan telat makan siang, terus obat yang tadi jangan lupa di minum". Aisakha memberi patuah pada Nia. "Satu lagi, enggak boleh capek. Ingat dokter yoga bilang apa sama kamu tadi?"
γ
"Iya sayangggg"Β jawab Nia tersenyum.
γ
"Cieeeeeeeeeeee, ada yang sudah berani bilang sayang nih". Alika menatap Pandu sambil tertawa geli. "Kayaknya abang ipar hebat ya Mas. Bisa merubah seorang Syania yang pemalu jadi pintar mengungkapkan isi hatinya sekarang".
γ
"Isteriku, memang adik iparku ini manusia hebat". Pandu membalas candaan isterinya.
γ
"Ahh, kamu ini Alika. Mas Pandu juga. Konyol sekali kalian ini". Nia merasa malu mendengar sepupu dan iparnya itu menertawakan dirinya.
γ
"Biarkan saja mereka. Mereka itu iri lihat kita". Aisakha memaksa Ni kembali fokus padanya.
γ
"Ada apa-apa cepat kabari aku! Ingat itu". Perintah Aisakha pada Nia.
γ
"Iya Mas, iyaaaa". Nia merasa sangat senang mendapat begitu banyak perhatian dari Aisakha. "Ayo, aku temani Mas pamit sama paman dan bibi". Nia pun mendampingi Aisakha berjalan ketempat bibi terbaring di ranjangnya.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ