
🌈🌈🌈🌈🌈
Tidak percaya, itulah arti ekspresi Kemala saat ini. Kota hadiah di depannya telah di buka. Gaun putih panjang yang sangat indah. Kemala mengusap gaun itu, sangat indah. Itu kata hatinya terkagum-kagum.
“Ini buat aku ?” Kemala tidak percaya, mengangkat gaun itu dan memeluknya.
“Edo memberi aku ini ?” Ada nada tidak percaya penuh tanda tanya pada diri sendiri.
“Ke, kenapa ? Kenapa dia memberi aku ini ?” Masih bertanya pada diri sendiri. “Apa, apa ini adalah hadiah perpisahan kami. Kenang-kenangan buat aku ? Atau, atau hadiah atas kesediaanku melepaskan Edo ? Bercerai dengannya “. Spekulasi Kemala.
“Hahaha “, tawa iba terdengar. “Ternyata sikap baik Edo beberapa hari ini hanyalah pemulus keinginannya untuk segera pisah “. Kemala memandangi gaun putih itu lagi.
“Baiklah, karena kamu sudah memberiku hadiah perpisahan. Aku akan memakainya, hitung-hitung ucapan terima kasihku, Do. Dan setelah ini, kita akan berpisah, aku akan membiarkan kamuencari kebahagiaan yang kamu mau !” Gumam Kemala getir.
Dan tidak butuh waktu lama, Kemala berhasil mempersiapkan dirinya. Mandi dan memakai gaun baru pemberian Edo. Memakai riasan ala kadar dari dalam tas tangannya, hingga mematut diri untuk melihat hasil akhir.
Selesai, tepat di saat ketukan pintu terdengar.
Kemala menarik nafas panjang, semua sudah menjadi keputusannya, maka dirinya sudah sangat siap. Begitulah cinta, saat kasih sayang tulus itu hadir di hidup kita, maka percayalah. Kita akan sanggup melakukan apa saja demi orang yang kita cintai, meskipun itu harus melepaskannya selamannya.
Satu tarikan nafas panjang lagi, Kemalapun membukakan pintu kamar.
“Toni ?” Bingung dan tidak percaya. “Kamu ngapain ?” Kemala mengerutkan kening.
“Oo, hai Mala “. Toni tersenyum. “Aku di minta Edo menjemputmu dan membawamu ke suatu tempat !”
“Ke, ke mana Ton ?” Kemala agak ragu.
“Kejutan “. Jawab Toni yakin. “Ayo “. Ajak Toni memberikan lengannya agar Kemala mengikuti langkahnya.
“Ta...”, Suara Kemala yang tidak selesai.
“Tidak ada tapi ! Ayo !” Suara Toni cepat.
Menyerah dan tidak ingin berdebat lagi, Kemala patuh dan melingkarkan tangannya di lengan Toni. Membiarkan sahabat suaminya itu membawa dirinya ke tempat yang dia tidak bisa terka.
__ADS_1
Aula, gumam Kemala saat tahu akhir perjalanan langkah Toni. Mau apa ? Batin Kemala heran.
“Silahkan “. Toni membukakan pintu besar aula di depan mereka dan mempersilahkan Kemala masuk.
Dan...
Aku punya niat yang baik
Coba kuungkapkan padamu
Berharap kamu kan menjadi
Rencana besar dihidupku
Tapi kau bilang
"Pergi sana"
Kamu tak mau melihat diri ini selamanya
Kemala melihat aula itu penuh berisi orang-orang yang sangat di kenalnya, ada kedua orang tuanya, ada pula kedua mertuanya. Sahabat dirinya dan Edo, bahkan pegawai-pegawai Kemala di bukit ternamanya juga ada. Tidak hanya itu, Kemala melihat di pentas musik, di sudut lain aula ada Edo sedang bernyanyi sambil tersenyum padanya.
Awas nanti jatuh cinta
Cinta kepada diriku
Jangan jangan kujodohmu
Kamu terlalu membenci
Membenci diriku ini
Aku punya niat yang baik
Telah kuungkapkan padamu
Kau tetap bilang
"Pergi sana"
Kamu tak mau melihat diri ini selamanya
Awas nanti jatuh cinta
Cinta kepada diriku
Jangan-jangan kujodohmu
Kamu terlalu membenci
Membenci diriku ini
Awas nanti jatuh cinta
__ADS_1
Cinta kepada diriku
Jangan jangan kujodohmu
Kamu terlalu membenci
Membenci diri ku ini
(Awas jatuh cinta)
(Cinta kepada diriku)
Jangan-jangan kujodohmu
Kamu terlalu membenci
Membenci diriku ini
Awas nanti jatuh cinta
Awas nanti jatuh cinta
Awas nanti jatuh cinta
Padaku.
Edo menyanyikan lagu Armada yang berjudul Awas nanti jatuh cinta dengan suara pas-pasannya. Semua bergepuk. Suara sorak dan riuh menyemangati Edo bersautan, menggema setiap sudut aula. Kemala membulatkan matanya sempurna, menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkesima penuh rasa heran dan haru sekaligus.
Edo berjalan ke arah Kemala, musik masih mengiring di tempat pemusik tersenyum pada Kemala.
“Kemala, jika aku terlalu tidak sabaran dan membuatmu tertekan. Maka, aku akan belajar lembut. Jika aku kasar dan membuatmu tidak nyaman. Maka, aku tidak akan pernah memaksamu. Kemala, aku bukanlah lelaki paling baik di dunia ini yang pantas mendapatkan cinta darimu, tapi, tapi aku mohon berilah kesempatan padaku untuk belajar menjadi yang terbaik dalam mencintaimu “. Edo berdiri di depan Kemala, menyentuh pipi Kemala yang masih shock dengan semua kejutan darinya.
“Kemala istriku, berilah aku kesempatan satu kali saja untuk mencintaimu. Dan aku berjanji, akan menghabiskan sisa umurku untuk membahagiakan kamu dan anak-anak kita. Aku bersumpah akan melakukan segala yang terbaik untuk rumah tangga kita. Kemala, jangan pergi ! Tinggallah di sisiku dan jadilah satu-satunya istriku dan lahirkanlah anak-anakku ! Aku mohon sayangku, jangan pergi dariku!” Edo berhasil mengungkapkan semua rasanya.
Rasa yang tercipta beberapa hari belakangan ini, rasa yang tidak pernah di duganya akan hadir begitu saja dari sosok wanita yang jelas dulu di tolak keberadaannya, bahkan dirinya begitu santai meninggalkan wanita itu begitu saja demi mengejar cinta masa lalunya.
Edo tidak pernah memprediksi, hatinya akan memberontak keras saat Kemala berusaha menyadarkannya dari maut dengan memberitahukan dirinya bahwa ada calon bayi mereka di dalam perutnya, bahwa Edo akan menjadi seorang ayah. Sebuah rasa yang mengantarkan Edo pada keinginan untuk membuka mata. Mencegah Kemala pergi dan menceraikannya, Edo berjuang keras menolak mati dan segera ingin menemui Kemala. Suara Kemala, senandung Kemala telah menuntunnya pulang. Dan Edo sangat tahu, Kemala adalah rumah yang harus di tujunya untuk pulang.
“Kemala Diyandra Kusuma, aku cinta padamu “. Ucap Edo tulus membuat Kemala berurai air mata. Kemala membiarkan Edo memegang kedua tangannya, mengecup lama punggung tangannya dalam rasa cinta yang tidak pernah di duga-duga.
Entah apa kata yang bisa mewakili kebahagiaan Kemala saat ini, cinta, Edo menyatakan cinta padanya dengan tulus dan sepenuh jiwa. Lelaki yang pernah menyiksanya pada malam pertama mereka, lelaki yang pernah tertawa sinis atas rasa cinta yang di milikinya. Tetapi, lihatlah sekarang ! Di depan semua orang, keluarganya, keluarga Edo, sahabat-sahabatnya dan juga sahabat Edo. Suaminya itu berikrar cinta dengan begitu manis. Kemala masih membiarkan air matanya jatuh, perasaannya sangat bahagia, perasaannya sangat istimewa dan perasaannya sangat bersyukur pada Sang Maha Kuasa.
“Edo, suamiku. Aku juga sangat mencintaimu “. Ucap Kemala di antara tangis luapan bahagianya.
__ADS_1