
🌈🌈🌈🌈🌈
“Sini kakinya !” Kristo terduduk di depan Resya yang selonjoran. Menyentuh jari kaki Resya dengan sapu tangan yang telah di rendam air hangat. Kristo sudah kembali dari dapur, membawa baskom kecil berisi air hangat.
“Aku enggak nemu handuk kecil. Jadi pake ini aja ya “. Menggompres jempol Resya dengan sapu tangannya. “Ini bersih kok, sapu tangan baru “.
“Itu “, Resya bingung mau bicara apa.
Jadi, dia langsung ke dapur mau ambilin aku air hangat buat kompres jempol yang sakit ? Dan itu, itu sapu tangan dia di pake buat kaki aku ? Membatin tidak percaya.
“Makasih ya “. Benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa. Mendadak wajah Resya menjadi panas. “Seharusnya jangan pake sapu tangan kamu, kan jadi kotor “. Menyesal.
“Enggak masalah. Ini cuma sapu tangan saja kok. Yang penting kamu gak merasa sakit lagi “. Sibuk memberi pijatan di jempol kaki Resya sambil terus mengompres.
“Kalau masih sakit juga bilang ya. Kita ke Rumah Sakit “. Memandangi wajah Resya, jelas ada rona merah di sana. “Ehhhh....kenapa pipi kamu memerah ?” mendadak khawatir. “Sakit banget ya ?”
Aduhhhhhh....ngapain coba pake ketahuan pipiku memerah. Kan malunya aku jadi kebangetan sekarang. Membatin sambil menggelengkan kepala.
“Apa airnya terlalu panas, iya ?” Sangat serius. “Tapi, tadi udah aku coba kok. Rasanya enggak terlalu panas ?” Menjawab sendiri pertanyaannya.
“Sudah, kita ke Rumah Sakit saja !” Merasa harus segera menolong Resya.
“Gak usah Pak, airnya enggak terlalu panas kok. Pas malah, dan rasanya enak “. Menyudahi drama kekhawatiran Kristo.
“Ini wajah aku memerah karena udara saja “. Berbohong. “Agak panas “.
“Begituh ya ?” Mengamatai kedua mata Resya, mencoba yakin dengan penuturan Resya.
“Kamu kenapa sampe bisa jatuhin belanjaan kamu sih tadi ?” Bertanya dengan tangan masih memberi pijatan lembut di jempol Resya.
“Satu lagi, apa coba isi kresekmu itu sampe bisa menyakiti kakimu sendiri ?” Memandang ke arah kantong kresek belanjaan Resya.
“Oooo, iya benar. Hampir aku lupa “. Resya memberi tatapan penuh selidik pada Kristo.
“Ada apa Bapak pagi-pagi sudah di teras rumah aku ?” Menaikan alis setinggi mungkin. “Bapak itu sudah buat aku kaget tahu, akibatnya belanjaan aku jatuh dan menimpa kaki tuh “. Menunjuk ke jempol yang berbalut sapu tangan Kristo.
__ADS_1
“Apa Bapak tahu, isi belanjaan aku ada sarden kalengnya. Itu, itu yang nimpa kaki aku !” Kesal.
“Kamu suka makan makanan kalengan ya ?” Dari semua urutan kata-kata kesal Resya, lagi-lagi hanya poin terakhir yang di dengarkan Kristo dengan baik. “Itu gak baik loh “.
“Astaga Bapakkkk...........!” Memejamkan mata, mode kesalnya bertambah. “Aku tuh gomongnya banyak, aku bahkan mengajukan pertanyaan. Kenapa Bapak nyimaknya cuma secuil ?”
“Habis, aku kan khawatir sama kamu “. Merasa tidak berdosa. “Itu aja nggak ngerti “.
“Bodoooooo “. Merajuk dan merasa kalah berdebat dengan Kristo.
“Ya udah “. Memberi senyuman terbaik untuk Resya dengan wajah di buat seimut mungkin.
“Kamu sudah sarapan belum ?”
“Sarapan apaan, orang yang bakal aku buat sarapan masih terongok di sana “. Bicara pelan.
“Kalau gituh, kamu diam di sini. Jangan nakal, gak boleh banyak ulah !”
Resya diam, benar-benar tidak paham.
“Hah.......!!!” Serasa salah dengar.
“Bentar ya “. Sekali lagi meletakkan sapu tangan di air hangat. Memerasnya dan menempelkan di jempol kaki Resya. “Jangan bergerak !”
Resya mengangguk pelan, masih belum paham, masih terlalu terpana dengan senyum dan wajah Kristo yang di buat imut. Hatinya bergetar, sekaligus tersihir pesona ketampanan Kristo.
Mata Resya hanya mengikuti langkah Kristo, berlalu meninggalkan dirinya dan masuk ke dalam dapur. Resya tersenyum, masih terpana pada kelembutan Kristo, masih belum mengerti arti semuanya.
Beberapa detik berlalu, memasuki menit yang baru. Resya menunggu di ruang tamunya sendiri, jempol kaki sudah tidak sakit lagi.
“Astaga naga “. Gumam pelan yang mengagetkan jantungnya.
“Itu Pak Kristo ngapain coba di dapur aku ?”
Secepat yang dia bisa, Resya berdiri dan melangkah ke dapur. Kristo membelakanginya, sibuk membersihkan dan menyiangi sayur bayam yang dia belia tadi.
__ADS_1
“Bapak ngapain ?” Heran.
“Kamu kan sudah di bilangin jangan bergerak, jangan nakal !” Langsung memeluk Resya, spontan saja karena terlalu khawatir.
“Kamu itu, suka banget buat aku khawatir “.
“Pak “. Resya terlalu bingung untuk mengucapkan kata apa. Ritme jantungnya sedang berpacu keras, terlalu ribut hingga terdengar di telinganya sendiri.
“Kamu itu telinga gak dengar apa yang aku bilang “. Memberi jarak di antara pelukan mereka, memperhatikan Resya lekat-lekat.
“Sa, saya dengar. Tapi, tapi Bapak ngapain coba ?” Terlalu malu untuk menatap mata Kristo.
“Sini “, memegang tangan Resya. Mendudukkan Resya di bangku plastik warna hijau. Bangku yang dulu pernah di dudukinya saat Resya membuatkan mie celor permintaan sang nyonya muda.
“Duduk di sini, gak boleh kemana-mana !” Mewanti-wanti, sudah seperti seorang ibu yang sedang menjaga anaknya.
“Liatin aja aku masak buat kita ! Kamu kalau ada yang pengen gomong ya !” Melanjutkan aktifitas yang tadi terhenti.
“Tapiiiiiiiii ?” Berusaha menolak, perasaannya sedang kacau. Belum paham situasi yang tengah di hadapi saat ini.
“Sudah, gak pake tapi-tapi ! Harus patuh “. Tersenyum menawan.
Dug, dug, dug....sekali lagi, ritme jantung Resya bersuara keras. Hanya sekedar senyum seorang Kristo saja, Resya sudah mendadak jantungan.
“Pak....”, akhirnya mampu menguasi jantungnya.
“Hemmmm “, tangan sibuk bekerja.
“Bapak mau masak sarapan apa ?” Mencoba mengobrol biasa, berusaha menghilangkan suasana yang aneh di hatinya.
“Emmmm, aku lihat kamu punya bayam segar sama telor “. Menunjuk ke masing-masing bahan yang di sebut. “Bawang sama cabai juga ada dan nasi putih ada. Jadi, aku masakin nasi goreng sayur ijo ya ?” Tersenyum menyakinkan.
Aduhhhh, senyum lagi nih Bapak. Dua kali lagi aku di kasih senyum seindah itu, bakal berakhir di spesialis jantung aku, Pak. Membatin sambil memegang dadanya yang berdebar keras.
“Maukan ?” Kristo menyentuh pipi Resya.
__ADS_1