SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 103


__ADS_3

Menunggu


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Dengan langkah berat dan tangan masih menempel di dadanya, Aisakha melangkah keluar dari ruang perawatan Bibi Ros. Sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa, semua kosong, dunianya perlahan hilang. Berubah hitam tanpa warna kebahagiaan.


 


Sekujur tubuhnya lemas, tanpa daya tanpa tenaga, semua sudah berakhir, kira-kira itulah yang tengah di tatap Aisakha untuk masa depannya.


 


Kristo hanya diam tidak berani bersuara, hanya memilih menunggu dan memperhatiakan sang tuan yang tampak sangat kacau. Semua salahku, andai aku bisa mengontrol diri. Pasti tuan tidak akan semarah itu dan nona Nia tidak akan ketakutan pada tuan. Ada rasa sesal di hati Kristo sekarang.


 


Semua ini karena Paman nona Nia. Lelaki tua itu benar-benar tidak punya perasaan. Bagaimana mungkin sikap egoisnya itu dia bilang sayang. Aku tidak percaya ada orang tua sekejam itu pada anaknya. Walaupun tau anaknya menemukan cinta di hati tuan, dia tetap menghasut nona agar menjauhi tuan. Ah, dia bukan manusia. Kristo sibuk memaki kesal pada Paman di dalam hatinya.


 


Kristo melihat Aisakha mulai bergerak, spontan dia memilih jalan terlebih dahulu. Melangkah cepat ke arah lift, menekan dan menunggu lift terbuka. Saat pintu lift terbuka lebar, Kristo mencari sang tuan. "Tuan mana?" Guman Kristo pelan saat tidak menemukan Aisakha berdiri dibelakangnya.


 


Kristo membiarkan pintu lift kembali tertutup, dia melihat ke arah kanan pintu ruang perawatan Bibi Ros dan akhirnya menemukan Aisakha terduduk di kursi panjang tempat tadi dia sempat duduk sendirian.


 


"Tuan". Kristo memanggil Aisakha.


 


Aisakha menatap wajah Kristo, jelas ada bekas merah dari tamparannya tadi. Bahkan sebentuk cairan merah yang berasal dari sudut bibir Kristo, masih bertahan di sana. Sepertinya Kristo tidak mengelap dengan baik darah yang ada di sudut bibirnya.


 


"Minta orang bawa es dan handuk kecil bersih ke sini!' Perintah Aisakha kemudian.


 


Buat apa? Meski tidak paham dengan permintaan sang tuan, tetapi Kristo tepat melaksanakan semua yang diinginkan oleh Aisakha.


 


Selang beberapa lama, datanglah petugas pantry membawa es batu dalam mangkok kecil dan satu lembar handuk kecil bersih. Kristo mengenali wanita yang tadi bertugas membawa menu makan malam keruangan perawatan Bibi.


 


"Tuan sudah datang". Kristo menunjukkan semua benda di tangannya sesuai permintaan Aisakha.


 


"Duduklah". Aisakha menepuk kursi kosong disebelahnya.


 


Kristo patuh, duduk dan tidak membantah.


 


Aisakha mengambil handuk kecil dari tangan Kristo, meletakkan beberapa butir es batu kedalamnya, kemudian mengikat asal handuk tersebut.


 


Setelah di rasa cukup dingin, Aisakha menempelkan handuk berisi potongan es itu ke wajah Kristo, tepat kebagian tempat dia mendaratkan tangannya tadi.

__ADS_1


 


Kristo terkejut, tidak menyangka sang tuan melakukan semua itu untuknya. Rasanya dirinya sekarang menjadi teramat sangat bersalah. "Terima kasih tuan". Ucap Kristo tulus.


 


"Pegang!" Perintah Aisakha. "Kompres terus".


 


"Baik tuan". Jawab Kristo patuh.


 


"Kamu yang salah. Sudah saya suruh diam, tapi masih juga ribut membuka mulutmu. Kamu lihat apa akibatnya?" Tunjuk Aisakha pada handuk kecil berisi es yang masih menempel di wajah Kristo.


 


"Maafkan saya tuan, saya, saya sangat kesal tadi. Saya tidak terima melihat tuan di pojokkan seperti itu". Ucap Kristo kesal.


 


"Ya, saya tau". Jawab Aisakha pelan.


 


"Kenapa tuan hanya diam diperlakukan seperti itu?" Tanya Kristo tidak terima.


 


"Karena Nia menyayangi orang tuanya". Jawab Aisakha sambil menatap lurus kedepan.


 


"Ya, orang tua egois yang sangat ingin melihat anaknya tidak bahagia". Jawab Kristo ketus.


 


 


"Paman hanya berniat melindungi Nia. Keluarga mereka masih trauma dengan apa yang meminpa Nia tiga tahun lalu. Kamu harus bisa mengerti, semua tidaklah semudah membalikkan telapak tangan". Aisakha terlihat menarik nafas dalam.


 


"Sayang, Paman nona Nia dibutakan semua itu tuan. Hingga tidak melihat ketulusan cinta tuan". Kristo sangat menyesal untuk semua situasi yang dihadapi sang tuan.


 


"Masih sakit". Tanya Aisakh sambil menatap bungkusan handuk kecil yang digenggam kuat Kristo.


 


"Tidak tuan, sama sekali tidak sakit". Jawab kristo berbohong.


 


"Maafkan saya, kamu harus merasakan itu". Ucap Aisakha menyesal.


 


"Tuan tidak salah, tuan telah memperingati saya. Tapi saya terlalu terbawa emosi tadi". Kristo masih terus menekan handuk kecil di tangannya ke arah sudut bibirnya.


 


"Tuan, kita pulang sekarang". Ajak Kristo kemudian.


 

__ADS_1


"Kemana?" Aisakha malah balik bertanya.


 


"Kerumah tuan". Jawab Kristo cepat.


 


"Kamu saja" Aisakha pun menolak. "Saya di sini saja, saya masih akan terus menunggu, tidak akan kemana-mana".


 


"Tapi tuan, Paman nona Nia, tadi itu?" Kristo tidak mengerti arti penolakan sang tuan.


 


"Saya telah berjanji pada Nia, tidak akan pernah meninggalkannya, saya akan selalu ada di sisinya. Jadi mana mungkin saya bisa pergi sekarang hanya karena diusir Paman. Saya akan menunggu dan terus menunggu di sini, sampai hati Paman melunak". Jawab Aisakha penuh keyakinan.


 


Tuan, kenapa semua jadi begini? Kristo benar-benar tidak sampai hati mendengar ketulusan sang majikan kepada Nia.


 


***************


 


Sementara itu, Nia hanya hanya mampu memandangi pintu ruangan kamar perawatan Bibi. Menatap kosong ke arah sana, memandang bingung pada pintu yang telah tertutup rapat. Seketika hatinya merasa kosong, ada rasa sakit yang tertinggal di dadanya.


 


"Mana dia?" Tanya Nia putus asa saat mendapati Aisakha tidak lagi ada dalam jangkauan matanya.


 


"Dia sudah pergi". Jawab Paman sambil menuntun Nia, mengajaknya duduk.


 


"Per-pergi?" Tanya Nia bingung pada Paman.


 


"Ya pergi nak, dia lebih memilih pergi dari pada bersamamu". Jawab Paman menyakinkan Nia.


 


Nia mengenggam kuat ujung baju hangatnya, entah kenapa kalimat Paman tadi terasa bagai sayatan sembilu di jantungnya, tepat menusuk ke sudut terdalam jantungnya. Sakit sekali, sehingga membuat Nia ingin berteriak untuk mengambarkan pada dunia, betapa sakit dirinya saat ini.


 


Paman melihat Nia hanya terdiam, aura pedih memenuhi wajahnya. "Tidurlah nak. Hari sudah malam. Biar Paman berjaga menemani Bibimu. Kamu istirahatlah dulu". Ucap Paman pada Nia.


 


Bagai robot yang telah di stel ulang programnya, Nia hanya memilih terus berada dalam sikap diamnya. Dia beranjak naik ke tempat tidur besar yang telah di siapakan di sana, merebahkan dirinya dan menutup wajahnya dengan bantal.


 


Paman melihat Nia sekali lagi, tahu kalau bahu Nia mulai terguncang, tahu kalau di balik bantal yang menutupi wajah keponakannya itu, Nia sedang menitikan air mata. Tetapi Paman hanya membiarkan semua dan memilih kembali kedekat Bibi yang masih terbaring koma.


 


Biarkan saja, aku yakin besok semua sudah kembali normal seperti biasa. Dan Paman memilih melupakan Nia yang terpuruk dalam rasa sakitnya, berganti kearah Bibi, memandangi isteri tercintanya yang masih terlelap dalam tidur panjangnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2