SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 133


__ADS_3

Emosi Aisakha


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Maaf tuan, saya benar-benar lupa menyerahkan hapenya tuan". Kristo telah duduk di salah satu sofa singel di ruang keluarga dekat Aisakha.


γ€€


"Enggak papa, aku cuma penasaran saja. Apa ada pesan atau telepon dari Nia?" Aisakha menikmati jus terong Belanda yang telah di hidangkan Pak Ngah. "Kamu gak mau?" Aisakha mengangkat gelas jusnya.


γ€€


"Terima kasih tuan, saya sudah ngopi tadi".


γ€€


"Sesekali minum jus, jangan kafein terus. Biar sehat". Aisakha masih memegang erat gelas jusnya.


γ€€


"Hehehe, mungkin karena sudah terbiasa tuan". Kristo mengaruk-garuk kepalanya. "Tapi besok-besok akan saya coba tuan".


γ€€


"Saya cuma bilangin saja, kalau kamu enggak nurut ya terserah. Badan, badanmu. Kenapa-napa juga kamu yang merasakan". Aisakha telah menghabiskan setengah gelas jusnya.


γ€€


"Gimana, Nia gak ada menghubungi?" Aisakha kembali kepertanyaan awalnya.


γ€€


"Tidak tuan, tidak ada".


γ€€


Aisakha memandang handphonenya yang telah diletakkan Kristo di atas meja.Β Lagi ngapain dia, kok enggak ada rasa kangen sedikit pun?


γ€€


Benar-benar tidak merindukan aku, kamu sepertinya. Tidak ada niatmu sedikitpun untuk sekedar mengirim pesan padaku? Aisakha tengah menatap warna hitam pada layar handphonenya. Sekarang benda kecil itu telah berada di tangannya.


γ€€


Ya sudah, kalau kamu enggak mau menghubungi aku, biar aku yang menghubungi kamu. Aku rindu banget sama kamu sayang.


γ€€


γ€€


****************


γ€€


"Hape kamu bunyi Ma, cepat angkat !" Pandu menyentuh tangan Alika, isterinya yang sedari tadi asyik bersandar di bahunya.


γ€€


"Itu hape Mama, Pa". Alika menunjuk benda kecil miliknya yang teronggok di atas meja.


γ€€


"Lah, itu hape siapa yang sibuk nyanyi sendiri?" Pandu menatap ke arah handphone yang sedang di cas.


γ€€


Alika pun menyudahi kegiatan bersandarnya, beralih menatap kearah handphone yang di maksud oleh suaminya.


γ€€


"Nia mungkin Pa". Alika berjalan ke arah handphone tersebut.


γ€€


"MAS". Guman Alika membaca tulisan yang tertera di layar.


γ€€


"Siapa Ma?" Pandu tidak mendengar jelas suara Alika.


γ€€


"Mas?" Alika bertanya pada Pandu.


γ€€


"Mas?" Pandu sedang berpikir. "Gawat". Pandu langsung berjalan mendekati Alika. "Tuan Aisakha". Pandu dan Alika melotot berbarengan, mereka sama terkejutnya.


γ€€


"Papa yang angkat !" Cepat Alika menyerahkan handphone Nia kepada Pandu.


γ€€


"Kok Papa, Mama ajalah". Pandu mengembalikan handphone tersebut ke tangan Alika.


γ€€


"Takut....", Alika menatap penuh permohonan pada suaminya.


γ€€


"Sama". Jawab Pandu pelan. "Tapi kalau enggak di angkat, Nia malah kenapa-kenapa nanti". Pandu menatap layar handphone yang masih tabah berbunyi. "Angkat saja Ma, Papa ada di belakang Mama".


γ€€


"Ngapain di belakang Mama?" Alika kesal mendengar pernyataan suaminya tadi.


γ€€

__ADS_1


"Ha-hallo". Agak ragu, banyak takut, walaupun begitu Alika tetap memaksakan diri bersuara.


γ€€


"Alika?" Aisakha mengenali suara penerima teleponnya bukanlah sang kekasih hati.


γ€€


"Iya, saya Alika". Alika melirik kearah Pandu. Seakan-akan berkata dia terkejut Pa. Pandu pun menyemangati Alika, terlihat Pandu sibuk mengerakkan tangannya. Lanjutkan, begitu kira-kira arti gerakan tangan itu.


γ€€


"Kenapa kamu yang angkat, mana Nia?" Aisakha merasa heran.


γ€€


"Ooo..itu". Alika menatap Pandu.


γ€€


"Jujur saja !" Suara pelan Pandu memberi perintah pada Alika.


γ€€


"Apa? Ada apa, mana Nia?" Aisakha mulai tidak sabar.


γ€€


"Begini tuan". Alika menarik nafas dalam. Dia merasa perlu menghirup banyak oksigen sebelum memulai berbicara.


γ€€


"APA?" Nada suara Aisakha mulai meninggi di ujung telepon. Alika panik, hampir saja dia melepas handphone Nia dari genggamannya.


γ€€


"Marah". Ucap Alika setengah berbisik pada Pandu sambil menjauhkan handphone Nia dari telinganya. "Mas aja deh, takut".


γ€€


Dan sekarang handphone Nia sudah berada di tangan Pandu.


γ€€


"Hallo, halloooooo". Aiskaha mulai kesal.


γ€€


"Iya hallo, maaf adik ipar. Alika harus melihat Mama. Jadi hape Nia aku yang pegang sekarang". Pandu pun merangkai kebohongan untuk menyakinkan Aisakha.


γ€€


"Mana Nia?" Aisakha tidak perduli pada kata-kata Pandu barusan.


γ€€


"Nia sedang keluar sebentar". Pandu mulai menciut.Β Menakutkan.


γ€€


γ€€


"Ke cafetaria Rumah Sakit ini". Alika sibuk memperhatikan raut wajah sang suami.


γ€€


"Ngapain?" Aisakha terdengar tidak sabar.


γ€€


"Itu..adik ipar". Pandu menatap bingung pada Alika.


γ€€


"Mas Pandu, jangan sampai aku marah !" Nada ancaman terdengar di ujung telepon.


γ€€


Mati aku....


"Nia janjian tadi. Ketemuan sama seorang ibu di sana". Cepat Pandu menjawab.


γ€€


"Ibu?" Aisakha sedang berpikir.


γ€€


"Kata Nia ibu yang di pernah di tolongnya di Mall". Pandu memberitahu Aisakha.


γ€€


Aisakha geram, wajahnya memerah. Dia tengah menahan emosinya.Β Aku sudah melarangmu menemuinya, kamu keras kepala ternyata. Diam-diam janjian sama ibu itu. Niaaaa, kamu benar-benar membuat aku marah. Apa kamu tidak bisa mengerti, ibu itu punya niat lain sama kamu.


γ€€


"Sudah berapa lama?" Suara Aisakha mendadak berubah dingin, sangat tidak bersahabat.


γ€€


"Lebih kurang, sudah sejam". Bulu kuduk Pandu berdiri, suara Aisakha di ujung telepon benar-bensr terdengar mengerikan di telinganya.


γ€€


Aisakha mematikan telepon secara sepihak, dia benar-benar marah.


γ€€


"Dari sini ke Bunga Jaya berapa lama?" Aisakha berdiri dan di ikuti oleh Kristo.


γ€€

__ADS_1


"Tiga puluh menit tuan". Kristo mencium aroma peperangan.


γ€€


"Jadikan kurang dari tiga puluh menit". Kristo langsung menatap tidak percaya dengan permintaan sang tuan.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


γ€€


"Mama enggak papah". Jawab Mama berbohong pada Nia.


γ€€


"Apa aku ada salah gomong Ma?" Nia tahu kalau Mama sedang berbohong padanya.Β Sebenarnya Mama ini kenapa ya?


γ€€


"Ooh, enggak...sama sekali. Nia enggak ada salah gomong apa-apa sama Mama". Mama mengerakkan tangannya sebagai wujud kata tidaknya barusan.


γ€€


"Maaf ya Ma, kalau Nia buat Mama enggak senang".


γ€€


"Hey..heyy...kan sudah Mama bilang. Enggak ada apa-apa". Mama menepuk-nepuk punggung tangan kanan Nia pelan.


γ€€


"Mama jujur?" Nia masih tidak percaya.


γ€€


"Huuuffffttttt". Mama tengah menarik nafas panjang.Β Kamu mau Mama jujur?


Baiklah, kamu yang minta ya. Mama akan jujur.


γ€€


"Sebenarnya memang ada yang menganggu pikiran Mama".


γ€€


"Apa Ma, Mama cerita sama aku. Mana tahu aku bisa bantu". Nia terdengar sangat peduli.


γ€€


"Iya, Mama yakin Nia pasti bisa bantu". Sebentuk senyum pengharapan di tampilkan Mama agar Nia mengiba.


γ€€


"Mama mau kenalin Nia sama anak lelaki Mama". Tanpa pikir-pikir, Mama langsung pada inti perasaan yang diharapakannya.


γ€€


"Hah?" Mulut Nia terbuka, dia merasa tidak percaya.


γ€€


"Iya, Mama mau kenalin kamu sama anak Mama". Mama begitu percaya diri. "Kamu ingat Mama pernah bilang kalau Mama ini punya seorang anak lelaki. Anak lelaki semata wayang?"


γ€€


Cepat Nia menutup mulutnya kembali dan mengangguk pelan.


Perasaan aku jadi enggak enak. Jangan-jangan, semua kecurigaan Mas terhadap Mama ini benar. Mama baik sama aku memang ada maunya. Trus aku harus gimana?


γ€€


"Mama sayang sama kamu Nia. Kamu ini gadis baik dan santun, kamu juga cantik, cerdas dan berpendidikan. Pokonya kamu menantu idaman Mama banget". Mama masih meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kanan Nia.


γ€€


Nia tidak tahu harus mengucapkan kata apa. Dia hanya diam memperhatikan tangan Mama.


γ€€


"Anak Mama lelaki baik Nia. Mama jaminannya". Mama melihat Nia tidak bersuara, masih kaget tepatnya. "Usianya masuk tiga dua, usia idealkan buat jadi suami kamu". Senyum merekah terkembang di wajah Mama. "Dia lelaki bertanggung jawab, tampanloh nak. Percaya sama Mama, kamu sangat cocok sama dia!"


γ€€


Aku harus apa ?


Aku harus gimana ?


Aku jawab apa ?


Aku....aku...


Aduhhhhhh, kenapa jadi begini sih?


γ€€


"Niaaaa, Mama akan melimpahkanmu kasih sayang seorang ibu. Jujur sejak awal kita ketemu, waktu kamu nolong Mama di Mall, Mama langsung suka sama kamu nak. Kamu ini beda dari gadis-gadis pada umumnya, kamu baik dan santun, punya kelebihan tapi tetap bersahaja. Gadis baik seperti kamu inilah yang sangat cocok mendampingi anak semata wayang Mama". Mama masih tabah melancarkan aksinya merayu Nia


γ€€


"Ma". Nia bingung mau menjawab apa.


γ€€


"Kamu tinggal bilang iya nak!" Mama menatap Mata Nia.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2