SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 131


__ADS_3

Perjalanan Pulang


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Mobil melaju pasti, tidak terlalu ngebut atau pun terlalu santai. Kristo sangat pas memperhitungan kecepatan terbaik untuk membelah lalu lintas Kota Bengkulu sore ini yang jalan rayanya cukup ramai, semua kendaraan terlihat sibuk memastikan diri bisa mendahului kendaraan lainnya. Kristo tidak ingin terpancing, keselamatan sang tuan melebihi segalanya.


γ€€


Sesekali Kristo mencuri pandang, berusaha melirik dari sisi atas matanya melalui kaca kecil yang tepat berada di atas setir yang tengah di genggamnya kuat. Kristo ingin tahu bagaimana kondisi sang tuan di kursi belakang atau lebih tepatnya penasaran. Tentu saja Kristo mendadak menjadi penasaran karena sore ini tidak seperti biasanya sang tuan terlihat sangat pendiam. Sedari awal Aisakha duduk di bangku belakang, sepertinya Aisakha hanya tertarik melihat ke sisi kanan lengannya. Memandang keluar jendela melihat pepohonan hingga gedung-gedung bertingkat dan rumah-rumah penduduk berlalu meninggalkan dirinya jauh di belakang.


γ€€


Apa yang menganggu pikiran tuan ya?


apa wanita itu? Kalau itu tuan tidak perlu khawatir. Julia tidak akan pernah menganggu kehidupan tuan lagi. Aku sudah membereskannya.


γ€€


"Tuan?" Masih berusaha melirik sekilas sang tuan dari kaca kecil di atas setir mobil. Aisakha membalas tatapan itu, tanpa sengaja matanya pun melihat ke arah kaca kecil tempat Kristo memperhatikannya.


γ€€


"Aku baik-baik saja". Sepertinya Aisakha tahu apa arti tatapan mata sekretarisnya itu.


γ€€


"Julia sudah saya bereskan, tuan jangan memikirkan dia lagi". Kristo masih mempertahankan laju mobil seperti di awal.


γ€€


"Terima kasih". Jawaban singkat yang diucapkan Aisakha sambil kembali memperhatikan pemandangan di luar jendela.


γ€€


"Sudah tugas saya tuan".


γ€€


"Beberapa hari tidak ketemu Mama, bagaimana kegiatan Mama?" Aisakha melihat sekilas kearah kaca kecil yang tadi di pakai Kristo untuk melihat dirinya.


γ€€


"Ibunya tuan baik. Beberapa kali melakukan aktivitas di luar rumah. Termasuk ke Mall tiga hari yang lalu".


γ€€


"Ke Mall, dimana, sama siapa?"


γ€€


"Sama sopir tuan, ibu tuan berbelanja barang kebutuhan harian di Mall kawasan Pantai Panjang".


γ€€


"Kenapa enggak di kawal?" Aisakha terdengar gusar. "Kasihankan Mama kepayahan bawa barang sendiri".

__ADS_1


γ€€


"Dari laporan kemaren, ada yang bantuin ibunya tuan kok, beliau gak sendiri".


γ€€


"Ooo, mama minta bantuan pelayan Mallnya?"


γ€€


"Sepertinya bukan tuan". Kristo mengeleng pelan. "Gadis muda, cantik".


γ€€


"Siapa?" Aisakha penasaran.


γ€€


"Identitasnya tidak di ketahui tuan".


γ€€


"Anak temen Mama lagi gak". Sekarang Aisakha menjadi malas. Ingatan tentang Julia kembali menghiasi pelupuk matanya.


γ€€


"Kayaknya bukan tuan. Soalnya pengawal benar-benar gak kenal".


γ€€


"Semoga enggak ada kejadian Julia baru". Ucap Aisakha pelan. "Trus gimana kondisk bibi Ros siang ini?"


γ€€


γ€€


"Nia masih di sana?"


γ€€


"Masih tuan, nona bersama sepupunya dan kakak iparnya masih di sana". Kristo menjawan dengan lancar. "Hanya paman nona saya yang pulang tuan, mengambil baju ganti yang baru".


γ€€


"Sekarang Nia lagi ngapain?"


γ€€


"Laporan terakhir masih di kamar rawatan bibinya nona, tuan". Kristo melirik ke arah kanan, memastikan situasi aman karena dia harus membelokkan mobil ke sisi kanan jalan. "Tuan ingin pengawal masuk dan melihat aktivitas nona sedang apa di dalam kamar rawatan?"


γ€€


γ€€


"Tidak usah, biarkan saja. Biarkan dia bersama bibinya. Jangan di ganggu!"


γ€€

__ADS_1


γ€€


***************


γ€€


γ€€


"Jadi kamu semasa sekolah bisa bandel juga ya nak, hahahaha". Mama tertawa geli mendengar cerita Nia. Cerita tentang masa Nia bersekolah di SMAnya dulu. Masa dimana dia pernah dengan sengaja menghasut tiga orang temannya agar tidak ikut upacara bendera.


γ€€


Sepertinya si ibu ini begitu menikmati waktu santai bersama Nia, dia begitu asyik menyimak semua cerita Nia yang merupakan jawaban dari segala keingintahuannya tentang seorang Syania. Lihatlah, bagaimana si ibu ini bisa tertawa lepas hanya dengan mendengar sedikit kenakalan Nia semasa SMA. Mama benar-benar tulus menyayangi Nia, itu sudah pasti. Semua mata yang memandang bisa langsung tahu, karena cara Mama memperlakukan Nia layaknya anak sendiri.


γ€€


"Maaaaa", Nia sedikit protes. "Itu bukan bandel, itu namanya hanya menyalurkan kecerdasan terpendam". Nia senyum-senyum sendiri.


γ€€


"Iya, iya...dengan menyuruh temanmu pura-pura sakit demi nggak ikut upacara bendera. Hahaha, cukup cerdas sih". Mama terlihat sangat santai bercerita bersama Nia.


γ€€


"Tapi hanya satu kali itu loh ma, setelah itu aku tobat kok". Nia berusaha menyakinkan Mama.


γ€€


"Oyaaaaaa?" Mama tidak percaya.


γ€€


"Iya ma, karena setelah itu akhirnya kami ketahuan sama guru piket lagi santai-santai di UKS. Hehehe, malu banget ma". Nia mengaruk kepalanya, padahal enggak gatalloh.


γ€€


Cantik, santun, cerdas, penyayang dan periang. Perfect banget buat mendampingi anakku.


Tapi gimana ya caranya, aku harus pelan-pelan mempengaruhi dia. Iya, pelan-pelan...


Dengan cara lembut tapi pasti, agar dia mau kuperkenalkan sama anak semata wayangku.


γ€€


"Nia, boleh Mama bertanya?" Mama pun berniat memulai usahanya untuk bisa menjadikan Nia sebagai menantu idamannya. Untuk urusan ini, jangan di tanya seberapa bersemangatnya Mama.


γ€€


"Boleh dong ma, silahkan. Mama mau tanya apa". Nia menyudahi kegiatan mengunyah pempek kapal selamnya dan beralih fokus ke Mama.Β Perasaan kok mama kayak serius gituh yah?


γ€€


"Lelaki spesialmu itu, seberapa serius hubunganmu dengannya?"


γ€€


Deggggggggg...Nia terdiam mendapati pertanyaan tersebut.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2